Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-08



...🕯️🕯️🕯️...


Kini Glen terdiam. Ia sangat merasa bersalah karena tidak bisa menemani Syifa disaat ia pingsan. Tanpa pikir panjang Glen dengan cepat menghempas tangan Kinara lalu berlari pergi membuat Kinara berteriak.


"Kakak Glen!"


"Aduh, lo emang suka banget, ya teriak-teriak?"


Kinara menoleh menatap tak senang pada sosok Lena yang kini menatapnya dengan begitu sinis.


"Lo nggak suka ya kalau ngeliat Glen dan Syifa itu baikan. Kenapa, sih lo suka banget ganggu hidup orang."


"Heh! Gue nggak punya masalah ya sama lo!" Tunjuk Kinara membuat mata sinis Lena menatap ke arah jari telunjuk Kinara.


"Lu emang nggak punya masalah sama gue..." ujarnya yang dengan keras menampar jari telunjuk Kinara membuat gadis itu meringis.


"Aw, sakit tau nggak."


"Tapi gue punya masalah sama lo," sambung Lena.


Kinara menyentuh pergelangan tangannya. Ia masih meringis.


"Gue nggak punya masalah sama lo."


"Kalau lo berani berurusan sama Syifa berarti lo juga udah berurusan sama gue karena gue adalah sahabat Syifa. Ngerti lo."


Kinara terdiam. Raut wajahnya nampak kesal.


"Gue tau, ya apa niat licik lo itu. Lo mending bawa diri lo ke rumah sakit aja!"


"Maksud lo?"


"Iya, hati lo kayaknya busuk, deh jadi nggak suka ngelihat orang bahagia. Selamat, ya lo udah berhasil ngebuat sahabat gue jadi sedih. Lu keren, sih."


Lena melangkah pergi meninggalkan Kinara yang nampak begitu sangat kesal. Seluruh tubuhnya terasa panas. Amarah menjadi mimik wajahnya. Bisa-bisanya Lena mengucapkan hal itu kepadanya. apa dia benar-benar mengancamnya tersenyum sinis membuat sudut bibirnya terangkat.


"Lihat aja! Gue bakalan buat sahabat lo itu jadi menderita. Lo pikir gue bakalan ngerelain kakak Glen pacaran sama sahabat lo itu. Nggak bakalan."


"Kita lihat aja siapa yang menang. Gue atau sahabat lo itu."


...🕯️🕯️🕯️...


Glen berlari menyusuri koridor berusaha mencari sosok Syifa yang tak kunjungi ia lihat. Sesekali ia bertanya pada siswa-siswi yang ia temui namun, semuanya mengatakan jika mereka tidak melihat sosok Syifa membuat Glenn semakin merasa khawatir. Ia harus cepat dan menjelaskan yang sebenarnya kepada Syifa jika yang ia lihat tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


Glen menghentikan langkahnya saat ia berhasil masuk ke dalam ruangan kelas hanya ada beberapa siswi yang sedang sarapan di bangkunya.


"Sorry gue ganggu. Gue mau nanya. Lo berdua ngelihat Syifa?"


"Enggak, Syifa enggak ada."


"Tadi dia dihukum sama pak Tejo terus disuruh berdiri di depan tiang bendera," jawab siswi yang satu.


"Terus Syifa pingsan mungkin dia masih di UKS," sahut siswi dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


Ternyata bener apa yang dikatakan oleh Lena jika Syifa benar-benar pingsan tadi saat ia dihukum. Hal ini membuatnya semakin merasa khawatir dan bersalah. Dasar bodoh! Bagaimana bisa ia membiarkan pacarnya itu pingsan begitu saja.


Tanpa mengucapkan sepatah kata kepada si pemberi informasi Glen kembali melanjutkan larinya. Ia melangkah menuruni anak tangga menuju ruangan UKS yang nampak terlihat begitu sepi.


Glen membuka pintu ruangan UKS mendapati ruangan UKS yang kosong, tak ada seorangpun di sana bahkan anggota PMR pun yang bertugas di ruangan UKS tidak ada. Mungkin anggota PMR sedang berada di stadion mini lapangan bola basket untuk menolong jika seandainya tim pemain ada yang mengalami cedera.


