Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-40



...🕯️🕯️🕯️...


"Yang bener kamu?"


"Bener, kok Tante. Lena nggak bohong kalau nggak percaya tanya aja sama Syifa!"


"Bener itu Syifa?"


"Iya Ma, bener," jawab Syifa dengan cepat sambil menganggukan kepalanya.


Rahmi menghembuskan nafas panjang.


"Ya sudah, terima kasih, ya, Len."


"Iya Tante," jawab Lena hingga sambungan terputus membuat Rahmi kembali masukkan ponsel dari saku bajunya.


Ia kemudian melirik menatap Syifa yang terlihat tersenyum kecil di sana.


"Kenapa kamu kayak gitu? Senyum-senyum."


"Kenapa Ma?"


"Kamu senang, ya habis berantem?"


"Nggak."


"Terus kenapa kayak gitu?"


"Enggak aja," jawabnya lalu ia bangkit dari sofa.


"Ya udah kalau begitu. Syifa naik dulu, ya. Syifa udah capek banget terus mau obatin juga luka di muka Syifa."


Mendengar hal itu Rahmi menganggukkan kepala membiarkan Syifa yang melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


"Syifa!"


Langkah Syifa terhenti membuatnya menunduk menutup sosok Mamanya yang masih membelakanginya di sana.


"Ada apa, Ma?"


"Suruh mbok Jati buat obatin luka kamu!"


Mendengar hal itu Syifa tersenyum. Rupanya Mamanya itu juga perhatian dengannya.


"Iya, Ma," jawab Syifa lalu melanjutkan langkahnya menaikkan anakan tangga menuju kamarnya.


Setibanya Syifa duduk di pinggiran kasur. Senyumnya kini menghilang. Ia termenung dengan wajah datar. Syifa yang masih terdiam itu menggerakkan kedua matanya menatap pantulan wajahnya di cermin yang dihiasi oleh luka lebam di sana hasil pertengkaran tadi.


Rasanya Syifa menyesal, sangat-sangat menyesal dengan adanya pertengkaran itu. Andai saja ia tidak melakukan pertengkaran itu mungkin ia tidak akan pernah tau jika selama ini ia mengalami penyakit kanker otak."


"Kanker otak," bisik Syifa lalu mengelus kepalanya.


"Kenapa? Kenapa penyakit ini harus ada sama Syifa?"


"Syifa nggak mau jatuh sakit. Ada ribuan orang yang ingin Syifa buat senyum tapi kenapa? Kenapa harus ada seperti ini?"


"Syifa itu enggak mau mati," lanjutnya lalu membaringkan tubuhnya di permukaan kasur.


Ia memejamkan kedua matanya dengan rapat-rapat merasakan dinginnya ruangan kamar saat pendingin kamarnya telah menyala.


"Tuhan, gimana nasib Syifa nantinya?"


"Kenapa terlalu berat banget cobaan yang Tuhan kasih sama Syifa?"


"Syifa berharap banget nanti penyakit ini bisa hilang. Kenapa, sih Syifa harus sakit? Kenapa?"


"Please, jangan buat Syifa jadi sakit, Tuhan!"


"Syifa nggak mau sakit."


Tok tok tok...


Pintu diketuk membuat Syifa menoleh menatap sosok mbok Jati yang berdiri di bibir pintu dengan tangannya yang memegang kotak obat serta wadah berisi air hangat.


"Mbok Jati?" tanyanya bingung lalu segera bangkit dan duduk di pinggir kasurnya.


"Mbok Jati ngapain?" tanya Syifa yang kemudian bangkit dari tempat tidurnya.


Mbok Jati tersenyum lalu ia melangkah mendekat dan akhirnya duduk di lantai dan mendongak dengan senyumnya.


"Mbok Jati datang ke sini disuruh sama nyonya Rahmi. Katanya mbok Jati disuruh buat ngobatin lukanya Syifa," jelasnya membuat Syifa mengganggukan kepala.


Ia ikut duduk di lantai membuat mbok Jati terkejut melihat putri dari majikannya itu ikut duduk di lantai seperti apa yang ia lakukan sekarang.


"Aduh, non Syifa, kenapa duduk di lantai juga?"


"Mbok Jati juga duduk di lantai terus apa salahnya?"


"Jangan non! Nanti dimarahin sama nyonya Rahmi."


"Soalnya Syifa duduk di lantai."


