
...🕯️🕯️🕯️...
Sreet...
Syifa menarik udara yang ada di sekitarnya setelah ia membuka jendela. Udara segar menyapa kedua lubang hidungnya merasakan sensasi yang begitu sangat menyegarkan. Sangat indah jika disambut dengan sebuah senyuman.
Sepertinya belajar untuk tersenyum kemarin membuatnya jadi terbiasa hingga membuat Syifa ingin tersenyum setiap detik. Hal-hal yang indah selalu terbayangkan bahkan sepanjang malam ia selalu mengharapkan bisa bangun pagi-pagi dan kembali memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Sama seperti bias, Syifa melangkah turun dari anakan tangga. Memeluk mbok Jati saat ia berhasil menemukannya di meja makan.
"Oh iya mbok, Mama dimana?" tanya Syifa yang masih memeluk mbok Jati.
"Mamanya baru saja keluar."
"Keluar?"
"Iya, non. Nyonya Rahmi sudah keluar."
"Pergi?"
"Belum baru saja."
Syifa yang masih bertanya tiba-tiba itu tak berselang lama bisa mendengar suara mesin mobil yang terdengar dari luar membuat Syifa dengan cepat kembali menatap kearah sosok mbok Jati yang ikut menatapnya.
"Itu suara mobil Mama, kan mbok."
Syifa berlari sebelum sempat mbok Jati menjawabnya.
"Mama!" teriak Syifa membuat Rahmi yang baru saja hendak memutar setir mobilnya itu terhentikan niatnya.
Ia menatap bingung kepada sosok Syifa yang berlari menghampirinya.
"Mama udah mau kerja? Pergi ke kantor?" tanyanya sambil menundukkan sedikit tubuhnya menatap sosok Mamanya yang berada di dalam sana.
"Iya kenapa? Syifa mau ikut? Mau nebeng?"
"Enggak."
"Terus?"
Syifa tersenyum kecil.
"Lain kali kalau mau pergi ke kantor panggil Syifa dulu!"
"Loh, emangnya kenapa?"
Syifa tersenyum kecil lalu tanpa Rahmi duga Syifa mengecup pipi Mamanya itu membuat kedua mata
Rahmi membulat. Lagi fan lagi Syifa mengecupinya.
"Mama enggak boleh pergi kalau belum Syifa cium! Nah, kalau seperti ini, kan bagus. Syifa bisa senang kalau udah cium Mama sebelum Mama pergi ke kantor jadi Syifa juga senang kalau di sekolah."
"Syifa bisa belajar dengan tenang," sambungnya lalu ia melangkah pergi meninggalkan Rahmi yang masih berada di dalam mobilnya dengan wajah yang tercengang tidak menyangka.
Ia pikir Syifa hanya akan berubah setelah pagi menjelang namun, rupanya tidak. Gadis itu berubah, benar-benar sangat berubah menjadi gadis yang manja.
Rahmi tersenyum. Tidak apa-apa. Sepertinya perubahan Syifa itu membuatnya jauh lebih bahagia dari sebelumnya.
...🕯️🕯️🕯️...
"Ini bekal Syifa?"
"Iya non, ini bekalnya."
"Boleh tolong rotinya ditambahkan!"
"Iya, Syifa suka roti yang sudah mbok Jati sentuh karena rasanya tambah enak."
Mendengar hal itu membuat mbok Jati tersenyum kecil. Ia kembali membuka bekal dan menambahkan beberapa roti ke dalam bekal itu.
"Oh iya non, bekal non yang kemarin itu di mana? Mbok Jati cari-cariin, kok nggak ada?"
Sontak kedua mata Syifa membulat. Ia lupa jika bekalnya itu masih berada di wanita tua yang pernah ia berikan roti.
"Oh, Syifa lupa."
"Kok bisa lupa, sih non?"
Syifa tertawa cengengesan lalu berujar, "Ya, udah nanti Syifa ambil."
Syifa memasukkan bekal itu ke dalam tasnya lalu meraih tangan keriput mbok Jati dan mengecup punggung tangannya dan melangkah keluar meninggalkan mbok Jati yang tersenyum melihat sikap anak majikannya itu.
