
...🕯️🕯️🕯️...
Pelajaran di kelas berjalan begitu seperti biasanya namun, tentu saja strategi dalam kejutan tetap berlangsung. Syifa terus saja tak memperdulikan Lena yang sesekali berbisik mengomentari pelajaran yang dipelajari hari ini.
Lena juga bahkan dibuat kesal saat ia ikut bertanya kepada teman-teman yang lain dan semuanya juga ikut mendiaminya dan lihatlah kini raut wajah Lena benar-benar sudah marah sekarang.
Tak ada senyuman yang keluar dan terpancar dari wajah Lena hingga jam pelajaran berakhir kini Lena memilih untuk memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya sementara Syifa mulai mengirim pesan kepada teman-temannya itu untuk menjalankan rencananya.
"Syifa, yuk ke kantin dia udah lapar banget, nih!"
[Siska cepetan bawa Lena ke suatu tempat biar kita bisa hias kelas ini]
[oke]
[oke]
Balasnya pada pesan singkat itu. Ya rencana pemberian kejutan ini membuat mereka harus membuat grup baru agar Lena tidak mengetahui rencana mereka. Tak berselang lama Siska, salah satu teman sekelasnya itu bangkit dari kursi dan menghampiri Lena.
"Yuk Len! Lo disuruh sama pak Tejo buat ke perpustakaan! Sebenarnya cuman lo sendiri yang disuruh tapi gue juga mau ikut."
"Gue takut lo nggak ambil bukunya nanti yang dimarahin juga gue lagi," lanjutnya.
"Mau ke mana? Tumben lu mau ngajak gue."
"Eh, ini tuh penting sebenarnya bukan gue sih yang disuruh sama pak Tejo buat cari buku pelajaran olahraga di perpustakaan."
"Sejak kapan pak Tejo yang nyuruh gue? tanya Lena yang tidak menyangka. Ya sepertinya ia juga tidak habis pikir mengapa pak Tejo yang menyuruhnya mencari buku.
"Oh jadi ceritanya lo nggak percaya sama gue? Ya udah kalau emang nggak percaya kalau pak Tejo nyuruh lo buat cari buku di perpustakaan."
"Ya udah, sih nggak papa ya lagian bukan gue yang dimarahin tapi cuman lo yang dimarahin sama pak Tejo. Gue kan cuma ngasih tau aja," lanjutnya.
"Bener, Len. Tadi pagi-pagi pak Tejo datang ke sini buat nyuruh lo ke perpustakaan," sahut temannya yang lain berusaha untuk meyakinkan Lena.
"Tapi kenapa harus gue yang disuruh?"
"Yah nggak tahu, tanya aja sama pak Tejo!" jawab Siska dengan sinis.
"Udah sana cepetan ke perpustakaan daripada lu yang dimarahin sama pak Tejo. Lo mau dihukum sama pak Tejo," ujar yang lainnya memanas-manasi.
Lena mendengus kesal ia menoleh menatap ke arah Syifa yang dengan cepat menunduk berpura-pura kembali bermain dengan ponselnya.
"Syifa lu nggak mau nemenin gue ke perpustakaan?"
"Eh, lu nggak sendiri kali ada gue yang nemenin lo," sahut Siska.
"Ya udah, deh," jawabnya dengan pasrah hingga akhirnya membuat keduanya kini melangkah keluar dari ruangan kelas dan saat pintu ruangan kelas tertutup Syifa beserta teman-temanya yang lain dengan cepat berkumpul lalu mengatur meja sedemikian rupa membentuk rongga di dalam ruangan kelas yang lebih luas dan juga menyiapkan beberapa meja yang disiapkan untuk meletakkan kue ulang tahun.
Ponsel Syifa berdering dan dengan cepat Syifa mengangkat telepon hingga suara dari seberang terdengar.
"Halo kak Meno!"
"Halo Syifa, ini kak Meno. Kak Meno udah ada di depan sekolah, nih. Kuenya mau diantar ke kelas sekarang, kan?"
"Jadi gimana kuenya?"
