
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa memarkirkan motornya di pekarangan rumah. Ia melepaskan helm yang sejak tadi melindungi kepalanya selama perjalanan. Keningnya saling bertaut setelah melihat mobil yang tak pernah ia lihat sebelumnya terparkir di halaman rumahnya.
"Mobil siapa, ya?"
Syifa terdiam sejenak berusaha memikirkan dan menebak-nebak di dalam batin siapakah pemilik mobil tersebut. Mobil ini bukanlah mobil milik Mamanya lagi pula Mamanya jika jam seperti ini belum pulang dari kantor lalu siapa pemilik mobil ini?
Lelah menebak-nebak dengan rasa penasarannya ia mulai melangkah masuk ke dalam rumah hingga langkahnya yang penuh dengan penasaran itu langsung terhenti saat sosok pria berjas hitam terlihat duduk di sofa ruang tamunya.
Nampak pula Mamanya, Rahmi yang terlihat meletakkan secangkir kopi ke atas meja.
"Mama!"
Rahmi menoleh menatap Syifa dengan senyum bahagia menyambut kedatangan Syifa.
"Syifa, kamu sudah pulang?"
Syifa tak menjawab. Ia melirik tak suka pada sosok pria yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat pria itu. Batinnya menebak siapa pria ini dan mengapa ia bisa berada di rumah.
Apakah pria ini adalah kerabat jauh dari Mamanya atau pria ini adalah rekan kerjanya. Syifa melangkah mendekati sosok mamanya lalu menyalin tangan Mamanya itu.
"Nah, ini anak aku namanya Syifa."
Pria berjas itu mengangguk. Bibirnya terlihat tersenyum seakan bahagia melihat kedatangan Syifa namun, berbeda jauh dengan Syifa. Rasanya Syifa tak suka dengan pria yang ada di hadapannya itu.
"Oh jadi ini namanya Syifa, cantik ya," simpulnya saat ia menatap dari ujung kaki hingga ke ujung rambut Syifa membuat Syifa agar tidak nyaman dengan sorot mata itu.
"Oh iya, Syifa perkenalkan ini namanya pak Jaya. Pak Jaya ini adalah rekan kerjanya Mama di kantor. Dia karyawan baru di kantor. Baru saja sebulan dia kerja di kantor."
Syifa mengangguk lalu kembali melirok tak senang pada pria di hadapannya. Entah mengapa tapi rasanya Syifa tak suka dengan pria ini. Lebih tepatnya ia tak suka jika ada pria yang mendekati Mamanya walaupun itu hanya bisa dikatakan sekedar sahabat atau teman saja.
"Syifa! Ayo kenalan dulu, dong sama om Jayai" bisik Rahmi hingga tak berselang lama Jaya menjulurkan jemari tangannya yang terlihat agak besar itu sesuai dengan postur tubuhnya yang tinggi dengan badan yang terlihat agak berisi.
"Syifa! Syifa ayo salaman sama om Jaya!" bisik Rahmi dengan nada suaranya yang ditekan.
Syifa terdiam. Ia menatap wajah pria itu dengan serius. Pria itu terlihat tersenyum dengan wajahnya yang terlihat menjengkelkan, benar-benar menjengkelkan.
Syifa mendecakkan bibirnya dengan kesal lalu ia melangkah pergi tanpa menjabat tangan kepada pria itu sesuai dengan perintah Mamanya.
"Loh? Syifa! Syifa mau ke mana?!!" panggil Rahmi yang menatap kepergian Syifa begitu saja.
Rahmi mengucapkan bibirnya sedikit kesal dengan sikap Syifa yang baru kali ini bersikap seperti itu.
Rahmi menoleh dengan perasaan tidak enak menatap Jaya, teman sekantornya yang terlihat mematung dengan jemari tangannya yang masih terjulur menanti jabatan tangan dari Syifa yang telah diabaikan olehnya.
"Aduh, maaf ya. Nggak biasanya, sih Syifa kayak gitu. Biasanya Syifa kalau sama orang baru dia ramah, kok tapi mungkin hari ini moodnya agak nggak baik maklum saja, ya namanya juga anak perempuan."
"Oh iya silakan diminum kopinya, keburu dingin!"
"Terima kasih."
Jaya duduk di atas sofa. Pandangannya menatap ke arah dimana terakhir kali ia melihat sosok Syifa yang melangkah pergi meninggalkannya begitu saja.
Jaya menyeruput kopi buatan Rahmi tetap dengan sorot matanya masih menatap ke arah pergi Syifa. Bukan tanpa alasan. Untuk pertama kalinya ada yang melakukan hal itu kepadanya, sedikit tidak sopan tapi tidak apa-apa maklum saja anak mana yang suka melihat Mamanya itu dekat dengan seorang pria dan kali ini Jaya hanya sekedar memaklumi.
"Jaya!" panggil Rahmi membuat jaya tersentak dari lamunannya.
"Ada apa?"
"Kok, malah bengong, sih? Lagi mikirin apa?" Jaya tersenyum kecil.
Ia meletakkan secangkir kopi itu ke atas meja dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa tapi sepertinya Syifa agak tidak suka dengan kedatangan aku di sini."
"Ah, tidak itu hanya perasaan kamu saja. Syifa itu anaknya baik cuman, ya aku juga tidak mengerti kenapa Syifa jadi kayak gitu atau mungkin karena semalam aku tidak memberikan ucapan ulang untuk dia."
"Ulang tahun? Jadi Syifa ulang tahun hari ini?"
"Iya Syifa ulang tahun hari ini yang ke-16 tahun."
"Benarkah Syifa ulang tahun yang ke-16 tahun? Jadi anak kamu itu sudah berusia 16 tahun?" tanyanya lagi yang seakan tidak percaya.
"Iya mungkin dia juga marah sama aku soalnya aku belum kasih dia ucapan ulang tahun."
"Kenapa seperti itu? Harusnya, kan kamu kasih dia ucapan atau sebuah kado untuk memberikan dia sedikit senyuman."
"Hah, aku tidak punya waktu untuk melakukan hal itu semua. Lagi pulang aku sibuk. Kita, kan juga harus terbiasa."
"Tidak semestinya seperti itu. Setiap tahunnya ulang tahun itu harus dirayakan atau perlu harus diucapkan sebuah kalimat selamat ulang tahun."
"Tapi sepertinya mengucapkan selamat ulang tahun atau merayakan dan bahkan memberikan kado sepertinya terlalu berlebihan."
"Ayolah! Itu bukan sebuah kelebihan tapi itu sebuah kebahagiaan yang diberikan kepada seorang anak. Lihat saja sekarang apa yang terjadi pada anak kamu itu! Dia terlihat marah."
"Coba kamu merayunya sedikit mungkin mood-nya akan menjadi baik dan dia tidak akan bersikap buruk atau mengabaikan jabatan tanganku."
Kalimat itu membuat Rahmi terdiam. Benar juga apa yang dikatakan oleh temannya itu.
"Ya, baiklah terima kasih atas sarannya. Silahkan diminum kopinya lagi!"
"Ya, ya terima kasih."
...🕯️🕯️🕯️...