
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan-nya dengan kasar. Mendengar ujaran mbok Jati yang begitu sangat lemah lembut seakan telah berhasil menyentuh hatinya ditambah lagi saat mbok Jati menyentuh dengan lembut kepalanya. Hal ini belum pernah dilakukan oleh Mamanya sedikitpun, dulu pernah tapi sekarang tidak lagi.
"Syifa enggak suka sama Kinara."
"Kinara?"
"Kinara yang dipukul sama Syifa."
Mbok Jati menganggukkan kepalanya. "Dia ngomong apa sama Syifa?"
"Banyak. Dia bilang kalau Syifa itu nggak cocok sama Glen."
"Pacarnya non Syifa, ya?"
"Iya. Kenapa ndak cocok padahal mbok lihat cocok, kok."
Syifa kemudian terdiam memikirkan sesuatu membuat mbok Jati menatapnya bingung seakan ada yang sedang disembunyikan oleh Syifa.
"Ada apa?"
"Jadi sebenarnya Syifa itu mau ngomong ini tapi enggak tau mau ngomong sama siapa."
"Ngomong apa? Bilang aja sama mbok!"
"Tapi janji, ya jangan kasih tau siapa-siapa, ya mbok Jati!"
"Ndak bakalan ngomong sama siapa-siapa. Mbok Jati bakalan tutup mulut. Endak bakalan kasih tau apa pun yang dikatakan sama Syifa ke mbok Jati."
Mendengar hal itu membuat Syifa tersenyum sepertinya ia akan punya teman cerita sekarang.
"Jadi waktu malam senin, Syifa itu buat acara ulang tahun buat Glen. Semacam kejutan gitu."
"Wah, seru, dong non."
"Seru, sih tapi semuanya kacau."
"Loh kacau kenapa?"
"Syifa udah kasih tahu Glen buat datang jam sepuluh dan Syifa udah siapin semuanya dari dekorasi, kue ulang tahun bahkan Syifa udah pakai gaun warna hitam."
"Terus non?"
"Terus Syifa nunggu sampai berjam-jam."
"Sampai jam berapa?"
"Jam dua malam."
"Jam dua malam?!!" kagetnya sambil menutup mulutnya itu dengan jemari tangannya.
"Kok lama banget?"
"Iya mbok dan Glen melanggar janji. Dia nggak datang ke restoran."
"Loh, kok ndak datang? Kenapa? Endak dichat mungkin atau mungkin dia lupa juga."
Syifa tersenyum lalu menggelengkan kepalanya
"Nggak, mbok."
"Terus kenapa?"
"Dia ngerayain hari ulang tahunnya dan ngadain makan malam sama keluarga dan juga sepupunya itu."
"Sepupunya yang mana?"
"Kinara."
"Kinara? Kinara yang udah Syifa ajak berantem itu?"
"Sebenarnya Syifa enggak ngajak berantem cuman waktu di kantin dia datang terus ngomong yang banyak hal kalau sebenarnya Glen itu lebih sayang ke Kinara daripada sama Syifa."
"Terus dia juga ceritain gimana perasaannya ngerayain hari ulang tahun bareng Glen. Dan dia juga bilang dia seneng banget bisa sama-sama Glen di hari ulang tahunnya."
"Dia juga ngetawain Syifa karena udah nunggu lama sementara Glen lagi asik makan malam dan ngerayain hari ulang tahunnya sama Kinara," jelasnya.
"Terus? Non Syifa langsung berantem?" tebaknya membat Syifa menggelengkan kepala.
"Belum."
"Syifa berantem pas Syifa dengar kalau Kinara bilang kalau keluarga Syifa itu udah hancur. Katanya Syifa enggak serasi sama Glen karena Glen itu punya keluarga yang lengkap sementara keluarga Syifa udah hancur."
"Katanya Mama sama Papa udah cerai dan juga nggak cocok sama Glen. Syifa marah, sumpah Syifa nggak suka kalau Kinara itu ngejelek-jelekin hubungan Mama sama Papa."
"Syifa tau kalau Mama sama Papa itu emang udah cerai tapi Syifa enggak mau kalau Kinara bilang kayak gitu."
Mbok Jati terdiam mendengar penjelasan putri majikannya itu.
"Mbok!"
"Ada apa non?"
"Kenapa, sih Mama sama Papa harus cerai? Bukannya mereka menikah karena saling mencintai lalu kenapa harus cerai?"
"Kalau pernah ada rasa saling mencintai kenapa harus pisah?" tanyanya dengan raut wajah sedih membuat mbok Jati segera menyentuh kepala Syifa dan mengelusnya dengan lembut. Ia menarik kepala majikannya itu dan menyandarkannya di dadanya.
"Mbok tau kalau Syifa nggak mau keluarganya seperti ini. Papa sama Mama juga nggak mau, tuh kalau harus cerai tapi kita tidak tahu masalah apa yang terjadi di balik perceraian dan perpisahan antara Mama sama Papa, Syifa."
