
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa masih terdiam menatap pria yang ada di hadapannya terlihat sedikit tidak percaya dengan apa yang telah ia katakan tadi.
"Apa kamu serius?" tanyanya yang kesekian kali.
"Syifa serius pak."
"Tapi kenapa selama itu?"
"Syifa tau ini terlalu lama tapi Syifa harus apalagi, pak. Syifa harus izin 1 bulan untuk tidak masuk sekolah karena Nenek Syifa itu sangat ingin ketemu dengan Syifa."
"Baru kali ini ada murid yang minta izin tidak akan masuk sekolah selama 1 bulan."
"Tapi Syifa bisa kan pak belajar lewat jarak jauh saja soalnya ini penting banget pak."
Pria yang ada di hadapannya menghela nafas berat dan panjang. Ia terlihat begitu berat untuk memutuskan sesuatu.
"Saya tahu tapi apa bisa ikut belajar jarak jauh?"
"Saya bisa pak."
"Belajar jarak jauh tidak pernah kami lakukan sebelumnya."
"Tapi Syifa mohon pak! Syifa sangat berharap. Syifa harap Bapak bisa mengerti dengan keadaan Syifa."
"Nenek Syifa itu kritis, dia mau ketemu sama Syifa."
"Tapi apa perlu satu bulan juga tidak masuk sekolah?"
"Syifa tetap masuk, kok pak tapi masuknya itu online. Bapak paham, kan maksud saya?"
"Ya saya paham, hanya saja saya tidak tahu bagaimana pendapat para guru-guru setelah mengetahuinya."
"Syifa bisa menjelaskannya nanti," bujukan bersihkeras.
Kini Bapak kepala sekolah yang ada di hadapan Syifa hanya bisa terdiam memandangi Syifa sementara Lena yang terlihat sedang cemas di sampingnya.
...🕯️🕯️🕯️...
Keduanya kini melangkah beriringan bersama dengan Lena menuju taman yang berada di belakang sekolah hingga akhirnya Lena menghempaskan tubuhnya ke kursi panjang itu.
Rasanya jantungnya berdetak sangat cepat dan menjadi sangat cemas saat di dalam ruangan Bapak kepala sekolah.
"Gimana, ya Len? Kira-kira Bapak kepala sekolah setuju nggak, ya?" ujar Syifa yang ikut duduk di samping Lena.
"Dia pasti nggak bakalan mau, lah. Emang ada murid yang minta izin selama 1 bulan cuman alasan dia mau mengunjungi Neneknya aja gitu?"
"Nggak ada, Syifa," sambungnya.
Syifa hanya terdiam.
"Lagian lu juga, sih ngasih alasan tuh yang bener dikit. Mana mungkin Bapak kepala sekolah itu mau ngizinin lo cuman gara-gara mau ngejenguk Nenek lo yang sekarat itu padahal Nenek lo itu lagi nggak apa-apa."
"Sekarang kebohongan lo itu udah dua kali dan lo ngelibatin gue," ocehnya.
Syifa masih diam. Syifa tak tau harus mengatakan apa. Benar juga yang dikatakan oleh Lena. Jika lagi dan lagi ia melibatkan sahabatnya itu dalam sebuah kebohongan terus.
"Gimana kalau misalnya Bapak kepala sekolah itu enggak mau ngizinin lo?"
Syifa terdiam beberapa saat hingga akhirnya ia berujar, "Syifa akan tetap enggak masuk sekolah."
Lena mendecapkan bibirnya kesal mendudukkan tubuhnya dengan tegak sembari menatap ke arah sahabatnya itu.
"Gue ngerti, sih penyakit lu itu harus buat lo stay di rumah sakit tapi lu kenapa nggak jujur aja, sih?" ujarnya yang lelah sendiri.
Syifa tak menjawab. Ia hanya tertunduk sembari meremas jemari tangannya.
...🕯️🕯️🕯️...
Suara hantaman deras ombak yang menghantam batuan karang terdengar. Suara kicauan burung-burung yang berterbangan di atas luasnya laut yang membiru membentang ke segala arah di bawah panas terik yang membawa hembusan angin beraroma air asin.
Angin yang berhembus itu membuat rambut Syifa bergerak mengikuti arah hembus angin yang membelai wajahnya dengan lembut.
Pandangannya begitu serius menatap mentari di depan sana yang menghasilkan pantulan berwarna orange yang terlihat begitu sangat indah seakan matahari sedang melambaikan tangan memperlihatkan jika tidak lama lagi ia akan tenggelam.
Syifa tertunduk menatap ikan-ikan yang berenang di air laut yang jernih memperlihatkan bebatuan karang bersembunyikan ikan-ikan kecil yang bergelut dengan rongga-rongga batu karang yang menjadikannya tempat beranak-pinak.
