Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-17



...🕯️🕯️🕯️...


Ding dong!


Rahmi menoleh setelah mendengar suara bel yang dipencet dari luar. Entah siapa yang datang di rumahnya malam-malam seperti ini.


"Mbok! Mbok Jati! Tolong pintunya dibuka dulu! Kayaknya ada tamu, deh Mbok!" teriak Rahmi lagi namun, tak ada sahutan dari Mbok jati membuat Rahmi menghela nafas pendek lalu dengan perasaan malasnya ia bangkit dari kursi lalu melangkah menuju pintu utama.


Ia membuka pintu lebar-lebar hingga sosok Syifa dengan mata sembab serta kedua bahunya yang tersentak-sentak karena tangisannya diiringi dengan suara isakan membuat kedua mata Rahmi terbelalak.


"Kenapa?" panik Rahmi yang langsung mendekati sosok putrinya itu.


Kedua mata yang sembab itu terlihat masih meneteskan air mata itu bergerak perlahan menatap sosok sang Mama. Bibirnya bergetar ia ingin bicara tapi tidak bisa. Hatinya begitu sangat sakit sekarang bahkan untuk berhenti menangis saja pun tak bisa.


"Mama! A-a-apa yang Mama bilang itu bener. Ayah, Ayah lebih milih nge-rayain hari ulang tahunnya itu sama i-i-istrinya bukan sama Syifa."


"Syifa emang bodoh. Syifa udah susah payah mau ngerayain hari ulang tahun Ayah tapi ayah ternyata udah ngerayain ulang tahunnya sama istrinya itu."


Mendengar kalimat itu hanya mampu bisa membuat Rahmi terdiam. Ia tahu bagaimana perasaan Syifa sekarang.


"Kamu tahu dari mana, sih?"


"Syifa udah datang ke rumah Ayah dan Syifa udah lihat dengan kedua mata Syifa sendiri dan tepat di hadapan kedua mata Syifa, Syifa bisa lihat kalau Ayah cium istrinya itu."


"Syifa-"


"Dengan ucapan terima kasih karena udah nge-rayain hari ulang tahunnya Ayah. Syifa juga mau dicium sama Ayah. Syifa rindu sama Ayah."


Melihat anaknya seperti ini membuat ia juga sangat sedih serta rapuh saat melihat anaknya. Ia mengelus kepala anaknya itu lalu menghapus kedua pipinya yang telah basah.


"Sayang, Mama kan udah bilang kalau Ayah kamu itu udah punya keluarga baru. Kita itu udah nggak punya hak lagi buat deket sama Ayah kamu."


"Mama bisa ngerti perasaan kamu tapi Ayah kamu itu nggak bisa ngerti perasaan kamu gimana sekarang."


"Ini yang membuat Mama enggak mau kamu susah payah ngerayain hari ulang tahun Ayah kamu itu. Kamu ngerti kan sekarang?"


Syifa mengangguk. "Iya Mama bener. Mama bener kali ini. Syifa sekarang sadar kalau Syifa itu enggak penting lagi di mata Ayah."


"Syifa," bisik Rahmi lalu segera memeluk tubuh putrinya. Ia bisa merasakan bagaimana perasaan Syifa sekarang.


Sakit tentu saja sakit.


"Loh, non Syifa kenapa?" tanya mbok Jati membuat Syifa dengan cepat melepaskan pelukan dari Rahmi dan berlari menghampiri Mbok jati dan memeluknya dengan erat.


"Loh, kenapa Non? Kenapa menangis?" tanya Mbok jati dengan penuh perhatian.


"Ayah jahat, Mbok."


"Ayah lebih milih buat ngerayain hari ulang tahunnya sama istrinya itu daripada sama Syifa padahal Syifa udah beli kue dan kado buat Ayah."


"Syifa juga udah datang ke rumah Ayah tapi ternyata Ayah udah ngerayain ulang tahunnya sama istrinya itu. Ayah lebih sayang sama istrinya itu daripada sama Syifa."


"Jangan pikir yang kayak gitu. Sekarang kan non juga harus ngerti kalau Ayahnya non itu udah punya keluarga baru mungkin besok Syifa bisa datang lagi ke rumahnya Ayahnya non dan ngerayain hari ulang tahun-"


"Udahlah, Mbok! Enggak usah pengaruhin Syifa! Lagian Ayahnya itu udah nggak peduli lagi sama Syifa," sahut Rahmi membuat Syifa melepaskan pelukan dari Mbok Jati.


"Udah non! Nggak usah nangis! Yang sabar aja ya non!"


Syifa mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju anakan tangga meninggalkan Rahmi dan sosok Mboknya yang kini masih bertatapan dengan wajahnya yang begitu ikut sedih.


...🕯️🕯️🕯️...


Bruak!!!


Prak!!!


"Aaaaaa!!!"


Syifa berteriak dengan keras mengeluarkan semua kemarahannya, kekecewaannya, sedihnya yang berbaur menjadi satu. Ia menghempaskan semua alat-alat make up yang ada di depan lemari kaca riasnya membuat semuanya berantakan dan hancur.


Perasaannya benar-benar hancur kali ini, tak ada sebuah harapan lagi, tak ada sebuah kebahagiaan yang tersisa di dalam perasaan hati Syifa.


Semua hanyalah sebuah dendam, kemarahan, kesedihan. Kemarahan serta kehancuran yang benar-benar nyata. Hal yang ia inginkan tak berjalan sesuai apa yang ia khayalkan selama ini. Percuma, percuma semuanya ia lakukan.


Dengan rambut yang acak-acakan, mata yang semakin sembab serta ruangan kamarnya yang sudah berantakan seperti kapal pecah ia melangkahkan kakinya menghampiri sebuah bingkai foto di mana Ayahnya terlihat tersenyum.


Terlihat tersenyum dengan bahagia memperlihatkan sebuah keluarga kecil yang terlihat dengan jelas. Ada Mamanya, Ayah dan juga dirinya di situ. Semuanya baik-baik saja. Tetapi itu hanya dulu dan menyimpan sebuah kenangan yang takkan pernah mungkin bisa terjadi lagi.


"Kenapa Yah? Apa Ayah udah nggak sayang lagi sama Syifa?"


"Ayah jahat. Setelah mendapat yang baru lalu Ayah melupakan yang lama."


"Syifa ini juga anak Ayah. Syifa juga mau disayang sama seperti anak baru itu."


"Syifa sayang sama Ayah! Tolong sayang Syifa! Kalau bukan Ayah yang sayang sama Syifa terus siapa lagi yang harus sayang sama Syifa?"


"Siapa lagi? Aaaaaa!!!" teriak Syifa begitu keras.


Suara hantaman keras saat barang-barang yang ia benturkan di lantai hingga pecah berhamburan terdengar, benar-benar hancur seperti perasaannya sekarang ini.


"Syifa benci sama semuanya. Syifa benci!!! Syifa benci sama Ayah!!! Syifa benci sama hari ulang tahun Ayah!!! Syifa benci!!!"


...🕯️🕯️🕯️...