Saat setiap Syifa menguncup punggung tangannya membuat dia merasa jika ia kembali memiliki anak karena biasanya hanya anaknya yang selalu melakukan hal itu kepadanya.
Hal yang selalu Syifa lakukan kemarin kini bertekad untuk ia lakukan kembali. Menemui wanita tua itu dan memberikannya bekal berisi beberapa lapisan roti dengan selai nanas di sana.
Kali ini roti yang ia berikan jauh lebih banyak dan ini akan cukup untuk mengganjal perut wanita tua buta itu agar tidak kelaparan sepanjang hari.
Dan benar saja, setibanya ia di sana Syifa bisa melihat wanita tua buta yang telah menjulurkan telapak tangannya berusaha meminta uang kepada pejalan kaki yang lewat melintasinya. Dari sini juga ia bisa melihat bekalnya yang telah kosong itu disengaja di simpang di depannya.
Sebelum meletakkan bekal berisi roti itu ke karpet hitam yang diduduki oleh wanita tua buta itu, Syifa berjalan pelan-pelan seakan-akan ia ingin mencuri saja.
Setibanya ia meraih bekal kosong miliknya dan meletakkan bekal penuh berisi roti di depan wanita tua buta.
"Pagi ini kamu sudah datang?" tanya wanita tua buta itu membuat gerakan tangan Syifa yang memasukkan bekal kosongnya dengan pelan ke dalam tasnya pun terhenti.
Ia pikir wanita tua itu tidak bisa melihatnya karena wanita tua itu buta namun, rupanya pendengaran wanita tua buta itu begitu sangat tajam sehingga bisa mendengar suara pergerakan yang terjadi di hadapannya.
Apalagi saat ia meletakkan bekal berisi roti itu ke atas karpet hitam miliknya.
"Syifa pikir Nenek tidak tidak bisa mengetahui keberadaan Syifa kalau Syifa ada di depan Nenek."
"Tentu saja Nenek tau karena Nenek mendengarnya."
Wanita tua itu meraba bekal dan membukanya lagi. Menghirup dalam-dalam aroma roti dengan selain nanas di sana.
"Masih selain nanas yang kamu pakai?"
"Tentu saja. Syifa suka nanas," jawabnya.
"Kalau begitu Syifa pergi dulu, besok Syifa ke sini lagi," ujarnya lalu melangkah pergi meninggalkan wanita tua buta itu yang terlihat tersenyum merabah roti dengan selai nanas di dalamnya bekal.
Ini pertama kalinya ada sosok wanita yang memberikannya makanan setiap pagi. Walaupun baru terjadi dua hari, tetapi rasanya ia sangat bahagia. Seakan mendapatkan sosok malaikat penolong yang menyelamatkan perutnya dari kelaparan.
Entah siapa gadis itu. Ia hanya mengenali nama, suara dan juga aroma makanan yang selalu ia berikan kepadanya.
Tak pernah terjadi sebelumnya kedatangan orang baik dalam hidupnya. Apakah orang baik itu datang karena dikirim oleh Tuhan untuk membantunya agar terbebas dari kelaparan? Mungkin saja dia bukanlah manusia tapi malaikat, malaikat penolong.
Gadis yang telah memberikannya roti dengan selai nanas itu adalah hal yang paling terindah baginya. Tak ada duanya kebaikan gadis yang telah dua kali memberikan senyum baginya hingga akhirnya perutnya tidak lagi kelaparan walaupun hanya diberikan sebuah roti.
Namun kali ini sepertinya gadis baik bak malaikat penolong itu meletakkan dua kali lipat banyaknya dari roti yang ia berikan kemarin. Ia bisa merasakannya dari berat pada bekal yang ia pegang.
Menggigit roti satu persatu dengan selai nanas yang lebih banyak. Merasakan sensasi selai nanas yang begitu manis saat menyentuh lidah.
Makan orang kaya, itu yang selalu ada dalam benaknya setiap memakan pemberian orang tapi kali ini bukan rasa makanan orang kaya yang ia rasakan melainkan makanan dari sosok malaikat.
...🕯️🕯️🕯️...