Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-50



Selesai dengan setangkai bunga mawar itu kali ini ia harus menjalankan tugasnya satu lagi yaitu menjemput Lena sahabatnya yang super lelet itu.


Kalau misalnya Syifa terlambat maka alasan satu-satunya yaitu Lena yang sibuk mencari buku-buku pelajaran atau bahkan seragam yang tidak lengkap. Hah, gadis itu sedikit menjengkelkan tapi Syifa sangat sayang.


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa menghentikan laju motornya. Ia menopang pinggang menatap ke arah rumah Lena yang telah terbuka. Syifa melangkah turun dari motor kemudian berpegangan pada besi permukaan besi pagar berwarna kecoklatan itu.


"Lena! Syifa udah datang, nih!"


Tak ada jawaban.


"Syifa udah datang, nih Len. Yuk berangkat!" teriaknya.


"Tunggu-tunggu!!!"


Suara teriakan terdengar membuat Syifa menoleh ke arah kiri, kanan berusaha mencari sosok pemilik suara yang tak terlihat orangnya.


"Woi Syifa! Gue di atas!" teriak Lena membuat si pendengar menatap sosok Lena yang terlihat berada di balkon atas.


"Lena! Ayo!"


"Tunggu gue, ya! Gue mau cari jepit rambut gue!"


"Oh gitu ya udah. Cepetan, ya!"


"Okay! Tunggu di depan, ya!"


"Iya Lena," jawab Syifa sambil tersenyum.


Wajah cemas dari Lena kini mendatar. Tak mengerti mengapa Syifa merespon ujarnya itu sambil tersenyum.


"Ya udah," jawabnya lalu kembali menutup jendela.


Syifa menarik nafas dalam-dalam. Ia tersenyum dan kembali duduk di atas jok motornya hingga beberapa menit ia menanti di sana hingga akhirnya suara langkah terdengar diiringi dengan pagar yang didorong membuat Syifa menoleh menatap sosok Lena yang berlari terbit-birit.


"Syif! Gue minta maaf. Udah telat banget, deh. Sorry banget. Gue nggak tahu jepit rambut gue tadi gue simpan dimana tapi gue udah cari dan akhirnya gue dapet, kok," jelas Lena dengan begitu khawatir.


Jujur saja dia sangat takut jika Syifa akan marah dan malah meninggalkannya seperti beberapa minggu yang lalu. Jika Syifa meninggalkannya maka siapa yang akan memboncengnya ke sekolah. Apalagi kedua orang tuanya itu telah pergi ke kantor dan tak akan ada yang mengantarnya.


Syifa tersenyum membuat wajah kegelisahan Lena lenyap begitu saja.


"Enggak apa-apa, kok. Syifa malah senang karena hari ini Syifa bisa berangkat sekolah bareng Lena," ujarnya dengan ikhlas membuat Lena melongo.


"Syifa, lu gila, ya?"


"Gila?" tanyanya tanpa pernah menghilangkan senyum dari bibirnya itu.


"Iya, lu gila. Lu harusnya marah kayak biasanya."


"Memangnya Syifa pernah marah sama Lena?"


Tak ada jawaban. Sunyi dan senyap. Syifa sangat aneh.


"Ayo yuk kita berangkat dari pada nanti terlambat!" ajaknya lalu memasang helm membuat Lena yang masih di belakang nampak masih mematung.


Oh, Tuhan. Ada apa dengan sahabatnya itu. Sepertinya dia mengalami sedikit perubahan. Bukan sedikit tapi banyak. Gadis ini seakan berubah sangat drastis.


Apa yang terjadi?


Syifa menoleh menatap sosok Lena yang masih mematung di belakangnya.


"Lena! Lena nggak mau berangkat sekolah bareng Syifa?"


"Ma-mau, kok."


"Yah, udah ayo cepetan naik nanti kita terlambat terus ketemu sama pak Trisno. Memangnya Lena mau dihukum sama pak Trisno?" jelasnya membuat Lena naik di atas jok motor bagian belakang milik Syifa.


...🕯️🕯️🕯️...


Selama perjalanan Syifa dan Lena tak pernah saling bicara. Lena bahkan merasa gugup setelah melihat perubahan Syifa hari ini. Ia sengaja menggerakkan kepalanya menatap pantulan wajah Syifa di kaca spion motor hingga dari sini ia bisa melihat jika sahabatnya itu sejak tadi tersenyum seakan hari ini begitu sangat bahagia.