"Nggak apa-apa, kok Syifa suka duduk di lantai," ujarnya.


Kedua mata mbok Jati menatap serius pada luka-luka lebam yang ada di wajah Syifa saat Syifa sibuk bicara.


"Aduh, non! Ini kok berkelahinya parah sekali. Mukanya jadi luka-luka kayak gitu. Ini bukan luka namanya tapi ini bonyok, ini!" tunjuknya membuat Syifa tertawa kecil.


Pembantunya ini selalu saja melebih-lebihkan segala hal tapi Syifa suka mendengar ujaran mbok Jati.


"Ini pasti sakit, ya?" tanya mbok Jati yang nampak memeras sebuah kain yang telah direndam dengan air hangat lalu ia mendekatkan perasaan kain kecil itu ke arah luka-luka yang ada pada wajah Syifa.


"Enggak, kok, mbok."


"Waduh, masa enggak sakit orang luka kayak gini kalau mbok Jati yang punya luka kayak gini pasti sudah nangis."


"Emang waktu mbok Jati sekolah, mbok Jati pernah berkelahi atau berantem gitu?"


"Wah, pernah."


"Pernah?" tanya Syifa yang tidak menyangka lalu menempelkan kain hangat itu di luka lebam yang ada di wajah Syifa membuat Syifa sedikit meringis sakit.


"Sakit ndak?"


"Nggak juga, sih. Cuman Syifa kaget aja. Terus mbok?"


"Mbok Jati pernah berkelahi sama cowok."


"Cowok?" kagetnya lalu tertawa kecil.


Rupanya mbok Jati ini pernah memiliki kenangan perkelahian yang lebih ekstrim. Berkelahi dengan pria, bagaimana jadinya.


"Iya, dulu itu cowoknya nyebelin banget jadi dia itu selalu ngebully mbok Jati."


"Mbok Jati pernah dibully juga?"


"Iya, pernah. Mbok dulu itu dibully. Mbok jadi kesel banget."


"Yang bener, mbok? Dibully karena apa, mbok?"


"Dibilangin pendek."


"Loh, emang mbok Jati pendek, kan?"


"Nah, iya. Walaupun mbok Jati pendek tapi mbok Jati enggak mau dibilangin pendek."


"Terus?"


"Ya udah, mbok Jati pukul."


"Terus yang menang siapa?"


"Enggak ada yang menang."


"Loh, kok enggak ada yang menang?"


"Iya soalnya berantemnya enggak lama. Habis tarik-tarikan baju udah selesai."


"Ya enggak seru, dong."


"Iya tapi Alhamdulillah ndak luka seperti ini. Ini, mah parah. Emang tadi kenapa bisa berantem? Gara-gara apa?"


Mendengar hal itu membuat Syifa tertunduk. Pertanyaan dari mbok Jati membuatnya teringat pada ujaran yang dikatakan oleh Kinara di sekolah.


"Lho, kok diam? Ada apa? Bilang sama mbok Jati! Mbok Jati bakalan dengerin semuanya."


Syifa masih terdiam.


"Kenapa? Gara-gara apa berkelahinya?"


"Nggak ada, kok "


"Loh, orang berkelahi enggak mungkin langsung baku tonjok aja. Kan pasti ada masalah yang menyebabkan perkelahian."


"Toh, ayam aja punya masalah dulu baru berantem entah karena mau merebut kekuasaan, mau makan banyak atau rebutan ayam betina buat kawin," ujarnya membuat Syifa tertawa.


"Bilang aja, nak! Mbok Jati pasti ngedengerin apa yang non Syifa bilang. Mbok Jati juga nggak bakalan ngomong ke siapa-siapa. Mbok Jati ini pinter, loh jaga rahasia."


"Bilang aja!" rayunya dengan lemah lembut lalu sambil sesekali jemari tangannya yang merapikan anak-anak rambut milik Syifa yang terlihat sedikit berantakan.


"Kenapa? Ngomong sama mbok Jati! Mbok Jati bakalan dengerin semuanya! Ayo bilang non Syifa!"


Syifa menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Mendengar ujaran mbok Jati yang begitu sangat lemah lembut seakan telah berhasil menyentuh hatinya ditambah lagi saat mbok Jati menyentuh dengan lembut kepalanya. Hal ini belum pernah dilakukan oleh Mamanya sedikitpun, dulu pernah tapi sekarang tidak lagi.


...🕯️🕯️🕯️...