"Kakak tunggu aja! Syifa mau ambil sekarang aja Tunggu di situ aja, ya kak. Syifa ke sana sekarang."
Sambungan terputus membuat Syifa menoleh menatap teman-temannya yang kini masih mengatur meja.
"Teman-teman semua, Syifa pamit dulu, ya. Syifa mau ke depan ambil kue ulang tahun dan hiasannya," ujar Syifa.
"Mau gue temenin Syifa?"
"Gak usah nanti ketahuan kalau kita keluarnya banyak," tolaknya membuat teman-temannya yang lain itu mengangguk.
Syufa berlari kecil melewati koridor sekolah sambil sesekali ia menoleh kiri dan kanan berusaha memastikan jika tidak ada Lrna yang melihatnya saat ini. Jika Lena melihatnya saat ini maka semua kejutan dan rencananya akan berantakan.
Sesampainya di depan sekolah Syifa menoleh kiri dan kanan hingga akhirnya kedua matanya itu mendapati sosok kak Meno yang melambaikan tangan membuat Syifa berlari menghampiri kak Meno.
"Totalnya semua 340.000," ujarnya membuat Syifa mengeluarkan beberapa uang dari saku baju sekolahnya dan membayar semua kue beserta hiasan ulang tahun.
"Terima kasih, ya kak."
"Sama-sama, semoga sukses ya kejutannya."
Syifa tersenyum menatap kepergian kak Meno yang kini telah pergi kembali ke toko kue. Tak banyak berpikir dan sekaligus ia takut ketahuan Syifa segera berlari kembali menuju kelas dan setibanya ia menghias ruangan kelas bersama dengan teman-temannya yang lain.
Semenit berlalu setelah Syifa membawa hiasan ulang tahun itu semua teman-teman yang ada di dalam kelasnya menjadi sibuk setelah mereka membagi beberapa tugas.
Ada yang meniup balon, memasang balon di setiap sudut ruangan kelas dan beberapa hiasan serta mempersiapkan kue ulang tahun di atas meja.
Semuanya dilakukan dengan sebuah kekompakan. Syifa masih beruntung punya teman-teman yang masih bisa diajak bekerjasama jadi ia tidak perlu repot-repot untuk melakukan dan mempersiapkan kejutan ini sendirian.
Syifa tak bisa membayangkan bagaimana jika hanya ia seorang diri yang harus mempersiapkan kejutan ulang tahun ini mungkin ia akan kewalahan ataupun kejutan ini tidak akan terjadi sesuai dengan harapannya.
Syifa membagi-bagikan beberapa terompet untuk teman-temannya, terompet yang nantinya akan ditiup saat Lena datang dan ini Syifa siapkan agar kejutan ulang tahunnya semakin meriah.
Tak lupa juga dengan topi ulang tahun yang biasanya digunakan untuk anak-anak saat merayakan ulang tahun membuat teman-teman yang lain itu tertawa kecil saat mereka memasangkan topi ke atas kepalanya masing-masing dan semuanya terlihat sangat lucu.
"Hust!" tegur Syifa sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir berusaha menegur temannya satu persatu agar tidak membesarkan volume suara tawanya.
Sebuah pesan masuk membuat mereka semua bergegas menatap pesan masing-masing yang dikirim oleh Siska.
[Lena sudah ada di perjalanan menuju kelas siap-siap semuanya]
ujarnya dalam pesan tertulis itu membuat sontak ruangan kelas menjadi sangat sunyi teman-temannya bahkan berlarian kiri kanan seakan tak sabar melihat kejutan ini.
Syifa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan berusaha untuk tetap tenang. Jantungnya kini bahkan terasa berdebar-debar sangat kencang. Tak sabar rasanya melihat ekspresi Lena saat ia melihat kejutan ini. Kejutan yang telah ia rancang sejak tadi bersama dengan teman-temannya.
Semuanya saling berpandangan hingga suasana kelas begitu sangat sunyi. Sekarang hanya ada lirikan mata yang menggantikan komunikasi.
...🕯️🕯️🕯️...