
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa melangkah keluar dari kamar mandinya sambil mengusap kepalanya yang masih basah itu dengan handuk putih. Ia melangkah mendekati klender yang ada di atas meja. Senyumnya mengembang saat ia mengetahui jika hari ini adalah hari kamis yang bertepatan dengan hari ulang tahun sang ayah tercinta.
"Hari ini ayah ulang tahun. Syifa harus kasih Ayah kejutan. Syifa tahu pasti ayah akan senang kalau Syifa kasih kejutan ulang tahun untuk Ayah," ujarnya gembira lalu dengan langkah yang begitu sangat bahagia ia meraih beberapa pakaian yang ada di lemarinya bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ayahnya. sudah beberapa minggu ini ia tidak bertemu lagi dengan sang Ayah.
Syifa merapikan rambutnya menyisirnya sedemikian rapi lalu meraih tas kecil dan melangkah keluar dari kamar.
"Mbok Jati! Mama mana, ya?" tanya Syifa saat ia baru saja tiba di lantai setelah menuruni anakan tangga.
"Mamanya ada di kamar, non."
Syifa mengangguk lalu tak pikir panjang dia segera melangkah menuju kamar Mamanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata Syifa melangkah masuk dalam kamar mendapati Mamanya yang sedang sibuk sambil tersenyum kecil dan ia nampak memegang handphone seakan sedang sibuk berbincang dengan seseorang lewat handphone tersebut.
"Mama!"
Seketika Rahmi tersentak kaget. Ia langsung menoleh dan bangkit setelah melihat Syifa yang ada di belakangnya. Tak ingin berpikir panjang mengenai siapa yang sedang diajak bercerita oleh Mamanya lewat handphone tersebut membuat Syifa mendekat.
"Loh, Syifa? Kamu buat Mama jadi kayak gitu aja, deh. Lain kali kalau mau masuk di kamar Mama itu ketuk pintu atau ngomong dulu, kek biar Mama nggak kaget kayak gini."
"Emangnya kenapa, sih Ma? Oh iya emangnya Mama lagi nelpon sama siapa?"
"Terserah Mama lah," jawabnya ketus dan Syifa bisa melihat raut wajah Mamanya menjadi gugup seakan takut jika Syifa mengetahui dengan siapa Mamanya itu bicara.
Rahmi menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Syifa. Yah sepertinya Rahmi baru menyadari jika penampilan anaknya itu tak seperti biasanya.
"Kamu mau kemana?"
"Syifa mau ke toko kue."
"Toko kue? Ngapain kamu ke toko kue?"
Syifa mendecakkan bibirnya sedikit kesal dengan pertanyaan tersebut. Bagaimana bisa Mamanya itu lupa dengan hal itu.
"Aduh, masa Mama lupa? Hari ini kan ulang tahun Ayah."
Setelah mendengar hal itu membuat Mamanya seketika terdiam. Ia benar-benar lupa jika hari ini adalah hari ulang tahun mantan suaminya itu.
"Oh," jawabnya singkat lalu berpaling dan berpura-pura sibuk dengan beberapa buku yang ada di atas mejanya.
"Oh iya Ma, Mama nggak mau datang ke rumahnya ayah?"
"Ngapain ke sana?"
Syifa melangkah mendekat kali ini ia punya niat untuk mendekatkan Mamanya dengan Ayahnya itu kembali. Ya walaupun Syifa tahu ini sama sekali tidak mungkin membuat Mama dan ayahnya itu bersatu tapi ia hanya ingin melihat Ayah dan Mamanya bersatu kembali hanya beberapa menit untuk dirinya. Tentu saja Syifa akan merasa jauh lebih bahagia.
"Ya biasa Ma, kan biasanya kalau acara ulang tahun itu kan kumpul-kumpul bareng. Gak mungkin dong kalau Syifa datangnya cuma sendiri aja kasih kejutan buat Ayah."
"Kejutan apa, sih Syifa? Ayah kamu tuh nggak penting apalagi mau dikasih kejutan kayak gitu."
"Dia itu udah sibuk. Sibuk sama keluarga barunya. Lagian apa untungnya, sih kasih kejutan kayak gitu? Kayak nggak ada kerjaan lain aja."
Seketika senyum Syifa lenyap dari bibirnya raut wajah yang sedikit lebih ceria kini berubah menjadi murung namun, secepat itu pula Syifa kembali mengembangkan senyumnya.
