Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-81



...🕯️🕯️🕯️...


Suara debur ombak terdengar bergemuruh saat menghantam keras permukaan bebatuan karang yang berada di siring laut air laut yang bergerak menyapu permukaan pasir pantai yang sudah basah.


Kepiting-kepiting kecil berlarian saat ombak seakan Mengejarnya diterjang begitu pelan membawa kepiting-kepiting ke tepian pantai dan kembali menyeretnya ke laut.


Ikan-ikan kecil berenang di bawah tanah ada banyak hewan berekor yang bersembunyi di balik lubang karang seakan sedang bermain petak umpet saat Syifa yang menunduk menatap ke arah bawah sana.


Aroma yang begitu sangat ia rindukan saat berada di sebuah jembatan jembatan kayu yang selalu ia menjadikan tempat untuk bertemu dengan Glen.


Ya, hari ini Syifa sengaja untuk datang di tempat di mana ia selalu berada bertemu dengan Glen. Beberapa saat kemudian akhirnya ia merogoh ponselnya menyentuh nama Glen di sana hingga akhirnya mengirimkan pesan. ponsel itu ia masukkan lagi ke dalam saku sweaternya kemudian menatap kembali ke arah luasnya laut yang membentang di sana menarik nafas dalam-dalam mencium aroma ciri khas dari air asin.


Ting!


Suara notifikasi pemberitahuan pesan masuk terdengar membuat Glen yang sedang sibuk duduk di tempat bangku penonton sambil mengusap wajahnya berkeringat dengan cucuran kelelahan saat ia sedang asyik berlatih bola basket bersama dengan teman-teman yang lain bahkan Kinara juga ada di sana.


Ya semenjak Syifa tidak ada kini Kinara menjadi begitu sangat dekat dengan Glen. Ini ia juga jadikan sebagai kesempatan emas untuknya.Di saat Syifa tidak ada maka di saat itu Kinara seakan perlahan-lahan masuk.


Di mana ada Glen maka di situ ada Kinara. Kata hubungan sepupu seakan dijadikan sebagai alasan untuk ia selalu bisa dekat dengan sosok Glen walau sejujurnya Glen tidak pernah menganggap hal lebih kepada sepupunya itu. Sebatas adik kakak saja ia menganggapnya seperti itu.


Saat suara notifikasi terdengar Glen langsung mengangkat ponselnya menatap dengan senyuman yang terukir di bibirnya saat mendapatkan pesan singkat dari Syifa.


[Glen, Syifa tunggu di tempat biasa sekarang juga. Syifa di sini. Tolong jangan lama karena Syifa lagi buru-buru]


Pesan itu telah terbaca membuat Glen langsung bangkit dari tempat duduknya. Kinara yang menatap dari kejauhan dengan cepat berlari menghampiri Glen ditambah lagi saat Glen meletakkan tasnya di bahu.


Ia melangkah tergesa-gesa mendekati Glen.


"Kakak Glen! Kakak Glen!" panggil Kinara yang berlari membuat Glen menghentikan langkahnya.


Ia menoleh menatap ke arah sosok Kinara yang masih mengejar.


"Mau kemana?" tanya Kinara yang baru saja telah tiba. Ia memegang ke lututnya setelah begitu melelahkan berlari hanya untuk mengejar Glen.


"Mau ke mana?"


"Gue mau keluar sebentar."


"Terus gimana sama Kinara? Kita sama-sama ke sini masa kakak Glen mau ninggalin Kinara gitu aja."


"Sorry banget tapi ini enggak lama, kok. Gue cepet, oke tunggu di sini lagian di sana juga ada teman-teman lo, kok. Oke! Lu pulang sendiri aja, ya. Gue lagi sibuk soalnya."


"Tapi Kinaranya gimana kak?" rengek Kinara yang meraih pergelangan tangan Glen seakan tidak ingin jika ditinggal oleh Glen.


"Kakak mau kemana sebenarnya? Masa mau ninggalin Kinara gitu aja."


"Sorry. Gue lagi ada janji sama Syifa jadi gue mau pergi sebentar aja dan lu di sini, ya, oke," ujarnya lalu berlari pergi meninggalkan Kinara yang berniat untuk memanggilnya tapi ujaran itu terhenti.


