
...🕯️🕯️🕯️...
"Ehem! Kalau dalam persahabatan nggak ada kata terima kasih," ujarnya membuat Syifa tersenyum kecil.
Syifa melangkah turun dari mobil. Ia tersenyum menatap sosok Lena yang kini mulai melambaikan tangannya seakan mengucapkan kalimat perpisahan hingga akhirnya mobil yang dilajukan oleh Lena melaju meninggalkan Syifa yang kini berada di siring jalan tepat di hadapan rumahnya.
Syifa menghembuskan nafas panjang. Rasanya begitu sangat melelahkan hari ini. Syifa melangkahkan kakinya masuk ke dalam pekarangan rumah hingga akhirnya saat ia tiba di depan pintu dari dalam sana sosok Rahmi terlihat sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sorot matanya juga terlihat tajam seakan ia sedang menyimpan sesuatu hal yang ingin dilontarkan untuk Syifa.
Syifa melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah lalu menghentikan langkah saat jarak antara ia dan Rahmi sudah dekat.
"Mama kenapa?" tanya Syifa.
Rahmi tersenyum lalu dia tertunduk dan kembali menatap sosok Syifa.
"Kamu jangan pura-pura tidak tau, ya Syifa."
"Maksud Mama?"
"Mama habis mendapatkan telepon dari guru kamu di sekolah kalau kamu itu habis berantem sama salah satu siswi yang ada di sana."
Mendengar hal itu membuat Syifa mendecapkkan bibirnya dengan kesal ternyata kabar mengenai pertengkarannya bersama dengan sepupu dari pacarnya itu telah didengar dan diketahui oleh Rahmi.
"Yang benar?"
Syifa tak menjawab. Ia diam hingga berhasil membuat Rahmi tertawa kecil seakan telah mendapat jawaban dari putrinya itu.
"Mama itu suruh kamu ke sekolah buat belajar bukan buat berantem, Syifa."
"Ma, Syifa nggak mau bahasa yang ini dulu!" ujarnya lalu melangkah namun, langkahnya tertahan saat Rahmi memegang pergelangan tangan Syifa dengan erat.
"Mama belum selesai ngomong sama kamu. Mama mau ngomong mengenai pertengkaran ini sama kamu."
Syifa menarik nafas dalam-dalam. Ia pikir saat ia tiba di rumah ia akan beristirahat, tetapi Mamanya malah membahas tentang masalah yang telah berlalu ini.
"Duduk sekarang!" Tunjuknya pada sebuah sofa.
"Ma tapi Syifa-"
"Duduk sekarang!" pintanya dengan nada yang ditinggikan membuat Syifa mau tidak mau harus duduk di sofa.
"Mama nggak ngerti, ya sama kamu. Kenapa kamu harus berantem di sekolah."
"Ma, Syifa itu bukan berantem tapi di situ tuh bela diri aja."
"Bela diri kamu bilang? Lagian Mama, tuh enggak pernah ngajarin kamu buat berantem di sekolah. Ngerti nggak, sih Syifa?"
"Iya Syifa tau cuman dia itu nyebelin. Syifa enggak suka."
"Siapa yang nyebelin?"
"Kinara."
"Oh jadi kamu berantem sama Kinara? Orang yang sudah kamu pukul itu Kinara?"
"Iya, dia itu sepupunya Glen."
"Kamu berantem sama sepupu pacar kamu sendiri?"
Syifa mengangguk.
"Kok bisa, sih?"
"Dia duluan yang cari masalah sama Syifa. Kalau seandainya dia enggak cari masalah sama Syifa pasti Syifa enggak bakalan berantem," jelasnya membuat Rahmi ikut duduk di sofa dengan kedua sorot matanya menatap Syifa dengan begitu sangat serius.
"Kamu tau nggak Syifa, gara-gara kamu Mama harus dipanggil ke sekolah kamu."
Mendengar hal itu sontak kedua mata Syifa membulat. Ia dengan cepat menoleh menatap ke arah Rahmi yang masih menatapnya dengan serius.
"Mama ke sekolah?"
"Ya iyalah Mama ke sekolah."
"Kapan jam sebelas? Jam sebelas kamu dimana?"
Kini Syifa terdiam. Dia tidak tau harus mengatakan apa. Tidak mungkin jika ia mengatakan jika ia di rumah sakit dan telah mengetahui jika ia menderita kanker otak. Apa yang akan dikatakan oleh Mamanya itu jika mengetahui semuanya.