Di dalam kesunyian itu Syifa akhirnya mengangkat pandangannya ketika suara langkah kaki terdengar membuat jembatan yang sejak tadi menjadi sunyi kini berdenyit menghasilkan suara langkah yang semakin mendekati sosok Syifa.
Suara itu terdengar dan tentu saja itu adalah Glen. Syifa menatap sejenak ke arah wajah Glen yang berkeringat bercucuran membasahi wajahnya.
Syifa tau butuh banyak tenaga untuk bisa sampai ke sini apalagi sekarang Glen sedang sibuk-sibuknya latihan untuk pertandingan bola basket.
"Gue telat, ya? Lo marah?"
Syifa hanya menggelengkan kepalanya pelan membuat Glen mengernyitkan keningnya karena bingung ke arah Syifa yang sepertinya terlihat tidak bersemangat.
"Lu marah?"
"Enggak. Syifa enggak pernah marah sama Glen."
"Terus kenapa nggak ngomong sama gue?"
Tak ada jawaban. Hingga suasana sunyi yang menjadi jawaban.
"Syifa mau ngomong sesuatu dan itu alasan Syifa manggil Glen ke sini."
"Ngomong apa?"
Syifa menghela nafas. Ia tertunduk sejenak lalu kembali menatap ke arah matahari yang terlihat nyaris tenggelam.
"Syifa mau minta izin."
"Minta izin? Kenapa minta izin?"
"Syifa mau pergi."
"Pergi ke mana?" tanyanya dengan wajah yang begitu sangat serius.
"Syifa mau ke rumah Nenek."
"Ke rumah Nenek?"
"Iya."
"Buat apa?"
"Nenek Syifa lagi sakit katanya mau ketemu sama Syifa."
"Oh, ya udah nggak apa-apa."
"Tapi di sana Syifa kayaknya agak lama, deh."
"Berapa? 3 hari? 1 minggu?" tebaknya.
Syifa tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya lalu kembali tertunduk.
"Terus berapa?"
"1 bulan," jawabnya membuat kedua mata Glen membulat.
Ia begitu sangat terkejut setelah mendengar apa yang telah dikatakan oleh Syifa.
"Satu bulan? Lama banget."
"I-iya emang gitu," jawabnya dengan gugup.
Sejujurnya ia takut jika Glen akan mengetahui jika ia berbohong.
"Tapi masa lo ninggalin gue, sih?"
"Bukan ninggalin, cuman berpisah beberapa hari aja."
"Syifa, ini tuh bukan beberapa hari tapi beberapa minggu. 1 bulan malah."
"Tapi setelah itu kita akan bertemu lagi, kok."
"Iya juga, sih tapi lo bisa jauh dari gue selama itu?"
"Harus bisa. Glen harus belajar!"
"Belajar?"
"Iya, belajar untuk tidak bersama dengan Syifa."
Mendengar ujaran itu membuat Glen tertawa kecil sudut bibirnya terangkat dengan gelengan kepalanya seakan hal ini adalah sebuah candaan.
"Syifa, lu ngomong seakan lo mau pergi dari dunia ini. Belajar untuk berpisah. Gimana, sih maksudnya? Lo tuh ada-ada aja," ujarnya sembari membelai rambut Syifa.
Syifa hanya tersenyum kecil. Ya, sebenarnya Syifa juga tidak tau apakah ini akan menjadi pertemuan terakhir atau setelah hari ini ia akan tetap bertemu lagi dengan Glen tapi Syifa sangat berharap jika pertemuan ini bukanlah pertemuan yang terakhir.
Rasanya nafas Syifa terasa sangat sesak di dadanya seakan menyimpan beban yang begitu sangat memberatkan dirinya. Batinnya seakan tersiksa tapi ia tak tau harus berbuat apa hingga akhirnya Syifa melangkahkan kakinya dengan pelan menyentuh punggung jemari tangan Glen lalu ia memeluk tubuh Glen yang hanya terdiam kaku.
Glen tidak mengerti mengapa Syifa berperilaku aneh seperti ini.
Rasanya Syifa ingin menangis apakah ia salah menyembunyikan kebenaran dari Glan tapi Syifa juga tidak ingin melibatkan Glen dalam permasalahannya.
Ia tidak ingin membuat Glen jadi pusing karena memikirkannya. Merepotkan seseorang sama dengan membebaninya dan Syifa tidak mau.
Tubuh Glen yang hangat membuat Syifa merasa sangat nyaman. Apakah ini pelukan yang terakhir atau tidak. Tapi hari ini Syifa benar-benar ingin merasakan kehangatan tubuhnya. Ia memeluknya erat-erat agar nanti ia tidak merindukan pelukan ini lagi selama ia dalam proses pengobatan.
...🕯️🕯️🕯️...