"Nggak apa-apa, sih kalau memang nggak mau buat nemenin kasih kejutan buat Ayah tapi Mama mau, kan kalau Mama nemenin Syifa buat beli kue."
"Nggak ada. Mama gak punya waktu," jawabnya ketus.
"Aduh, ayo lah Ma! Sekali aja! Nggak lama, kok palingan cuma 15 menitan aja."
"Syifa daripada Mama nemenin kamu buat beli kue dan ngelakuin hal-hal yang enggak ada pentingnya itu mendingan mama tidur atau ngurus kerjaan aja."
"Lagian kamu, tuh kenapa sih harus peduli sama orang itu. Dia aja nggak peduli sama kamu, kok kamu repot-repot mau peduli sama dia."
"Kamu tahu nggak kalau Ayah kam,u tuh udah nggak peduli lagi sama kamu. Dia lebih mentingin keluarga barunya sama si istri barunya itu dan kamu mikir lah mana pernah sih dia ngerayain ulang tahun kamu."
"Pernah enggak dia datang ke rumah ini terus ngasih kamu ucapan atau kejutan gitu seperti apa yang kamu ingin lakukan sama dia?"
"Pernah enggak? Nggak pernah, kan? Kamu aja sih yang mau ngerepotin diri sendiri."
"Ya namanya juga orang sibuk, Ma jadi Ayah nggak punya kesempatan buat kasih kejutan buat Syifa," ujar Syifa dengan senyuman.
"Ya setidaknya dia chat atau ngapain gitu biar dia ngasih kamu ucapan selamat ulang tahun."
"Udahlah Syifa, dia tuh nggak peduli lagi sama kamu. ayah kamu tuh udah berubah dia bukan ayah yang seperti dulu kamu kenal dia itu lebih sayang sama anak barunya," lanjutnya.
Seketika kedua mata Syifa memanas, wajahnya juga ikut memanas, kedua matanya terhalang dengan genangan air mata yang siap jatuh kapan saja. Ucapan Mamanya itu terdengar sangat menyakitkan.
Apa lagi secara tidak langsung Mamanya mengatakan jika Ayahnya itu sudah tidak sayang lagi dengan dirinya. Apakah kalimat itu telah menunjukkan bagaimana keadaan hati Ayahnya kepada dirinya saat ini.
"Terus bedanya Ayah sama Mama itu apa?" ujaran itu sontak membuat Rahmi menoleh menatap sosok putrinya yang kini masih berdiri di belakangnya.
"Apa bedanya Mama sama ayah?"
"Ayah sama Mama itu juga nggak ada bedanya, kok. Mama juga nggak pernah ngasih Syifa kejutan atau ucapan selamat ulang tahun untuk Syifa."
"Ayah sama Mama sama aja tuh. Terakhir kali apa? Mama sama Ayah ngerayain ulang tahun Syifa cuman pas Syifa kecil aja, kan?"
"Dan sekarang udah nggak lagi. Udah berapa tahun ini nggak pernah lagi ngerayain hari ulang tahun Syifa. Bahkan Syifa udah lupa kapan terakhir kali hal yang membahayakan itu terjadi."
"Mama itu sama Ayah nggak ada bedanya. Nggak ada yang peduli sama Syifa."
Syifa menarik nafas dalam-dalam seakan benar-benar merasakan sakit di hatinya yang begitu dalam berusaha memperkuat hatinya agar bisa mengatakan hal ini.
"Syifa nggak apa-apa, kok kalau Ayah udah nggak sayang lagi sama Syifa tapi setidaknya Mama enggak usah ngomong kayak gitu."
"Syifa tahu ayah udah enggak sayang lagi sama Syifa tapi Syifa selalu berharap kalau Ayah masih sayang dan peduli sama Syifa."
"Kalau Mama enggak mau nemenin Syifa kasih kejutan atau beli kue buat Ayah, yah udah enggak apa-apa."
"Syifa bisa sendiri, kok lagian kalau nggak ada Mama juga bagus," jelasnya lagi lalu melangkah keluar meninggalkan Rahmi yang langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur seakan menyesal dengan kalimatnya itu tapi ini benar semuanya, benar tak ada yang salah.
...🕯️🕯️🕯️...