Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-36



...🕯️🕯️🕯️...


Cahaya putih itu berhasil menerobos kedua matanya membuat penglihatan Syifa menjadi sangat silau. Dengan pelan Syifa membuka kedua matanya hingga suasana ruangan yang ada sekitarnya menjadi jelas terlihat.


Ruangan bercat putih menjadikan objek pertamanya. Suasana yang begitu sangat sunyi hingga akhirnya saat Syifa ingin mengetahui dimana ia sekarang terganggu saat sakit di kepalanya kembali menyerang membuatnya meringis lalu menyentuh kepalanya.


Kedua alis Syifa saling bertaut dengan wajah bingungnya saat sesuatu seakan menghalangi gerakan tangannya pada selang infus yang terpasang pada pergelangan tangannya itu.


"Selang infus?" pikirnya tidak mengerti hingga suara berangkar yang didorong terdengar.


Orang berlalu lalang langkahnya juga terdengar di luar ruangan. Itu berarti ia berada di rumah sakit tapi siapa yang mengantarnya sampai ke rumah sakit seperti ini.


Sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tak berselang lama pintu terbuka membuat Syifa yang sejak tadi menyentuh kepalanya kini menatap ke arah sosok Lena yang melangkah mendekatinya.


"Udah siuman lo? Gimana perasaan lo?" tanyanya membuat Syifa kembali menyentuh kepalanya.


"Masih, sih, sedikit," jawabnya lalu kembali menunduk menopang kepalanya.


Suasana sunyi. Kedua mata Syifa menatap ke arah sahabatnya yang masih menatapnya dengan pandangan yang sangat serius.


"Kenapa, sih?"


"Nggak ada."


"Lena kenapa?"


"Nggak ada apa-apa."


"Terus kenapa diam-diam kayak gitu?"


Lena mengerakkan bibirnya persis seperti orang yang sedang mengunyah. "Emang, ya gue selalu salah. Ngomong salah, diem salah."


"Ya nggak juga, sih tapi nggak biasanya aja Lena diam-diam kayak gini."


Lena kembali terdiam ia tertunduk sambil memainkan jemari-jari tangannya dengan wajah yang sangat cemas.


"Lena kenapa, sih? Lena kayak sembunyiin sesutu dari Syifa. Kalau ada bilang! Jangan buat Syifa jadi cemas."


Mendengar hal itu Lena menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kali ini ia merasa bingung sekarang.


"Sekarang bukan cuman lo aja yang cemas tapi gue juga."


"Maksudnya?"


"Tau nggak? Tadi pas gue antar lu ke rumah sakit dan dokter tanya tentang keluhan lo, dokter akhirnya saranin lo di berikan pemeriksaan lanjutan."


"Emang kenapa?"


"Ya gue juga nggak tau, sih tapi kalau gue lihat kayaknya dokternya itu kayak cemas juga. Dia kayak enggak nyangka aja gitu pas lo dibawa ke ruangan pemeriksaan."


"Emang tadi Syifa dibawa kemana?"


"Di ruangan pemeriksaan EEG," jawab Lena sedikit kesusahan sampai Syifa menatap bingung.


"Ruangan apaan, tuh?"


"Nggak ngerti juga gue tapi kayaknya dia periksa kepala lo, deh."


"Jadi kepala Syifa diperiksa?"


"Iya, dokter mutusin buat periksa kepala lo setelah gue bilang kalau kepala lu, tuh sakit apalagi pas kepala lu udah dihempas ke tembok itu. Gue takut aja, sih ada yang cedera di dalam."


Syifa kini terdiam setelah mendengar penjelasan dari Lena hingga akhirnya Lena kembali bicara.


"Syifa, lu tau nggak?" ujar Lena dengan wajah yang begitu antusias membuat jantung Syifa berdetak sangat cepat.


Entah mengapa sepertinya kalimat yang akan diucapkan oleh Lena ditambah lagi dengan ekspresi wajahnya yang begitu sangat serius.


"Kenapa?" tanya Syifa yang mendekatkan dudukannya ke arah Lena.


"Lu tau nggak tadi-"


"Apa?" potong Syifa yang tak sabar untuk mendengar.


"Dokternya tadi-"


"Iya?" tanyanya takut.


