Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-80



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa hanya terdiam ia duduk di samping wanita itu dengan perasaannya yang ingin menangis. Jujur saja ia sudah lelah untuk menghadapi semuanya.


"Katakanlah! Katakan apa yang telah membuat kamu bersedih?" tanya wanita tua buta itu.


Ia menggerakkan jemari tangannya berusaha untuk meraih pergelangan tangan Syifa dan saat melihat hal itu membuat Syifa dengan cepat menggerakkan tangannya.


Ia meraih pergelangan tangan wanita tua buta itu membuatnya dengan cepat menyentuh memeluk tangan jemari tangan Syifa.


"Sepertinya berat badan kamu semakin menurun," ujar wanita tua buta itu membuat Syifa tertawa kecil.


Ya, dia tertawa tapi hatinya tidak. Rasanya dia ingin sekali menangis.


"Tidak perlu bersedih! Semua orang memiliki masalah hidup masing-masing. Kamu jangan terlalu larut dalam masalah yang kamu hadapi sekarang! Hadapi semuanya dengan begitu sangat baik."


"Jika kamu menghadapinya dengan baik maka semua masalah yang akan kamu hadapi juga akan berjalan dengan baik. Semua masalah akan selesai tanpa perlu kamu harus bersedih dan lebih-lebihkan apa yang diberikan oleh Tuhan."


"Semua yang diberikan oleh Tuhan itu sudah ditakar dan Tuhan tidak akan memberikan masalah jika kamu tidak bisa menghadapi semuanya."


"Tapi Syifa lelah. Syifa sangat lelah."


"Lelah apa, nak? Kalau kamu ingin mengatakan sesuatu kepada Nenek maka bicaralah Nenek akan mendengarnya Nenek akan mendengar apa yang akan kamu katakan."


"Ini akan menjadi pendengar yang baik Nenek bahkan tidak akan memberitahukan hal ini kepada orang-orang yang nenek temui."


"Hanya Nenek yang mengetahuinya. Nenek tidak akan membocorkannya, betul," ujarnya dengan lembut membuat Syifa tertawa kecil walau air matanya sudah menggantung di sudut matanya.


Ia menyadarkan kepalanya itu di pundak sementara Nenek tua membiarkan. Wanita tua buta itu langsung membelai rambutnya dengan lembut seakan wanita tua buta ini adalah sosok wanita yang belum sangat penyayang.


Entah mengapa ia merasa memiliki pendekatan yang baik.


"Orang yang baik. Gadis yang baik. Gadis hebat seperti kamu akan menjadi sosok yang benar-benar akan disayangi oleh orang banyak."


"Tapi dulu tidak ada yang menginginkan syifa," potong Syifa.


"Loh? Kenapa? Siapa yang tidak menyayangi kamu?"


"Semua orang."


Wanita tua itu tersenyum.


"Yang mempunyai sifat baik akan dipertemukan dengan orang baik."


"Syifa ingin menceritakan sesuatu tapi Syifa mau ini tidak memberitahukannya kepada orang-orang."


"Tentu saja. Nenek bisa menyimpan janji kalau Nenek sambil membocorkan semuanya maka Syifa tidak perlu membawakan Nenek roti dengan selai nanas seperti biasanya tapi Nenek janji, Nenek tidak akan memunculkan semuanya."


Mendengar penjelasan dari wanita tua buta itu membuat Syifa tertawa kecil.


"Syifa sakit."


"Sakit apa?"


"Sakit parah."


"Parah?"


"Rasanya Syifa sudah tidak mau hidup lagi. Syifa malu jika semua orang melihat Syifa dan nantinya akan menertawai Syifa."


"Syifa tidak ingin tertawai rasanya sangat menyakitkan jika harus ditertawakan oleh orang banyak terlebih lagi ada beberapa orang yang tidak suka dengan Syifa dan tidak menyukai Syifa."


"Syifa sangat malu dengan kepala botak ini, Syifa malu," jelasnya lalu kembali menangis.


Dia terisak. Air matanya jatuh membasahi pipi..ia mengusap dengan tangannya berusaha menghilangkan jejak kesedihan di wajahnya tetapi pipi itu kembali basah lagi saat ditetesi oleh air mata yang mengalir tanpa henti berusaha ia tahan tapi belum sangat sulit untuk dilakukan.