Glenn melangkah menghampiri buku pengunjung yang berada di atas meja membuat Glen dengan cepat membukanya lalu menyentuh permukaan kertas itu dengan jari telunjuknya berusaha mencari nama Syifa di sana dan benar saja gerakan jari Glen terhenti saat ia berhasil menyentuh nama Syifa di urutan terakhir dengan tanggal, hari dan jam yang tertera.


Dengan perasaan yang hampa ia akhirnya melangkah keluar dari ruangan UKS. Tak tahu lagi harus mencari sosok Syifa sekarang. Entah dimana dia berada. Glen rasanya ingin benar-benar bertemu dengan Syifa untuk menjelaskan semuanya.


Glen yang nampak terdiam sambil menopang pinggangnya itu kini perlahan mulai mengangkat pandangannya. Ia teringat pada suatu tempat membuat Glen tanpa pikir panjang dengan cepat berlari. Mungkin saja Syifa ada di tempat itu.


...🕯️🕯️🕯️...


Suara kicauan burung-burung yang bertengger di dahan pohon pinus berbunyi dengan merdu. Suara kicauan burung-burung seakan beradu dengan suara tangisan Syifa.


Kali ini tangisannya tak lagi bisa tertahankan perasaannya hancur sehancur hancurnya, tak ada lagi sebuah harapan. Seharusnya ia mendengar perkataan Lena untuk berhenti berharap kepada Glen. Ini semua terjadi karena keras kepalanya. Ia lebih memilih kata hatinya ketimbang harus mendengarkan kata Lena.


Sekarang apa yang ia rasakan dan apa yang didapatkan? Sebuah kekecewaan. Sejak awal Lena selalu memperingatinya untuk tidak memiliki hubungan kepada laki-laki yang begitu dekat dengan supupu perempuannya karena itu hanya membuatnya merasa cemburu.


"Syifa nyesel udah cinta sama Glen."


"Harusnya Syifa enggak usah pacaran aja sama Glen itu karena Glen sayangnya sama Kinara bukan sama Syifa."


"Kenapa semua orang nggak ada yang sayang sama Syifa? Di hari ulang tahun Syifa enggak ada yang ngasih ucapan cuman Embok yang setiap tahunnya yang selalu ngasih Syifa ucapan."


"Setiap tahunnya pasti kayak gitu itu. Nggak ada orang lain apa yang mau ngasih ucapan dama Syifa?"


"Kenapa, sih? Emang susah apa kalau mau ngerayain ulang tahun Syifa? Emang susah apa kalau harus pesan kue yang dikasih lilin terus nyanyi selamat ulang tahun gitu untuk Syifa?"


"Disaat hari ulang tahun Syifa, Syifa yang ngarepin kebahagiaan malah dapat hal yang buruk."


"Syifa harus dihukum sama pak Tejo, malah pingsan lahi dan digendong sama pak Tejo. Kenapa harus pak Tejo yang gendong Syifa, sih,?"


"Kenapa bukan Glen? Terus kenapa Syifa harus liat mereka pelukan di depan semua orang."


"Jadi kalau kayak gini, kan Lena ngerasa menang kalau selama ini apa yang dia ucapin itu semuanya benar."


"Syifa nggak mau kayak gini!!!"


"Aaaaah!!!" teriak Syifa sambil memukul-mukul lututnya.


Ia mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata itu. Perasannya hancur.


Di tempat ini, tempat yang ditumbuhi dengan hutan pinus. Pohon-pohon pinus berteger meninggi dengan dedaunan yang lebat. Suasana ini benar-benar membuat Syifa bisa melepaskan tangisannya, tak ada orang yang bisa mendengarnya saat ini.


"Kalau nangis, ya nangis aja tapi jangan teriak! Takut didengar sama orang."


Suara dari orang yang berada di belakang membuat Syifa tersentak kaget dan dengan cepat ia menoleh menatap sosok Glen yang kini melangkah mendekatinya.


...🕯️🕯️🕯️...