Lihat saja bahkan sahabatnya kini seperti orang gila yang terus tersenyum bahkan ia tak jarang menyapa para pengemudi di jalanan membuat Lena hanya bisa menyebunyikan wajahnya di pundak Syifa.


"Syifa!" panggil Lena dengan hati-hati membuat Syifa yang masih tersenyum itu bicara.


"Iya Lena, kenapa?" tanyanya dengan bibir yang masih tersenyum membuat Lena meneguk salivanya.


Kali ini ia sangat takut. Apa gadis ini kerasukan?


"Nggak jadi. Gue nggak jadi ngomong," putusnya dengan wajah datar.


Ia sengaja memundurkan dudukannya dan menghasilkan celah antara ia dengan Syifa. Rasanya sangat takut berada di belakang Syifa seperti ini.


...🕯️🕯️🕯️...


Motor Syifa kini terhenti setelah ia berada di area parkiran sekolah. Ia melepas helm dari kepalanya dan meletakkannya di atas jok motor. Ia yang berniat melangkahkan kakinya meninggalkan parkiran terhenti saat ia bisa melihat sosok Lena yang berada di belakangnya dengan wajah datar serta kedua matanya yang nampak serius menatap ke arahnya.


"Kenapa, kok Lena ngeliatin Syifa kayak gitu?"


"Nggak apa-apa," jawab Lena lalu dengan cepat ia melepas helm dari kepalanya sambil sesekali mencuri-curi pandang menatap Syifa yang masih tersenyum disana.


"Lu kenapa, sih kayak gitu?"


"Kenapa? Syifa kenapa?" tanya Syifa yang semakin mengembangkan senyumnya membuat Lena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ia menggeliat ngeri lalu melangkah pergi meninggalkan parkiran membuat Syifa hanya bisa mengikuti langkah Lena menuju ruangan kelas.


Keduanya melangkahkan kaki melewati koridor. Beberapa ruangan kelas telah mereka lalui. Syifa yang masih tersenyum itu sambil sesekali menyapa salah satu siswa dan siswi yang ia lihat saat ia melangkahkan kakinya ke kelas membuat Lena yang berada di depannya itu dengan wajah bingungnya menoleh ke arah Syifa.


"Syifa!" ujar Lena yang dengan cepat meraih pergelangan tangan Syifa.


"Lu kenapa, sih?"


"Kenapa? Dari tadi Lena nanya melulu."


"Iya, lu aneh, deh."


"Aneh kenap,a sih?"


"Ah, tau ah. Lo kayak orang gila," kesalnya lalu dengan cepat melakukan kakinya menuju kelas membuat Syifa menggelengkan kepalanya dengan pelan diiringi dengan senyumnya yang sangat manis.


Lena melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kelas dimana di dalam kelas ini sudah beberapa teman-temannya yang lebih dulu datang dan telah berada dalam kelas dan duduk di bangkunya masing-masing.


Mereka yang sedang sibuk berbincang-bincang dengan teman sebangkunya dengan cepat menghentikan bisikan-bisikan-nya itu setelah melihat kedatangan sosok Lena.


Ya, Lena tau mereka semua pasti sedang membahas tentang kejadian kemarin dimana ia dan Syifa berkelahi dengan sepupu dari Glen itu.


Sepertinya semua anggota siswi di sekolah ini kembali mendapat gosipan terbaru untuk dibahas dan tentu saja yang mereka bahas itu pasti adalah dirinya.


"Selamat pagi semua," ujar Syifa membuat sontak kedua mata Lena membulat.


Rasanya nafasnya terhenti saat ia mendengar suara Syifa di belakang sana. Dengan cepat ia menoleh ke arah Syifa yang terlihat tersenyum di bibir pintu membuat semua orang melongo.


Syifa melangkahkan kakinya dengan santai menuju masuk ke dalam kelas. baru kali ini Syifa menyapa semua penghuni kelas dengan raut wajah sebahagia ini.


Tuhan, sahabatnya ini kenapa?


Syifa meletakkan tasnya itu ke kursi lalu duduk disana dengan senyuman yang pernah luntur dari bibirnya itu.


"Kenapa bisa kayak gitu, sih?"


"Kok, dia senyum-senyum?"


"Iya mungkin karena otaknya sudah kebentur waktu dihempas sama temannya Kinara."


Suara bisikan itu terdengar dari salah satu murid yang ada di dalam kelas membuat Lena yang mendengar hal itu terdiam.


Apa mungkin benar jika perubahan Syifa seperti ini karena kepalanya telah dihempas oleh sahabat dari Kinara kemarin?


Membingungkan.


...🕯️🕯️🕯️...