Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-31



...🕯️🕯️🕯️...


"Syifa, Syifa gue minta maaf."


Syifa terdiam, tak merespon ujar Glen.


"Syifa, gue minta maaf karena nggak bisa datang-"


"Karena Glen lebih mentingin buat datang dan makan malah bahkan ngerayain hari ulang tahun Glen sama Kinara," potong Syifa membuat Glen terdiam dengan wajahnya yang tidak menyangka.


Ia tidak tau mengapa Syifa bisa mengetahui jika semalam ia makan malam bersama dengan Kinara beserta kedua orang tuanya itu.


"Jadi Kinara itu lebih penting daripada Syifa?"


"Syifa, bukan kayak gitu."


"Terus apa?"


"Di sana bukan hanya ada si Kinara tapi ada Mama sama Papa gue juga dan orang tua Kinara juga datang. Lo tau, kan kalau Mama gue saudaraan sama Mamanya Kinara jadi wajar kalau Kinara juga ada."


"Terus gimana sama Syifa? Jam dua malam! Jam dua malam Syifa nunggu. Sampai Jam dua malam!" tegasnya sambil mengangkat kedua jarinya dihadapan di kedua mata Glen.


"Jam dua malam tapi Glen nggak datang. Glen tau nggak, sih gimana pengorbanan dan perjuangan Syifa buat bikin acara kejutan ulang taun buat Glen."


"Kejutan ulang tahun?" tatap Glen yang bingung.


Syifa tersenyum pedih sambil menahan kedua matanya agar tidak menangis. Ia menatap ke arah lain berusaha untuk menolak untuk menatap wajah Glen. Rasanya ia sangat malu setelah mengatakan hal ini.


"Iya, Syifa mau kasih kejutan buat Glen. Di hari ulang tahun Glen."


"Syifa udah siapin kue ulang taun, lampu, karpet panjang, lilin bahkan Syifa udah nyewa restoran cuman buat ngerayain ulang taun Glen," kesalnya yang kemudian memukul dada Glen yang sedikit melangkah mundur ke belakang.


"Tapi apa? Nyatanya Glen nggak datang!!!" teriaknya.


"Bahkan Syifa udah datang ke salon buat ngerapin rambut Syifa, udah pakai make up gak jelas biar Syifa kelihatan cantik di hadapan Glen, pakai gaun hitam dan itu semua cuman buat Glen tapi Glen malah-"


"Gue minta maaf-" potongnya yang kemudian berusaha untuk menggenggam jemari tangan Syifa namun, dengan cepat Syifa menghempasnya.


"Syifa, maaf soalnya gue juga nggak tau kalau Mama sama Papa itu mau ngerayain hari ulang tahun gue di restoran."


"Dan gue gue juga enggak mungkin ninggalin acara ulang taun dan makan malam di restoran karena di situ ada Mama sama Papa," lanjutnya lagi.


"Terus Syifa gimana? Jam dua! Sampai jam dua malam Syifa nunggu. Beberapa menit aja orang nunggu itu capeknya minta ampun gimana sama Syifa yang udah nunggu Glen sampai berjam-jam?"


"Ta-ta-pi Glen enggak datang. Tau enggak? Glen pikir Syifa enggak sedih kalau kayak gini?"


"Sebenarnya pacar Glen itu siapa, sih? Kinara atau Syifa?"


"Kenapa seakan-akan Kinara itu adalah pacar Glen sementara Syifa nggak punya hubungan apa-apa sama Glen."


"Sebenarnya pacar Glen itu siapa, sih? Syifa atau Kinara?!! Kinara atau Syifaaaaa!!!" teriaknya lalu kembali memukul dada Glen yang hanya mampu memenjamkan kedua matanya dengan erat.


"Sumpah gue minta maaf. Gue minta maaf banget sama lo. Gue minta maaf."


Syifa menggelengkan kepalanya. Kedua matanya kini telah meneteskan air mata. Rasanya ia sangat malu saat harus menangis di hadapan Glen tapi rasa sakitnya itu tak bisa lagi ditahan. Hanya dengan sebuah marah-marah saja serta air mata yang mengalir menggambarkan bagaimana kesedihannya.


"Syifa beneran gue minta maaf banget. Gue nggak bermaksud buat nyakitin lo. Gue sayang sama lo."


"Kalau Glen sayang sama Syifa, Glen harusnya bisa datang buat Syifa," ujar Syifa.


"Syifa, udah dengerin gue! Gue nggak bisa datang karena gue harus makan malam sama keluarga-"


"Enggak usah, enggak usah ngomong-ngomong bawa keluarga! Bilang aja makan malam sama si Kinara."


Glen mendecapkan bibirnya dengan kesal. Bagaimana lagi ia harus menjelaskan semuanya kepada Syifa.


"Syifa, Kinara itu datang karena Papanya itu saudara sama Papa gue jadi tentu dia datang. Please, maafin gue."


