Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-26



...🕯️🕯️🕯️...


Suara dentingan sendok terdengar saat aktivitas makan sedang berlangsung. Kali ini acara makan malam dari keluarga Lena berjalan begitu baik.


Suara langkah kaki terdengar membuat beberapa pengunjung restoran itu menoleh menatap ke arah sosok Lena yang baru saja masuk di restoran itu.


"Itu si lena," ujar Yasir, Papa dari Lena.


"Lena, kamu itu dari mana aja, sih?" tanya Karni saat melihat putrinya yang baru saja tiba.


"Iya Lena, kok lama banget?"


"Maaf, Ma soalnya Lena tadi dari bantuin temen," ujarnya lalu dengan cepat duduk di kursi.


Semenit kemudian Lena hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya sambil memberikan sebuah senyum saat Mamanya itu memperkenalkan sahabat barunya di sebuah perusahaan yang ia tempati bekerja.


Ya sebenarnya hal yang paling tidak ia sukai adalah berpura-pura untuk menjadi anak pendiam. Lena terpaksa berpura-pura untuk jadi pendiam dan hanya memberikan sebuah senyuman agar sahabat dari Mamanya itu menganggap jika putri sahabatnya adalah gadis yang pendiam.


Di saat-saat ia menyantap spaghetti ini kening Lena mengernyit saat ia bisa mendengar sebuah suara yang begitu sangat ia kenali bahkan ada suara tawa yang juga sangat ia kenal. Suara gadis yang selama ini begitu sangat ia benci.


Dengan cepat ia menoleh menatap ke arah sebuah meja dimana di sana nampak seakan-akan terdapat sebuah keluarga yang begitu sangat bahagia. Rasanya bagai disambar petir saja saat melihat sosok Glen yang terlihat sedang begitu bahagia duduk bersama dengan keluarga mereka yang terlihat sedang makan malam bersama.


Di sana ada Papa dan Mama dari Kinara dan juga orang tua dari Glen sendiri. Lalu jika


Glen ada di sini Terus siapa yang akan diberikan kejutan oleh Syifa di restoran itu?


Lena menggigit ujung kukunya dengan begitu sangat cemas, itu berarti Glen tidak datang ke acara kejutan ulang tahunnya melainkan ia lebih memilih bersama dengan Kinara serta kedua orang tua mereka.


"Selamat ulang tahun, ya Glen!"


"Selamat ulang tahun."


Suara dari Kinara terdengar membuat Lena kembali menoleh menatap ke arah Glen yang terlihat bahagia saat Kinara memberikan kue ulang tahun kepadanya


Kedua mata Lena seketika membulat, itu berarti mereka tidak hanya sekedar duduk bersama dan makan malam melainkan mereka juga saat ini sedang merayakan hari ulang tahun Glen.


Lalu bagaimana dengan nasib Syifa?"


Lena menunduk menatap jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 10.00 dan itu berarti sudah 2 jam lebih Syifa menanti di restoran itu. Tentu saja Glen tidak datang di sana karena sedang asyik makan malam di sini sekaligus merayakan hari ulang tahunnya.


"Lena, kok malah bengong, sih?"


Sontak Lena terperanjat kaget. Ia dengan cepat menoleh menatap Mamanya.


"Iya, Ma?"


"Makanan kita semua udah mau habis, kamu masih banyak. Cepetan habisin soalnya kita mau pulang!" suruhnya membuat Lena hanya bisa mengangguk dan memakan spaghetti yang masih tersisa.


Sedetik kemudian disaat Papa dan Mamanya kembali bercerita dengan sahabatnya itu membuat ia kembali menoleh ke arah Glen dan selanjutnya ia menunduk menatap jam pada pergelangan tangannya.


"Mungkin saja Glen akan datang jam 11.00," pikirnya.


...🕯️🕯️🕯️...


Senyum yang selalu mengembang menghiasi wajahnya itu terus saja terbentuk. Sudut bibirnya selalu terangkat memberikan senyum, tak peduli sekarang jam berapa.


Kini jam tangan kecilnya yang menunjukkan pukul 11.00 malam, tetapi Glen tak kunjung datang ke acara kejutan ini.


Syifa meneguk salivanya. Kedua matanya terpejam dengan erat berusaha untuk menahan kantuk. Rupanya menanti seseorang begitu sangat melelahkan. Syifa sesekali menggerakkan kepalanya berusaha menatap ke arah pintu utama berharap Glen segera muncul di sana.


