
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa menekan kepalanya dengan sangat erat, sakit sekali. Rasanya ia ingin menangis sesegukan dan berteriak dengan keras tapi ia tidak ingin jika Glen mendengar suara tangisannya itu dan dia tak ingin jika Kinara mengira kalau ia berusaha untuk mencari perhatian Glen seperti apa yang Kinara lakukan sekarang.
Bukankah Kinara lebih penting daripada semuanya.
Lena kembali menatap cemas. Ia duduk di kursi lalu mengelus kepala Syifa yang kedua matanya meneteskan air mata. Gadis itu menangis.
"Syifa, lu nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa," jawabnya hingga suara isakan tangis berhasil lolos dari mulutnya namun, dengan cepat pula ia menutup mulutnya itu dengan jemari tangannya.
"Terus lo kenapa nangis kalau nggak apa-apa?"
Senyap, tak ada jawaban dari Syifa.
"Beneran sakit banget. Tuh, luka-luka Kinara sakit banget kakak Glen."
"Tau nggak pacar kakak Glen itu mukulnya kenceng banget. Kinara tuh nggak punya salah apa-apa sedikitpun sama pacar kakak tapi dia malah mukul aku."
"Jahat banget kan dia? Ih kesel banget, deh pokoknya. Kinara bakalan kasih tau Mama sama Papa kalau pacar kakak Glen itu mukul Kinara," aduh Kinara.
"Udah nggak usah diperpanjang masalahnya. Lagian Syifa juga luka-luka, kan," ujar Glen menenangkan.
"Mana ada luka-luka? Coba aja lihat dia, tuh nggak ada suaranya dan berarti dia itu nggak sakit cuman pura-pura aja. Buktinya suaranya nggak kedengeran, tuh."
"Kalau emang dia sakit banget pasti dia bakalan teriak kayak si Kinara."
"Tau nggak, sih dia itu hampir ngecekik Kinara. Hampir mati Kinara ini," adunya lagi yang masih melebih-lebihkan.
Ujung bibir Lena terangkat begitu sangat jijik setelah mendengar omongan kebohongan dari Kinara.
Glen menoleh ke arah tirai yang ada di sampingnya dimana Syifa ada di sana. Entah bagaimana keadaan Syifa sekarang.
"Tunggu di sini, ya!"
"Ih mau kemana?" tanya Kinara yang dengan cepat meraih pergelangan tangan Glen membuat langkah Glen terhenti.
"Udah, tunggu di sini dulu!"
"Tapi mau kemana?"
"Tunggu dulu! Nggak lama, kok!" ujarnya dengan lembut lalu melangkah pergi meninggalkan Kinara yang masih berteriak berusaha untuk menghentikan langkah Glen.
Glen melangkah menghampiri Syifa yang kini masih berbaring di sana sementara Lena nampak sedang memberikan pertanyaan mengenai apa yang dirasakan oleh Syifa.
"Gimana sama keadaan Syifa?"
Suara pertanyaan itu lantas membuat Lena menoleh menatap Glen yang mendekat.
"Oh peduli juga lo sama si Syifa? Gue kirain lu cuma peduli sama si Kinara aja."
"Eh gue nggak lagi cari masalah, ya sama lo!"
"Udahlah! Kalaupun lu mau ngomong sama Syifa, Syifa juga udah nggak mau lagi, tuh ngomong sama lo."
"Udah sana minggir!" perintahnya membuat Lena mau tidak mau melangkah mundur memberikan jalan untuk Glen duduk di kursi dimana sejak tadi ia duduk di sana.
Glen mendekat dari sini ia bisa melihat wajah Syifa yang nampak sengaja ditutup dengan tangannya hingga Glen tidak mampu melihat wajah Syifa dengan jelas.
"Syifa, lo nggak apa-apa, kan?"
Tak ada jawaban, hening.
"Syifa! Jawab, dong! Jawab! Jangan buat gue jadi khawatir."
"Oh, jadi ternyata lo khawatir juga," sahut Lena membuat Glen menoleh.
"Bisa nggak, sih lo nggak usah ngomong?" Tatapnya tak suka.
"Oh, ya tapi udahlah Syifa juga nggak mau ngomong sama lo karena Syifa juga udah tahu kalau lu itu lebih mentingin Kinara daripada Syifa."
"Maksud lo?"
Lena kembali tersenyum sinis lalu berujar, "Udahlah, Glen! Semuanya juga udah tau ditambah lagi saat lo lebih milih buat nyamperin si Kinara daripada Syifa."