Ia mengurungkan niatnya untuk memanggil sosok Glen yang sudah berlari cukup jauh. Glen bahkan benar-benar telah meninggalkannya seorang diri di sini walaupun dia tahu ada teman-temannya di sana tapi rasanya beda jika bukan Glen yang mengantarnya pulang ke rumah ditambah lagi saat dia mengetahui jika Glen akan pergi untuk menemui Syifa.


Entah mengapa gadis itu selalu saja mengganggu. Ia sudah sangat bahagia ia tidak bertemu dengan gadis itu selama beberapa minggu tapi saat ini dia kembali mendengar namanya dan hal itu membuatnya semakin kesal.


...🕯️🕯️🕯️...


Suara dan ombak kembali terdengar. Syifa memejamkan kedua matanya dengan erat. Ia menghirup udara dalam-dalam dan akan menyimpannya rapat-rapat pada rongga paru-parunya.


Sepertinya ia akan merindukan aroma. Air laut seperti ini suasana yang begitu sangat menenangkan.


Burung-burung berkicau di atas laut bahkan ada yang melebarkan sayap seakan ingin mendarat di permukaan laut yang begitu luas hingga akhirnya burung bersayap putih panjang itu kembali terbang tinggi dengan ikan kecil yang berada di cengkraman kakinya yang tajam.


Suara langkah kaki terdengar membuat Syifa mengerakkan kepalanya menatap sosok Glen yang terlihat tersenyum. Ya sudah cukup lama ia tidak melihat wanita yang ia sayangi itu.


"Gue lama, ya? Lu nunggu lama?" tanya Glen saat ia telah berada tepat di hadapan Syifa.


"Gue rindu banget sama lo. Lo rindu ngga sama gue?" ujar Glen yang langsung mendekatkan tubuhnya berniat untuk memeluk Syifa, tetapi Syifa langsung melangkah mundur membuat kening Glen mengeryit.


Ia menatap bingung ke arah Syifa yang berperilaku aneh seperti ini. Biasanya Syifa tidak melangkah mundur bahkan terlebih dahulu Syifa yang selalu memeluknya tapi sekarang kenapa. Kenapa Syifa seakan menjauhinya.


"Kenapa? Lu nggak rindu sama gue?" tanya Glen yang menatap lekat-lekat pada wajah datar yang Syifa tak tunjukkan.


Syifa menoleh. Sengaja ia menggunakan masker untuk menutupi bagian mulutnya dan hanya memperlihatkan matanya saja. Ia tidak ingin jika Glen sampai melihat wajahnya yang pucat itu.


"Lo kenapa? Terus kenapa pakai masker gini?"


"Kenapa? Gue rindu tahu sama lo. Gue mau lihat lo," ujarnya.


Glen menggerakkan jemari tangannya berniat untuk membuka masker itu tetapi Syifa kembali melangkah mundur membuat Glen semakin kebingungan.


Ia tidak mengerti mengapa Syifa berperilaku seperti ini kepadanya, ini tidak seperti biasanya.


"Lu kenapa, sih? Kenapa perasaan lo baik-baik aja sebelum gue tinggal. Oh, bukan gue yang ninggalin tapi lu yang pergi ke rumah nenek lo. Tapi sekarang gimana?"


Syifa tertunduk. Kali ini ia harus mengatakannya. Ia tidak ingin jika kali ini gagal lagi. Nafasnya begitu sangat sesak seakan terkunci di kedua paru-parunya.


"Syifa mau putus sama Glen."


Bagai disambar petir Glen mendengarnya jantungnya seakan berhenti berdetak dengan nafasnya seakan tertahan di tenggorokannya. Bagaikan ada petir yang menghantamnya begitu keras. Bencana apa yang sedang terjadi di hadapannya sekarang.


Di saat ia berharap ia bisa bertemu dengan Syifa tapi mengapa kalimat buruk ini yang terdengar. Apakah ia selalu dengar atau Syifa yang salah bicara.


"Maksud lo? Lo ngomong apa, sih?" tanya Glen yang kini tersenyum berusaha mencairkan suasana yang sejak tadi terasa tegang, tetapi walaupun Glen berusaha tersenyum tetapi Syifa terlihat tetap terdiam tak memberikan senyum sedikitpun kepada Glen yang masih memandangnya dengan serius.


"Lu kenapa?"


