
...🕯️🕯️🕯️...
Lena tertawa begitu lepas tepat dihadapan Syifa yang menggelengkan kepalanya setelah mendengarkan cerita candaan Lena. Ia meletakkan minuman dingin rasa jeruk itu ke atas meja dan menatap serius ke arah Syifa.
"Beneran, deh Syifa, gue nggak nyangka banget kalau hari ini lo bakalan ngerayain hari ulang tahun gue. Apalagi bukan cuman lo aja yang ngerayain hari ulang tahun gue tapi semua teman-teman sekelas juga ikutan ngerayain hari ulang tahun gue."
"Sekali lagi gue mau ngucapin kata makasih ke lo. Makasih, ya Syifa kalau bukan lo pasti ulang tahun gue nggak ada yang ngerayain."
Syifa mengangguk ia menyentuh punggung tangan Lena dengan lembut.
"Udah, Lena nggak usah ngomong makasih terus! Ini kan udah kewajiban Syifa buat ngerayain hari ulang tahun Lena. Kita kan udah sahabatan dari kecil jadi udah sepatutnya Syifa ngerayain hari ulang tahun Lena."
Lena menghembuskan nafas panjang dengan diiringi senyum yang begitu sangat tulus menatap Syifa yang masih menyentuh punggung tangannya. Jujur saja Lena tak menyangka jika ia bisa memiliki sahabat yang sangat baik seperti Syifa.
"Oh iya satu lagi, Syifa ada sesuatu buat Lena."
"Sesuatu?"
"Iya anggap aja ini sebagai hadiah ulang tahun buat Lena," ujar Syifa yang kini merogoh tas sekolahnya sementara Lena nampak terdiam dengan kedua matanya menatap serius ke arah tangan Syifa.
"Tadaaaa!"
"Wah!" kagum Lena yang sedikit terkejut saat menatap sebuah kalung yang dikeluarkan dari tas sekolah milik Syifa.
"Ini buat gue?" tanya Lena yang tidak menyangka.
"Iya ini buat Lena."
Dengan jari yang gemetar serta tetapan yang tidak menyangka Lena meraih kalung itu, kalung berwarna kuning emas dengan hiasan berbentuk hati pada ujungnya. Kedua matanya berbinar menatap setiap sisi kalung emas itu.
"Ini lo serius buat gue?"
"Iya serius," jawab Syifa meyakinkan.
"Ah, yang bener lo."
"Ya iya masa Syifa bohong."
"Tapi masa lo kasih ke gue kalung emas, sih? Yang bener aja, dong lo."
"Beneran, Len. Syifa nggak bohong, kok. Itu Syifa beli pakai uang dari tabungan Syifa."
"Tabungan?"
Syifa mengangguk dengan santainya.
"Gila kali lu, ya. Masa duit tabungan lu, lu beliin emas buat gue?"
"Ya, emang kenapa? Nggak apa-apa kan ini bukan juga selalu, sekali-kali aja, kok."
Lena menganggukan kepalanya dengan pelan sejak tadi wajahnya yang cemberut dan cemas itu kini berganti dengan senyuman.
"Ya udah makasih, ya."
"Sama-sama Lena," jawab Syifa diiringi dengan senyumnya yang begini sangat tulus.
Kini suasana di antara mereka menjadi sunyi Syifa yang hanya terdiam sementara Lena yang nampak sibuk memotret hadiah yang diberikan oleh Syifa untuknya dan mengupload fotonya itu di akun media sosialnya.
"Len, Syifa mau ngomong sesuatu.
"Ngomong apa?" tanya Lena yang dengan cepat meletakkan handphonenya itu ke atas meja lalu menatap ke arah Syifa dengan pandangan yang begitu serius.
Syifa menggerakkan bibirnya kiri dan kanan seakan memikirkan harus memulai pembicaraan dari mana.
"Apa, sih? Lo mau ngomong apa? Kayaknya susah banget buat ngomong."
"Syifa mau ngomong ini penting."
"Apa? Ya udah sini cerita! Gue bakalan ngedengerin semua cerita lo bahkan gue sanggup duduk di sini berjam-jam cuman buat ngedengerin cerita lo itu."
Syifa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan diiringi dengan pejaman kedua matanya lalu membukanya dengan perlahan.
"Jadi Glen itu bakalan ulang tahun hari Kamis."
"Hari Kamis? Berarti 3 hari lagi, dong."
"Iya tiga hari lagi makanya Syifa bingung. Syifa, tuh mau ngerayain hari ulang tahun Glen tapi bingung caranya gimana."
"Kalau mau ngerayain di sekolah ya pasti malu sama sama temen-temen dikirain nanti bucin terus Syifa juga nggak mau kalau semua teman-teman pada ngecie-cie'in Syifa."
"Iya juga, sih apalagi kalau ada sih Kinara. Idih, nyebelin banget. Mendingan gini aja kalau lo mau gue kasih saran mending lo bikin acara berduaan aja gitu, kayak nge-date. Ngerti nggak sih?"
"Nge-date?"
"Iya atau kalau lo mau, lo ajak dia ketemuan di restoran terus di saat itu lo bisa, tuh ngerayain hari ulang tahunnya si Glen. Gimana romantis, kan?"
Mendengar penjelasan itu membuat Syifa terdiam sepertinya ide dari Lena itu agak masuk akal.
"Gimana? Lo mau kan?"
"Boleh juga, sih."
"Nah, kalau lo emang setuju besok kita siapin semuanya."
"Besok? Bukannya itu terlalu cepat banget, ya?"
"Ya enggaklah Syifa. Kalau lo mau surprisenya itu berjalan dengan lancar maka kita harus mempersiapkan acaranya itu jauh-jauh hari."
Syifa terdiam memikirkan semuanya.
"Gimana? Setuju nggak?"
"Ya udah, deh Syifa setuju."
"Yeeeee!" sorak Lena sambil bertepuk tangan.
"Tapi rencana awalnya apa?"
...🕯️🕯️🕯️...