Mendengar hal itu membuat Syifa melongo. Bisa-bisanya disaat seperti ini sahabatnya itu bisa sempat-sempat mengagumi sang dokter yang ada di rumah sakit ini.


"Aduh, Syifa kirain apaan. Bikin jantung Syifa deg-degan tau nggak."


"Iya gue juga. Jantung gue deg-degan waktu gue ngeliat dia. Aduh, gue nggak nyangka banget ternyata ada, ya cowok setampan dia."


"Lu mau dengar suara jantung gue nggak waktu gue ngeliat dia? Nih, bahkan jantung gue dag-dig-dug sangat cepat saat gue ngejelasin semuanya tentang dia," jelasnya dengan wajah yang sangat antusias serta dengan wajah yang terlihat begitu sangat serius.


Kedua matanya juga ikut membulat sambil menyentuh bagian dadanya.


"Nih, coba lu rasain!" pintahnya lalu segera menarik pergelangan tangan Syifa dan menempelkannya di dada membuat Syifa melongo.


"Tuh, dag-dig-dug, kan?"


Syifa terdiam.


"Ih, lu apaan, sih?" kesel Syifa yang segera menarik tangannya itu.


"Idih, lo bilang gitu karena lo nggak liat dokternya secara langsung. Udah tinggi, putih, hidung mancung, bibir tipis, alis cantik. Waduh, kayak aktor Korea nggak, sih itu?"


Tak ada jawaban dari Syifa. Wajahnya yang masih tidak menyangka setelah mendengar ujaran Lena yang menyebutkan secara terperinci sang dokter yang Lena kagumi.


"Oh ya lu nggak kasih tau Mama gue?"


"Oh iya gue baru inget. Gue lupa kasih tau mama lo. Udah gue telepon dulu, ya."


"Eh, jangan!" tahan Syifa yang dengan cepat memegang pergelangan tangan Lena.


Lena menatap bingung.


"Loh? Kenapa? Mama lo harus tau kalau lu itu masuk rumah sakit. Lagian kalau dia sampai tau lo masuk rumah sakit dan gue nggak ngabarin dia, gue juga yang disalahin.


"Dia kiranya nanti gua enggak becus lagi jadi sahabat lo," lanjutnya.


"Jangan, deh!"


"Emang kenapa, sih? Kan ini penting."


"Enggak usah! Takut nanti dia jadi khawatir. Lagian, kan lo tau sendiri gimana Mama Syifa kalau dia khawatir banget bisa-bisa dia pingsan lagi."


"Emangnya Lena mau ngeliat Mama Syifa pinsang?" lanjutnya membuat Lena terdiam dengan wajah bingungnya.


"Yang nggak juga, sih jadi gimana, dong? Masa kita enggak kasih tau Mama lo?"


"Udahlah nanti biar Syifa yang kasih tau ke mama."


"Oh gitu, ya. Ya udah, deh," jawabnya lalu mengurungkan niatnya dan memilih untuk memasukkan ponselnya itu ke dalam saku bajunya.


"Tapi kepala lo udah nggak sakit lagi, kan?" tanya Lena yang entah keberapa kalinya ia menanyakan tentang ini.


"Udah mendingan, sih."


Lena kemudian terdiam. Ia kemudian menatap serius pada selang infus yang terpasang di pergelangan tangan Syifa.


"Eh, iya rasanya gimana diinfus? Gua penasaran banget mau coba." Tunjuknya membuat Syifa menunduk menatap selang infus yang terpasang.


"Mau ngerasain?"


Lena menganggukan kepalanya semangat.


"Kalau mau, yah harus sakit dulu."


"Yeh, gue cuma mau tau rasanya tapi enggak mau sakit," jawabnya membuat Syifa tertawa kecil.


"Aduh," ringis Syifa yang menyentuh kepalanya.


"Kenapa?"


"Nggak tau. Kepala Syifa kalau ketawa sakit banget, deh."


"Ya udah, itu pertanda lu dilarang senyum sama Tuhan. Ketawa aja sakit apalagi ngakak," candanya membuat Syifa kembali tertawa dan yang kesekian kalinya ia kembali meringis berusaha untuk menahan sakit yang ada pada kepalanya.


...🕯️🕯️🕯️...