"Syifa mau putus," ujarnya dengan tegas.


"Tapi kenapa? Lo ngobrol sama gue! Emang gue salah apa sama lo, sih?" ujarnya begitu perhatian.


Dia berusaha untuk menggenggam jemari tangan Syifa tetapi Syifa menolak. Dengan keras dia menghempaskan pergelangan tangan Glen agar tidak berhasil menyentuh pergelangan tangannya.


Ia hanya tidak ingin jika Glen menyentuh tangannya yang sudah mengurus itu.


"Tapi kenapa? Lu udah enggak mau lagi pacaran sama gue?"


"Iya."


"Emang kenapa?"


"Gue salah lagi atau Kinara yang gangguin lu lagi atau gimana? Lu ngomong sama gue."


"Syifa udah nggak mau lagi pacaran sama Glen."


"Tapi kenapa? Emang gue salah apa sama lo? Kenapa?"


Syifa serasa sangat sesak begitu sangat perih di hatinya. Luka itu seakan membesar dengan perlahan menghasilkan rasa perih dan nyeri di hatinya.


"Pokoknya Syifa mau putus sama Glen," ujarnya dengan berat hati bahkan suaranya bergetar dengan rahang yang menegang.


Setelah mengatakan itu akhirnya Syifa melangkahkan kakinya namun, tangannya malah dicegah oleh Glen membuat Syifa memberontak dengan keras.


Ia menghentakkan tangannya membuat pergelangan tangan Glen terlepas. Dia memandangi Syifa dengan pandangan tidak menyangka.


"Kenapa? Kenapa lo mutusin gue kayak gini, sih? Emang gue salah apa sama lo? Gue minta maaf kalau gue salah-"


"Lo nggak punya salah," potong Syifa.


"Tapi nggak putus juga, dong. Gue sayang sama lu Syifa."


"Tapi Syifa enggak!!!" teriak Syifa yang menggema.


Suaranya begitu sangat keras seakan sedang menampar sosok Glen yang kini terdiam.


"Syifa nggak pernah sayang sama Glen dan sekarang juga Glen putus sama Syifa dan kita nggak ada hubungan apa-apa lagi sekarang. Syifa bukan pacar Glen lagi," tegasnya lalu kembali melangkah.


"Syifa!" teriak Glen yang berusaha mengejar, tetapi dengan sekuat tenaga Syifa berjalan menelusuri setiap lantai papan jembatan dengan langkah cepat.


"Ayo ngomong sama gue dulu! Lu ceritain apa salah gue sama lo biar gue bisa jelasin. Nggak bisa putus kayak gini aja, dong."


"Kalau gue punya salah, lo bilang sama gue biar gue minta maaf dan bisa ngejelasin lo kalau gue punya masalah apa."


"Glen nggak punya masalah apa-apa tapi Syifa punya masalah!!!" teriak Syifa yang langsung berbalik badan membuat langkah Glen terhenti.


"Syifa yang punya masalah bukan Glen, sekarang juga jangan pernah hubungin Syifa lagi.:


"Tapi-"


"Nggak usah tapi-tapian! Dengar kita putus dan apapun yang Syifa omongin itu bener."


"Nggak usah buat berharap lagi sama Syifa karena Syifa udah nggak mau lagi sama Glen. Cari perempuan yang lebih baik ataupun wanita yang bisa menerima hubungan Glen sama Kinara," ujarnya yang kembali mengungkit dan itu membuat Glen mendecapkan bibirnya kesal.


Jadi apa itu berarti alasan Syifa memutus hubungan darinya karena sosok Kinara.


"Tapi-"


"Tapi apa? Sekarang juga nggak usah hubungin Syifa lagi, kita putus," ujarnya lalu kembali melangkah.


Tak ingin menyerah Glen kembali mengejar membuat Syifa akhirnya memutuskan untuk berlari. Ia berlari begitu kencang meninggalkan Glen yang kini menghentikan langkahnya.


Dengan perlahan ia menatap sosok Syifa yang sudah melangkah cukup jauh meninggalkannya. Wajah Glen mendatar. Ia terpatung di pinggiran laut menatap sosok Syifa yang sudah pergi meninggalkannya


Jauh, sangat jauh hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.


Apa ini? Apa yang terjadi?


...🕯️🕯️🕯️...