Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-38



...🕯️🕯️🕯️...


"Syifa lo yakin mau pulang sekarang"


"Yakin."


Lena terdiam.


"Terus gimana lagi kalau Syifa nggak pulang sekarang nanti Mama bakalan curiga" ujarnya di saat mereka telah berjalan di koridor rumah sakit.


Yah, Syifa memutuskan untuk pulang. Tak ingin rasanya jika ia berlama-lama di rumah sakit ini.


"Oh iya, Syifa boleh ngomong sesuatu nggak sama Lena?"


"Ngomong apa?"


Lena menghentikan langkahnya lalu menatap Syifa yang terlihat tertunduk. Syifa sejenak menatap jemari tangannya yang sejak tadi tak pernah diam karena cemas.


"Lo kenapa, sih?"


"Syifa mau ngomong sesuatu sama Lena."


"Yah, udah ngomong aja!"


Syifa terdiam. Ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan pelan. Syifa menggerakkan jemari tangannya lalu menggenggam erat jemari tangan Lena yang menatap bingung.


"Lena mau nggak sembunyiin rahasia ini dari Mama Syifa?"


Sontak kedua mata Syifa membulat kaget. Ia dengan cepat menghempas tangan Syifa yang sejak tadi memegang jemari tangannya.


"Enak aja. Ini, tuh penting tau nggak. Ini nggak boleh dibiarin. Orang tua lo harus tau kalau lo itu sakit."


"Orang tua? Gila, ya Lena. Orang tua Syifa kan udah pisah."


"Ya udah, gue bakal tetap kasih tau mama sama Papa lo kalau lo itu sakit kanker otak studio 3. Ngerti nggak lo," ujarnya dengan nada mengancam bahkan rahangnya terlihat menegang.


Jujur saja ia sangat kesal dengan apa yang telah dipikirkan oleh Syifa yang melarangnya memberitahu Mama dan Papanya itu.


"Lena tau nggak, sih Len? Syifa ini tuh nggak mau melibatkan orang tua."


Lena dibuat melongo. Ia tertawa kecil nyaris seakan sedang mengejek.


"Syifa, ini tuh serius. Lu tuh punya penyakit yang enggak main-main. Lo bisa mati tau nggak."


Syifa mendecapkan bibirnya lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia melangkah lalu duduk di sebuah kursi tunggu yang ada di rumah sakit. Ada beberapa orang yang sedang belalang melewatinya.


Sejujurnya ia juga tidak mengerti apa yang harus ia lakukan sekarang.


"Syifa tau, Len tapi kali ini Lena harus ngerti lah kalau Mama tau yang sebenarnya dia pasti bakalan sedih. Syifa nggak mau ngeliat Mama sedih."


Lena termenung menatap raut wajah Syifa yang nampak sedih.


"Terus gue mau biarin lo sakit-sakitan kayak gini! Syifa, mereka semua harus tau. Kalau gue nggak kasih tau mereka semua nanti gue juga yang disalahin."


Syifa menyandarkan kepalanya di dinding dengan kedua matanya terpejam dengan erat. Ia mengusap kepalanya itu lalu menghembuskan nafas panjang dan kembali membuka kedua matanya.


"Gini aja, deh. Biar Syifa yang kasih tahu mereka tentang penyakitnya Syifa."


"Ya udah, deh. Lo janji, kan bakalan ngasih tau mereka nanti?"


"Iya, biar Syifa aja yang kasih tahu Mama dan Lena nggak usah kasih tahu mereka."


"Yang bener?"


"Iya," ujarnya lalu ia menganggukkan kepala berusaha untuk meyakinkan Lena.


"Ah, nanti lu bohong lagi. Nanti lu nggak kasih tahu Mama sama Papa lo."


"Lagian apa pentingnya, sih ngasih tau mereka tentang penyakit gue? Mereka juga udah nggak peduli sama Syifa."


"Maksud lo?"


Mendengar hal itu membunuh Syifa bangkit dari kursi membuat Lena mendongak.


"Pak Jaya?"


"Iya, pak Jaya itu teman dekatnya Mama. Katanya, sih mau nikah."


"Hah?" kaget Lena.


"Nikah?"