"Ayo jawab sekarang! Mama mau tanya jam sebelas siang di sekolah kamu dimana? Mama cari-cari kamu tapi kamu nggak ada. Mama nggak lihat kamu."
"Syifa di UKS."
"Di UKS kamu bilang?" tanyanya lalu tertawa kecil.
"Iya Syifa di UKS."
"Kamu sebenarnya di mana Syifa? Kamu dimana? Cepetan jawab? kamu keluyuran, ya atau buat acara karena udah berhasil mukul anak orang?" lanjutnya.
"Ya enggaklah, Ma."
"Terus dimana?"
Syifa terdiam. Ia bingung harus mengatakan apa sekarang.
"Kamu benar-benar, ya. Awas aja kalau kamu pergi jalan-jalan di jam sekolah!" ancamnya lalu meraih ponsel dari sakunya.
Ia menekan ponselnya itu beberapa kali membuat kening Syifa berlipat-lipat menatap bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh Mamanya.
"Mama mau ngapain?"
"Mama mau telepon si Lena."
"Loh, buat apa?" tanya Syifa yang berusaha menahan tangan Rahmi, tetapi dengan cepat Rahmi mengangkat teleponnya agar tidak dapat diraih oleh Syifa.
"Mama bakalan telepon si Lena biar Mama bisa tau kamu ke mana. Awas aja kamu, ya Syifa!"
Syifa meremas jemari tangannya yang begitu sangat khawatir. Ia takut jika Lena akan mengatakan jika mereka baru saja pulang dari rumah sakit apalagi jika Lena mengatakan hasil pemeriksaan itu tentu saja itu akan menjadi masalah besar bagi Syifa.
Ponsel berdering membuat jantung Syifa berdetak sangat cepat.
"Awas kamu, ya!" bisik Rahmi lagi membuat Syifa menunggu salivanya. Ia takut sekarang, dia tidak takut dengan ancaman Rahmi melainkan ia takut jika Lena mengatakan semuanya.
"Halo."
Suara dari seberang terdengar membuat Syifa memejamkan kedua matanya dengan erat lalu menyentuh kepalanya seakan tak siap jika mendengar penjelasan yang akan diucapkan oleh Lena nantinya.
"Halo, Len!"
"Iya Tante."
"Kamu dimana, Len?"
"Baru aja sampai."
"Oh, tadi kamu sama Syifa, ya?"
Lena yang baru saja turun dari mobil itu kini terhenti langkahnya. Rasanya wajah dan tubuhnya itu seakan gemetar disaat itu juga.
"Lena kamu tadi sama Syifa, kan?"
"Iya Tante."
"Kamu jawab aja yang jujur soalnya Tante udah tahu semua, kok."
"Tante tau apa?"
"Iya, Tante udah tau kalau Syifa itu udah berantem sekaligus sama kamu juga. Iya, kan?"
"Iya Tante," jawab Lena.
"Setelah kamu berantem, jam sebelas kamu dimana? Ayo jawab!"
Lena terdiam. Kedua matanya bergerak-gerak berusaha mencari jawaban yang tepat dan di satu sisi yang lain Syifa menggigit ujung jemari tangannya begitu sangat cemas. Entah apa yang akan dijawab oleh Lena nantinya.
"Lena, ayo, dong jawab!"
"Iya Tante."
"Ayo jawab!"
"Ta-ta-di itu Lena sama Syifa ke rumah sakit."
Mendengar hal itu membuat kedua mata Syifa membulat. Dasar bodoh, mengapa Lena mengatakan hal itu. Bukankah mereka sudah sepakat dan berjanji agar tidak memberitahukan rahasia ini kepada Mamanya tapi kenapa Lena malah memberitahukan hal ini.
"Rumah sakit? Ngapain ke rumah sakit?"
"Iya Tante, tadi itu muka Syifa, kan banyak yang bengkak-bengkak terus ada bekas pukulan memar jadi Syifa pergi ke rumah sakit sekalian minta surat izin sakit dari rumah sakit."
"Biar besok bisa istirahat," jawabnya membuat Syifa bernafas lega namun, di saat Syifa bernafas lega kedua mata Rahmi langsung menyorot menatap
Syifa yang dengan cepat menahan nafas di tenggorokannya.
"Yang bener kamu?"
...🕯️🕯️🕯️...