"Apakah hanya kebotakan itu yang membuat kamu menjadi sedih dan malu?" tanya wanita tua buta itu membuat Syifa terdiam cukup lama.


Ia tak menjawab hingga akhirnya ia menyahut, "Iya Nek. Kebotakan itu membuat Syifa malu sampai sampai Syifa tidak ingin jika semua orang melihat Syifa."


"Nak, dengar! Bukan Nenek sedang menggurui atau menceramahi kamu tapi apakah tak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan penglihatan," ujaran wanita itu membuat Syifa langsung melirik menatap wanita tua yang kini kedua matanya tak menatap tak tentu arah.


"Biar Nenek beritahu. Nenek ingin menceritakan beberapa hal kecil yang harus kamu dengar dan harus kamu pahami agar kamu tahu arti dari kata bersyukur."


"Kamu tahu kenapa Nenek bisa buta seperti ini?Kenapa?"


Syifa tak langsung menjawab. Ia hanya diam hingga akhirnya wanita tua buta itu kembali bicara."


"Dulu Nenek tidak buta. Dulu Nenek adalah wanita yang bisa melihat segalanya. Syifa ini bisa melihat warna daun, warna langit, warna rumah-rumah, pelangi, awan dan semuanya."


"Sangat membahagiakan namun, hal-hal yang indah itu tak bertahan lama hingga akhirnya Tuhan merampas kedua mata itu."


"Kenapa kecelakaan sehingga bisa buta?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Penyebab kebutaan dapat dari berbagai kondisi, tapi sering kali disebabkan oleh penyakit pada mata atau gangguan pada kesehatan secara umum. Ketika salah satu dari bagian mata rusak, baik karena sakit atau cedera, kebutaan dapat terjadi."


"Dulu Nenek sakit keras hingga akhirnya tidak tahu mengapa pandangan ini perlahan-lahan jadi gelap buram dan tak bisa melihat lagi. Nenek hanya melihat kegelapan rasanya matahari menjauhkan cahayanya sehingga Nenek tidak bisa melihat apa-apa."


"Nenek ingin kembali melihat hal-hal yang begitu sangat indah tapi Tuhan seakan menghalangi ini untuk melakukannya. Harus bagaimana lagi Tuhan sudah mengambilnya."


"Tuhan yang menciptakannya, lalu untuk apa ia harus malah sedih. Tuhan hanya mengambil apa yang ia benar adalah miliknya."


"Awalnya Nenek juga merasa sangat kesal dengan ujian yang diberikan oleh Tuhan tapi harus bagaimana lagi menangis pun tidak jadi sebuah jawaban hanya menyisakan luka."


"Jika selalu dibebankan pada diri sendiri belajar mengikhlaskan kamu hanya kehilangan rambutnya bukan kehilangan penglihatan. Nenek saja yang kehilangan mata masih bisa tersenyum bahagia dan bagaimana dengan kamu yang hanya kehilangan rambut saja."


"Kamu harus semangat! Jangan menyerah begitu saja! Ada banyak orang yang menentukan kebahagiaan di sana."


"Jangan pernah menyerah tetap semangat jika orang-orang tidak bisa membuat kamu bahagia maka kamu harus menjadi orang yang bisa membuat orang-orang bahagia karena sampai kapanpun orang yang selalu membuat orang bahagia akan dicari sampai dia telah mati sekalipun."


Diam, sunyi dan senyap. Suara kendaraan menjadi irama dalam penjelasan serta omongan yang diucapkan oleh wanita tua buta itu. Ia hanya bisa terdiam.


Syifa terdiam tak tahu harus mengatakan apa. Kali ini yang dikatakan oleh wanita tua buta yang sudah tidak bisa melihat lagi adalah benar jika hanya kehilangan rambutnya bukan kehidupannya.


Ia hanya kehilangan rambut bukan dunianya. Ia hanya kehilangan rambut bukan kebahagiaannya.


Rambut, hanya Tuhan yang mengizinkannya untuk tumbuh lalu mengapa ia harus bersedih jika Tuhan hanya mengambilnya sementara.


...🕯️🕯️🕯️...