"Em," sahutnya.


"Wah, makan daging lagi, dong gue." ujarnya sambil tersenyum gembira.


Syifa tersenyum kecil. Baru saja wajah Lena itu menjadi panik karena penyakitnya tapi setelah mendengar kata pernikahan dan makanan maka malah tersenyum bahagia. Ya, seperti sekarang ini.


"Kapan nikah?"


"Nggak tau, yang pastinya Syifa enggak bakalan restuin mereka."


"Loh? Kenapa? Kan bagus kalau Mama lo nikah dan itu berarti lo jadi punya Papa baru."


Mendengar hal itu membuat Syifa menggelengkan kepalanya dengan pelan seakan tidak menyangka jika Lena akan menjawab dan mengatakan hal ini.


"Gila ya Lena," ujarnya lalu ia melangkah pergi.


"Lah, emang gue salah lagi apa?" tanyanya pada diri sendiri.


"Lena?!!" teriak Lena yang menatap kepergian Syifa yang kini meninggalkannya.


"Syifa! Woy!!! Lo marah?!!"


"Lu harusnya senang kalau Mama lo nikah. Itu berarti lo punya Papa baru!!!"


"Syifa nggak butuh Papa baru!!!" jawab Syifa.


"Woi, malah ninggalin gue lagi!!!" teriaknya lalu berlari mengejar kepergian Syifa.


...🕯️🕯️🕯️...


"Lena, gue minta tolong, ya! Please, jangan kasih tau Mama gue!"


"Tapi gue nggak tega. Lu harus kasih tahu hal ini sama Mama lo kalau lo tuh sakit. Nih, gue sampai bosan tau nggak, sih ngomong ini ke lo."


"Lo itu nggak sakit biasa dan sakit lo itu nggak main-main. Lu bukan sakit kayak sakit flu atau sakit biasa tapi lu tuh sakitnya parah. Ngerti nggak, sih?"


"Iya ngerti. Sekarang gini aja, deh Lena bayangin kalau misalnya posisi Lena itu ada sama Syifa. Kedua orang tua Syifa itu cerai dan mereka semua sibuk masing-masing sama kehidupan mereka."


"Mereka itu udah nggak ada yang peduli sama Syifa. Walaupun Syifa mau mati sekalipun mereka nggak bakalan peduli sama Syifa."


"Papa juga, sekarang dia itu udah punya keluarga baru terus dia udah punya anak dari istri barunya itu. Makanya posisi Syifa itu udah terganti."


"Bisa ngerti nggak,sih?" bisiknya membuat kini Lena terdiam.


Betul juga yang dikatakan oleh Syifa. Dia mengerti, sahabatnya dari sejak kecil itu memang telah menghadapi kehidupan yang begitu pahit. Dulu Lena telah menjadi saksi bagaimana keharmonisan rumah tangga Papa Mama dari Syifa sendiri.


Dulu Lena selalu merasa iri karena melihat Syifa yang selalu diantar jemput oleh kedua orang tuanya. Entah mengapa keduanya bisa saling bercerai hingga menyisahkan luka pada sosok Syifa.


Kehidupan memanglah berputar. Kadang kebahagiaan yang dirasakan dan kadang pula kesedihan yang menghampiri. Lena terdiam sejenak, cukup lama. Rupanya dia bergelut dengan pikirannya sendiri memikirkan apa yang perlu ia lakukan hingga akhirnya ia menggerakkan kepalanya menatap sosok Syifa yang kini terdiam.


Selalu saja saat mereka membahas tentang keluarga, Syifa selalu terdiam dengan raut wajahnya yang sedih.


Lena menyentuh punggung jemari-jari tangan Syifa membuat Syifa menoleh.


"Lo tenang aja, kok! Gue bakal jaga rahasia ini dan gue bakalan ada di samping lo. Mengurus semua apa yang lo butuhin dan nemenin lo selama pemeriksaan, oke?"


Mendengar hal itu membuat senyum Syifa mengembang di bibirnya.


"Oke, Makasih."


"Ehem! Kalau dalam persahabatan nggak ada kata terima kasih," ujarnya membuat Syifa tersenyum kecil.


...🕯️🕯️🕯️...