"Tapi sekarang Syifa sedih."
"Kenapa harus sedih?"
"Soalnya keluarga teman-teman Syifa itu lengkap semua nggak kayak keluarga Syifa. Mama, Papa udah punya keluarga bahkan Papa juga udah punya anak."
"Sekarang Papa juga udah nggak balas chat dari Syifa lagi," lanjutnya.
"Loh, ya pikir positif saja, non. mungkin Papa lagi sibuk kerja."
"Sibuk kerja? Dulu juga sibuk kerja tapi masih sempat balas chat Syifa tapi sekarang udah nggak balas chat Syifa lagi."
"Terus Mama juga sekarang lagi deket sama cowok, namanya pak Jaya. Syifa nggak suka kalau Mama deket-deket sama cowok."
"Kalau Mama dekat sama cowok terus nikah sama pak Jaya terus gimana sama nasib Syifa?"
"Loh, tentu saja sama Mamanya Syifa. Mau sama siapa lagi?"
"Syifa takut, mbok."
"Takut kenapa?"
"Takut nanti Mama bakal kayak Papa yang bakalan ninggalin Syifa dan sibuk sama keluarga barunya. Keduanya pasti bakalan buat keluarga baru terus Syifa gimana?"
"Pasti mereka berdua bakalan lebih perhatian sama keluarga barunya sementara hasil dari keluarga lamanya ditinggalkan dan juga dilupakan."
"Syifa mau keluarga Syifa itu kembali lagi seperti dulu. Ada Papa, ada Mama, ada yang mbok Jati juga."
Mbok Jati tersenyum kecil saat Syifa menyebutkan namanya di dalam keluarga itu.
"Ini kan sudah ketentuannya tapi suatu saat nanti percaya sama mbok Jati kalau kehidupan Syifa itu akan bahagia."
"Bahagia?"
"Iya, sekarang dengar apa yang mbok bilang sama
Syifa kalau kehidupan ini seperti roda. kadang di atas, kadang di bawah."
"Kadang bahagia, kadang sedih. Dulu, kan bahagia terus sedih. Nah, nanti bahagia lagi terus-"
"Sedih lagi?" potong Syifa.
"Kalau bisa bahagia terus kenapa harus jadi sedih? Caranya agar bisa bahagia yaitu mempertahankan kebahagiaan itu. Ada batu untuk mengganjal roda agar tetap berada di atas. Jadikan yang di atas itu adalah kebahagiaan sementara kesedihan ada di bawah," ujarnya dengan lembut sambil membelai dan menyisir halus rambut milik Syifa.
Rasanya Syifa ingin menangis setelah mendengar ujaran mbok Jati yang benar-benar membuat hatinya seakan begitu sangat tersentuh. Perasaannya benar-benar sangat bahagia setelah mendengar ujaran mbok Jati.
Entah mengapa baru sekarang ia bisa mengatakan hal ini kepada mbok Jati tapi sejujurnya Syifa ingin mengatakan satu hal kepada mbok jati tapi ia takut untuk mengatakannya.
Mungkin mbok Jati bisa mengatakan jika kebahagiaan akan datang setelah kesedihan lalu bagaimana dengan hasil pemeriksaan Syifa. Apakah penyakit kanker otaknya ini akan membuat sebuah kebahagiaan nanti? Sepertinya tidak, tidak akan ada sebuah kesedihan yang akan datang untuknya.
Penyakit ini tentu saja akan menghantuinya sepanjang hidup. Kanker otak ini bukan main-main. Syifa harus apa sekarang.
Di luar sana tanpa Syifa dan mbok Jati ketahui ternyata sosok Rahmi berdiri di depan pintu mendengar ujaran Syifa dan mbok Jati. Rahmi mengusap pipinya yang basah itu, tak sadar air matanya menetes setelah mendengar semua penjelasan dari putrinya.
Rupanya alasan dari perkelahian itu karena omongan dari lawan berkelahi dari putrinya. Ia bener-bener sangat salah. Ia mengira jika Syifa berkelahi di sekolah karena ingin dipandang tinggi dan memberitahu kepada semua orang jika iya adalah orang yang hebat padahal Syifa berusaha untuk membela keluarga yang telah hancur itu.
Ia tau jika perpisahan tidaklah indah di mata seorang anak. Perceraian bukanlah sebuah jalan satu-satunya dan sangat dibenci oleh Tuhan tapi jika sosok suami yang telah selingkuh, apa mungkin ada sebuah kata maaf yang bisa menggantinya bahkan sebuah air mata saja tidak bisa menggambarkan bagaimana sakitnya jika mengetahui suami yang sangat kita sayangi telah memiliki gadis lain di belakang sana.
...🕯️🕯️🕯️...