"Lu bisa-bisanya ngelewatin berangkar tempat Syifa dan lebih memilih buat datang ngeliat Kinara-"
"Len, gue ngelakuin itu karena terpaksa. Gue denger suara Kinara teriak-teriak. Gue khawatir gue pikir dia emang sakit banget," bela Glen.
Glen memejamkan kedua matanya dengan erat bahkan telinganya seakan panas mendengar ocehan dari Lena yang tak ada hentinya.
"Lo berisik banget, sih?" kesal Glen membuat Lena tersenyum sinis.
"Ups, ya udah sorry, deh."
Glen kembali menoleh menatap sosok Syifa lalu berusaha menyentuh jemari tangannya namun, suara Syifa akhirnya terdengar.
"Pergi!"
Dahi Glen mengeryit. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Syifa.
"Pergi sekarang!"
"Tapi-"
"Pergi!!!" teriaknya membuat Kinara beserta kedua temannya yang ada di sebelah itu tersenyum bahagia.
"Pergi sekarang!" suruhnya lagi.
"Tapi kenapa?"
"Pergi! Syifa mau sendiri aja. Syifa enggak mau ada orang di sinim. Syifa cuma mau sendiri!"
"Tapi gue khawatir sama keadaan-"
"Pergi! Syifa nggak butuh siapapun di sini. Pergi sekarang!"
"Syifa gue tau lu ngerasa kecewa karena-"
"Pergi Syifa bilang! Syifa enggak mau dengar apa-apa lagi! Pergi!"
"Tapi apa yang sakit? Gue cuman mau tanya itu sama lo."
"Nggak usah peduliin Syifa! Pergi sekarang!"
Hembusan nafas berhasil lolos dari rongga mulut Glen. Ia tertunduk sejenak lalu dengan perlahan dia mengangguk lalu bangkit dan akhirnya ia melangkah pergi menghampiri Kinara dan membantu sepupunya itu untuk segera keluar dari ruangan UKS.
"Disaat-saat seperti ini lu masih bisa, ya ngantar si Kinara pulang," singgung Lena membuat langkah Glen terhenti sejenak.
Ia menatap ke arah Syifa yang masih terbaring di sana. Apa kali ini ia telah membuat sebuah kesalahan.
"Kak Glen, ayo!" ajak Kinara membuat Glen kembali melajutkan langkahnya membawa Kinara keluar dari ruangan UKS.
Melihat hal itu dengan cepat Lena berlari menghampiri Syifa yang masih terbaring di sana.
"Syifa, kepala lu udah nggak sakit lagi, kan?"
"Masih, masih sakit," jawab Syifa yang meringis hingga suara tangisannya kini terdengar. Sudah sejak tadi ia menahan sakit di kepalanya itu.
"Glen udah pergi, kan?"
"Udah pergi."
"Beneran?"
"Iya, dia pergi sama Kinara. Kayaknya dia mau ngantar si Kinaray pulang. Lu gimana? Lo mau gue antar pulang juga?"
"Mau," jawab Syifa tanpa pikir panjang.
Jawaban itu membuat Lena semakin cemas, itu berarti sakit yang dirasakan oleh sahabatnya begitu sangat tinggi sehingga ia mau diantar pulang. Biasanya saat Lena sakit ia selalu menolak untuk pulang dan mengatakan jika belajar lebih penting tapi sekarang ia malah setuju untuk diantar pulang jadi itu berarti kepala Lena begitu sangat sakit.
"Ya, udah yuk! Gua entar pulang," ajak Lena lalu ia menarik pergelangan tangan Syifa membantunya untuk bangkit dari berangkar.
Syifa memejamkan matanya begitu erat. Rasanya kepalanya benar-benar sangat sakit, berdenyut di dalam sana dan terasa ingin pecah saja. Tubuh Syifa bergetar berusaha menahan sakit.
Isakan tangis kecilnya berhasil lolos membuat Lena merasa semakin sangat khawatir.
"Lu yakin bisa pulang?"
"Len, Syifa udah nggak tahan lagi," ujarnya lalu di saat kedua kaki Syifa menyentuh lantai dan disaat itu pula tubuh Syifa tumbang.
Ia terjatuh ke lantai begitu saja membuat Lena yang berusaha membantunya tadi berjalan ikut jatuh ke lantai. Kedua mata panik Lena menatap wajah pucat Syifa yang terkulai, tak sadarkan diri.
"Syifa! Syifaaaa!!!" teriaknya begitu panik.
...🕯️🕯️🕯️...