
...🕯️🕯️🕯️...
Suasana di kantin kali ini begitu sangat ramai. Siswa dan siswi berdatangan dari berbagai kelas dan bahkan terdapat beberapa siswa dan siswi yang nampak mengantri untuk memesan makanan. Ada juga yang terlihat sedang asyik bercengkrama sambil menunggu pesanannya datang.
"Mau makan dimana, ya?" tanya Lena yang kini berjalan bersama dengan Syifa.
"Pesan aja, deh! Syifa tunggu di sini." Tunjuk Syifa yang kemudian melangkah lalu duduk di sebuah bangku kantin.
"Gue dulu," ujar Kinara yang langsung datang dan duduk lebih dulu di kursi diikuti dengan dua sahabatnya Kiki dan Nura, dua gadis yang telah lama menjadi sahabat dari Kinara.
"Ini, tuh kursi yang udah dipilih sama kita berdua," tegur Lena yang tidak terima.
"Ih, apaan, sih? Ini, tuh kursi kantin bukan kursi lo lagian terserah, dong gue mau duduk dimana."
"Tapi masalahnya gue sama si Syifa dulu yang lihat kursi ini, jadi gue sama Syifa yang bisa duduk di sini," jelas Lena.
Kinara tersenyum kecil lebih tepatnya ada sebuah ke sinisan pada senyumnya itu. Apalagi saat ia melihat sosok Syifa yang hanya terdiam. Ia tersenyum bangga, tentu saja ia bangga karena ia merasa jika Glen lebih menyayanginya daripada menyayangi sosok Syifa yang memiliki hubungan spesial dengan sepupunya itu.
"Eh, lu tuh nggak punya otak, ya?"
"Len! udah."
"Tapi-"
"Udah, ayo! Nggak usah diladenin!" ujar Syifa lalu menarik pergelangan tangan Lena dan bawahnya pergi menuju bangku yang lain.
"Lu tuh kenapa, sih kayak ngebelain dia?"
"Syifa itu nggak ngebelain Kinara cuman Syifa itu capek banget ngelihat dia. Orang kayak dia itu nggak ada kelarnya kalau diladenin. Udah cepetan pesen makanan! Laper tau nggak."
"Ya udah. Tunggu di sini, ya! Lo mau makan bakso, kan?"
Syifa menganggukkan kepalanya membuat Lena melangkah dan mengantar pada barisan yang tidak terlalu panjang itu dan tak panjang saat ia pertama kali masuk ke dalam kantin.
Syifa terdiam ia menopang kepalanya dengan perasaan yang sedikit lemah. sesekali ia harus menegakkan tubuhnya untuk mencari pasukan udara. Rasanya paru-paru ini terasa sangat sesak. Ia juga sesekali menutup mulutnya yang beberapa kali menguap merasakan kantuk.
Dari kejauhan Kinara menatap Syifa yang masih terdiam di sana. Sepertinya akan seru jika ia memanas-manasi Syifa lagi pula ia tidak suka jika Syifa harus berpacaran dengan Glen, sepupunya itu.
Kinara bangkit dari kursi meninggalkan kedua sahabatnya yang sedang asyik bercerita di sana.
"Nar, lo mau kemana?" tanya Kiki.
"Gue ada urusan sedikit," jawabnya santai sambil melangkah melenggang mendekati Syifa yang nampak menopang kepalanya sambil memejamkan kedua matanya.
"Halo, selamat pagi!" sapanya membuat Syifa membuka kedua matanya cepat menatap sosok Kinara yang masih tersenyum.
"Kayaknya ngantuk banget, deh," ujarnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada saat ia kini berhadapan dengan Syifa.
Syifa melirik pelan lalu kembali tertunduk. Rasanya ia tidak tertarik untuk melayani sepupu dari pacarnya itu.
"Maksud Kinara?"
"Aduh, nggak usah pura-pura nggak tau, deh! Gue tau, kok kalau lo itu mau ngerayain hari ulang tahun Glen tapi sayangnya Glen malah ngerayain ulang tahunnya sama gue."
Tawanya begitu bahagia sambil bertepuk tangan dengan kecil.
"Seneng banget, deh tadi malam itu gue ngerayain hari ulang tahun Glen sama Papa dan Mama Glen terus juga kedua orang tua gue juga ada."
"Aduh, sumpah, deh. Gue tuh kayak ngerasa kalau kita tuh lagi pdkt-an gitu. Ada orang tua gue dan ada juga orangtua Glen. Seru banget, deh."
"Lo pernah enggak kayak gitu? Enggak pernah, ya?Aduh, kasihan banget."
Syifa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan berpura-pura mengalihkan perhatiannya sambil membuka buku menu yang ada di atas meja.
"Gimana, sih perasaannya nunggu Glen tapi enggak datang-datang juga. Sakit, ya? Atau capek?"
"Aduh, kasihan banget. Mau gue pijitin enggak, sih?"
"Pergi! Kinara itu cuman bikin Syifa jadi pusing tau nggak," ujar Syifa yang akhirnya bicara.
"Pusing? Aduh, kasihan banget. Lo pusing? Oh iya gimana sama Glen udah putus, ya atau belum? Atau nunggu gue yang ngomporin si Glan buat mutusin lo?"
"Kalau gue mau buat lo putus sama Glen gampang, sih sebenarnya. Gue cuman kasih tau dan ngompor-ngomporin si Glen dan udah gitu, selesai, deh. Lo sama Glen putus."
"Terserah Kinara mau ngomong apa lagian Glen juga enggak mau tuh putusin Syifa dan bahkan Glen juga takut, tuh Syifa putusin."
Seketika senyum Kinara lenyap dari bibirnya setelah mendengar ujaran Syifa. Gadis yang ada di hadapannya ini benar-benar membuatnya menjadi kesal namun, sedetik kemudian dia kembali tersenyum berusaha memperlihatkan kepada Syifa jika ia tidak termakan dengan omongan Kinara.
"Lo jangan macam-macam sama gue, ya! Gue bisa aja, tuh buat Papa sama Mamanya Glen nggak setuju sama hubungan lo."
"Gue tinggal ngomporin san ngasih sesuatu fakta yang nggak sesuai sama kenyataan dan lo bakalan diusir dari kehidupan Glen. Gampang, kan?"
Syifa terdiam, tak bicara sedikit pun.
"Jadi lo harus hormat sama gue. Oh iya lagian lo itu nggak cocok, loh sama si Glen."
"Oh, ya?" tanya Syifa yang tersenyum seakan sedang menantang.
"Ya iyalah. Kedua orang tua Glen itu lengkap sementara lo, keluarga lo itu berantakan. Mama sama Papa lo itu udah cerai jadi lo nggak pantas, tuh buat deket sama Glen."
Mendengar hal itu sontak kedua mata Syifa terbelalak kaget. Ia tak menyangka jika Kinara akan mengatakan hal ini kepadanya.
Syifa bisa terima jika Kinara menghina dirinya serta hubungannya terhadap Glen tapi ia tidak terima jika Kinara membawa sosok hubungan kedua orang tuanya yang telah bercerai itu.
...🕯️🕯️🕯️...