Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-28



...🕯️🕯️🕯️...


Bukan Glen yang datang tapi Lena padahal bukan Lena yang Syifa harapkan datang.


Lena dibuat tidak menyangka setelah melihat sosok Syifa yang kini berdiri seakan siap untuk menyambut kedatangannya tapi sepertinya bukan, bukan kedatangannya yang sedang ia sambut melainkan tentu saja ia mengharapkan Glen yang sabut tapi yang datang malah dirinya.


Dari sini ia bisa melihat lilin-lilin yang telah nyaris habis satu persatu dan bahkan lilin banyak yang telah mati. Sosok Syifa masih berdiri di sana dengan kedua matanya yang kini telah meneteskan air mata.


Penantiannya setelah berjam-jam ini telah sia-sia. Pengorbanan dan semuanya juga sia-sia.


"Syifa," bisiknya berusaha untuk tidak membuat Syifa walau ia memandangi Syifa dengan wajah sedihnya.


Lena melangkah mendekati Syifa. Menyentuh pundaknya membuat isakan tangis kecil Syifa berhasil lolos dari bibirnya. Rasanya malu, sangat-sangat malu.


"Gue minta maaf."


"Kenapa harus minta maaf?"


"Karena gue merasa bersalah."


"Kenapa?"


"Karena gue nggak langsung datang ke sini buat ngasih tau lo kalau gue tadi ngeliat sesuatu."


"Sebenarnya itu tadi gue liat Glen. Gue liat dia makan malam dan ngerayain hari ulang tahunnya sama Kirana dan kedua orang tua mereka," lanjutnya.


Rasanya begitu sangat sesak. Dadanya sangat sakit seakan ada benda tajamnya begitu sadis melukainya. Kedua pundaknya juga seakan ditekan dengan beban berat membuatnya begitu lemas hingga berhasil terduduk di kursi.


"Gue tadi liat dan gue udah kasih tahu lo. Gue udah kirim pesan sama lo tapi kayaknya lo nggak lihat deh chat dari gue."


Lena meraih ponsel milik Syifa menekannya hingga baru ia tau jika baterai sahabatnya itu telah habis.


"Gue pikir kuota lo habis tapi ternyata enggak. Seharusnya itu lu itu bawa charger biar bisa ponsel lo ini dicas."


"Kalau kayak gini kan lo nggak bisa ngelihat chat yang gue kirim tadi jadi lu seharusnya nggak usah nunggu Glen sampai jam dua malam kayak gini."


Tak ada jawaban dari Syifa. Ia nampak terdiam.


"Tahu nggak, sih Syifa. Di mata gue Glen itu senang-senangnya di sana makan malam dan ngerayain hari ulang tahunnya sama kedua orang tua dan Kinara terus sama kedua orangtuanya juga."


"Enak-enakan dia sana makan enak dan bahkan dia nggak sama sekali kirim pesan buat lo dan nggak ngebiarin lo nunggu kayak gini."


Syifa hanya terdiam, tak tau harus mengatakan apa sekarang.


"Syifa, lu nggak apa-apa, kan?"


Lena menyentuh pundak Syifa namun, dengan cepat Syifa menangkis tangan sahabatnya itu.


"Syifa nggak apa-apa, kok."


"Pergi sekarang!" suruhnya.


"Terus gimana sama lo?"


"Nggak usah peduliin Syifa! Pergi sekarang!"


"Tapi gue nggak mungkin ninggalin lo sen-"


"Pergi!!!" teriaknya yang begitu melengking berhasil membuat sahabatnya itu tersentak kaget.


Lena terdiam sejenak lalu perlahan ia menganggukkan kepalanya lalu beranjak pergi. Ia melangkahkan kakinya dengan pelan. Jujur saja rasanya ia begitu sangat berat. Ia tidak tega meninggalkan sahabatnya itu dalam kondisi seperti ini.


"Dasar cowok brengsek," umpatnya dalam hati.


Bagaimana bisa dia bersenang-senang dengan sepupunya itu sementara mengabaikan janjinya kepada Syifa yang setengah mati menunggu Glen datang di saat Syifa berniat untuk memberikan kejutan ulang tahun kepada Glen tapi pria itu malah tidak datang.


"Aaaaaa!!!"


Bruak!!!


Prak!!!


Suara teriakan Syifa terdengar membuat Lena menghentikan langkahnya lalu dengan cepat menoleh menatap ke arah sosok Syifa yang berteriak dengan kencang.


Dari sini juga ia bisa melihat kue ulang tahun yang bertingkat berwarna hitam itu telah terhempas ke lantai. Semuanya berantakan.


Syifa kembali berteriak sambil menarik kain hitam yang menjadi alas meja yang berhasil menghamburkan barang-barang yang ada di atasnya. Wadah tempat lilin juga berhamburan di lantai.


Lilin-lilin mati begitu saja disusul Syifa yang masih berteriak sambil menarik kuat rambutnya dengan sangat keras menyuarakan rasa kemarahannya dengan kekecewaannya.


"Aaaaa!!!"


Syifa berlari lalu menarik dengan keras lampu-lampu berwarna putih yang telah dirancang oleh Syifa. Dengan keras pula Syifa menarik karpet berwarna merah itu dan berteriak dengan keras sambil mengacak-acak semuanya dengan kemarahannya.


"Aaaaaah!!!" teriaknya lagi dan kini kedua matanya telah menangis.


Ia memukul-mukul dadanya dengan sangat keras yang terasa sangat sesak. Dia menjambak kembali rambutnya dengan keras mengusap kedua pipinya dengan benar-benar erat membuat kulit wajah menjadi memerah.


Tak hanya itu ia juga dengan keras memukul


kembali dadanya menghasilkan suara yang keras membuat Lena dengan cepat berlari berusaha mencegah dan menghentikan teriakan serta apapun dilakukan oleh Syifa yang menyakiti dirinya sendiri.


"Syifa! Udah!"


Syifa berteriak mendorong Lena agar Lena menjauhinya.


"Ah, lo itu kenapa, sih pakai teriak segala kayak gini?"