Glen menyentuh jemari tangan Syifa berusaha untuk membujuk Syifam Syifa berusaha untuk menghempasnya namun, kekuatan Glen yang lebih kuat ia tak mampu melepas pegangan Glen.


"Gue janji gue nggak bakalan ngulangin lagi."


Syifa menarik tangannya dengan keras sehingga berhasil membuat pegangan tangan Glen terlepas.


"Tenang aja!"


Ujar itu membuat Glen tersenyum.


"Syifa bisa ngerti tapi Syifa nggak bakalan bisa maafin Glen tapi tenang aja! Syifa nggak bakalan putusin Glen," ujarnya lalu melangkah pergi.


"Syifa! Syifa mau kemana? Tunggu-"


"Udahlah Glen! Ngapain lagi, sih berusaha buat ngebujuk Syifa?"


Suara seorang wanita berhasil membuat Glen menoleh menatap sosok Lena yang melangkah mendekatinya.


"Masih untung Syifa nggak mau putusin lo padahal kalau gue jadi Syifa, gue bakalan putusin lo."


"Lo pinter ngomong kayak gitu karena bukan lo yang ngerasain."


"Aduh, enak banget, sih ngomongnya. Udah buat kesalahan terus seenaknya minta maaf. Gue heran, deh sama si Syifa, kok masih mau aja, ya maafin lo padahal lo itu udah berkali-kali, loh dibuat Syifa sakit hati sama kelakuan lo."


"Lagian lo kenapa, sih selalu banget Kinara dan memper utamakan Kinara-"


"Eh, lo jaga omongan lu, ya! Gue enggak pernah memperuatamakan Kinara," potong Glen membuat Lena tersenyum sinis.


"Aduh, orang buta aja bisa tau, tuh kalau lo itu lebih perhatian sama Kinara daripada sama Syifa."


"Heh, lo enggak usah ngomong, deh karena lo itu kayak berusaha buat ngomporin Syifa."


"Gue enggak ngemporin, tuh. Gue cuma bicara tentang fakta. Fakta yang terjadi kalau emang lo itu lebih-"


"Udah! Udah! udah! Lu enggak usah ikut campur!"


"Ikut campur? Gue enggak berusaha buat ikut campur, sih karena sebenarnya gue belum terlibat dalam hal ini. Lu tau enggak, sih Syifa itu emang sayang banget sama lo."


"Dia bela-belain nyewa restoran, dandan ke salon dan bahkan ngeluarin banyak uang buat adain acara ulang taun lo tapi hasilnya apa? Nol, kosong enggak ada apa-apa, tuh."


"Tapi seharusnya, sih lo itu ngehargain perjuangan Syifa!"


"Jadi maksud lo gue enggak ngehargain Syifa?" tanya Glen dengan wajah bosannya meladeni Lena.


"Gue nggak bilang gitu, sih. Cuman lo pikir, lah berapa jam Syifa nunggu di sana dan bahkan dia nggak pernah pindah dari tempat duduknya cuman karena dia ngarepin lo datang."


"Tapi lo malah nggak datang. Oh iya gue ngeliat lo semalam sama si Kinara yang lagi makan malam terus ngadain hari ulang taun sampai lupa sama Syifa.


Sontak kedua mata Glen membulat. Ia menggerakkan kepalanya menatap ke arah Lena yang terlihat tersenyum di sana.


"Jadi lo-" Tunjuknya.


"Iya, gue ngeliat lo di restoran. Tuhan ternyata udah buat skenario yang hebat, ya. Di waktu yang sama gue bisa lihat lo makan malam sama Kinara dan keluarga lu juga."


"Jadi lu yang kasih tau Syifa?"


"Iya kenapa? Lo seharusnya berterima kasihlah sama gue karena kalau bukan gue yang datang ke restoran dan ngasih tau Syifa mungkin Syifa bakalan nunggu bahkan sampai sekarang dia bakalan nunggu lo datang ke restoran."


"Oh iya, ngomong-ngomong lu kayaknya enggak perlu banget, deh minta maaf sama Syifa. Apalagi sih lu selalu-"


"Len, lo nggak usah nambah-nambah masalah mulu!"


"Gue nggak nambah masalah. Emang lo yang punya masalah. Udahlah Glen kalau lu punya hati seharusnya setelah acara ulang tahun dan makan malam bersama keluarga lu itu harusnya lo datang ke restoran buat nemuin Syifa."


"Tapi udah larut malam. Gue pikir-"


"Lo pikir apa? Syifa mau langsung pulang gitu aja? Syifa nunggu sampai jam dua malam. Lo bayangin nggak, tuh bagaimana rasanya menunggu sampai berjam-jam."


"Pikir, dong! Pakai otak! Yang pacarnya siapa yang diperhatiin siapa," lanjutnya di akhir kalimat lalu ia melangkah pergi meninggalkan Glen yang kini terdiam.


Apakah ia memang seburuk itu?


...🕯️🕯️🕯️...