Syifa meraih ponselnya menatap kolom pesan untuk Glen yang sama sekali tidak memberikan pesan untuknya. Dengan sebuah tarikar nafas Syifa mulai menekan tombol keyboard pada ponselnya, mengirimkan pesan untuk mengingatkan janji Glen yang akan datang untuk kejutan ini.


[Glen]


[Masih ingat kan sama janjinya? Syifa tunggu, ya]


Pesan singkat itu terkirim membuat Syifa kembali tersenyum kecil, sedikit agak cemas. Kedua matanya yang menatap pesan terkirim itu bergerak menatap ke arah baterai ponselnya yang tersisa 2% saja. Syifa menghela nafas, ia lupa membawa charger untuk mengisi baterai ponselnya dan tidak lama lagi baterai ponselnya itu habis.


"Halo, Ma."


"Syifa, kamu dimana?"


"Mbok nggak kasih tau, ya?"


"Udah, sih tapi Mama mau tanya langsung ke kamu. Sekarang, kan udah jam setengah dua belas, kok nggak pulang, sih?"


"Mama, Syifa itu mau ngerayain hari ulang tahunnya Glen, ya pasti jam dua belas nanti baru dirayain. Mungkin Syifa pulangnya sekitar jam satu."


"Oh gitu."


"Nggak apa-apa, kan?"


"Nggak apa-apa juga, sih soalnya kan ada Glen di sana. Oh iya jangan lupa jaga diri baik-baik, ya!"


"Iya, Ma."


"Mama, tunggu, ya."


"Ya oke."


"Oh iya Syifa nanti kalau-"


Tut tut tut...


Panggilan terputus. Kedua alis Syifa saling bertaut karena bingung dengan ujaran Mamanya yang belum selesai. Ia menjauhkan ponselnya itu dari wajahnya menatap layar ponselnya yang kini menjadi hitam. Berulang kali Syifa menekannya agar menyala membuat Syifa mendecakkan bibirnya dengan perasaan kesal menatap baterai ponselnya yang telah habis dan itu berarti tak ada lagi yang akan menemaninya untuk menanti kedatangan Glen.


"Di mana, sih? Kok lama banget? Padahal hampir jam dua belas, loh ini."


...🕯️🕯️🕯️...


"Lena kenapa, sih? Kok kayak cemas banget," tegur Mamanya membuat Lena mengangkat pandangannya.


"Kenapa? Dari tadi kayaknya cemas banget. Lagi mikirin apa, sih?"


"Nggak ada, kok," bantahnya.


Lena mengangkat ponselnya lalu dengan cepat ia menggirinmkan pesan untuk Syifa.


[Syifa. Gw tadi ngeliat Glen makan malam dan ngerayain hari ulang tahunnya sama Kinara. Trus ada kedua orang tua mereka juga]


Pesan terkirim membuat kedua matanya itu sedikit membulat saat menatap centang satu, itu berarti Syifa tidak akan melihatnya.


"Itu anak kenapa, sih nggak aktif?"


"Biasanya dia nggak pernah, tuh matiin kuota."


Lena meletakkan ponselnya itu ke atas meja lalu baru saja ia ingin memasukkan spaghetti ke dalam mulutnya tiba-tiba dua keluarga itu bangkit dari meja restoran termasuk juga dengan Glen.


"Apa mungkin si Glen lupa atau dai baru aja mau pergi ke acara kejutan setelah pulang dari tempat ini?" pikir Lena.


"Tapi mana mungkin Glen bisa lupa. Mana Mungkin dia sempet ngerayain dua acara ulang tahun di dalam malam yang bersamaan."


"Mungkin gue harus tanya dia langsung," pikirnya lalu dengan cepat bangkit membuat Papa, Mama dan sahabat Mamanya itu mendongak.


"Mau ke mana Lena?"


"Lena mau-" ujaran yang terhenti menatap ke arah pintu di mana Glen sudah beranjak cukup jauh.


"Udah duduk! Masih banyak makanan kamu setelah ini kita mau pulang. Cepetan habisin!" perintahnya membuat mau tidak mau Lena kembali duduk di kursinya.


Ah, padahal dia ingin menanyakan kejutan ini kepada Glen, mungkin saja pria itu lupa.


...🕯️🕯️🕯️...