
...🕯️🕯️🕯️...
"Jadi lo balikan lagi sama Glen?" pertanyaan itu terlontar dari bibir Lena setelah mendengar penjelasan panjang dari Syifa yang kini sedang mengendalikan laju motornya.
"Balikan? Syifa dan Glen, kan nggak putus."
"Oh iya juga, sih," ujar Lena akhirnya hingga keduanya terdiam.
"Hebat juga ya si Glen. Ngomong apa aja si Glen sama lo sampai lo bisa nggak marah lagi sama dia? Padahal gue tadi liat kalau lo itu marah banget sama Glen."
"Apa?" tanya Syifa dengan nada teriakannya yang masih melajukan laju motor. Suara angin dan suara Lena seakan menyatu menjadi satu hingga suara Lena tak terdengar dengan jelas.
"Nggak! Nggak jadi!"
"Apa?"
Lena mendecapkan bibirnya kesal.
"Nggak jadi!!!" teriak Lena membuat beberapa pengguna jalan raya menoleh setelah mendengar teriakan dari Lena.
Motor yang melaju itu kini berhenti tepat di depan rumah berpagar hitam itu. Lena melangkah turun melepaskan helm dari kepalanya dan menyerahkannya kepada Syifa yang dengan cepat menyambutnya.
"Lain kali beli helm, ya! Syifa capek harus minjem helm Mama."
"Ye apaan, sih? Besok, deh gue beli. Kalau perlu gue beli sepuluh biar lo puas."
Syifa tertawa saat ia bisa membuat Lena marah. Kemarahan Lena adalah hal yang sangat lucu baginya.
"Gak usah beli sepuluh juga kali emang kepala Lena ada sepuluh?"
"Terserah, deh. Eh, lo ngomong-ngomong nggak mau mampir?"
"Enggak, ah. Syifa mau cepet pulang. Mau makan siang bareng mbok Jati di rumah."
"Oh." Lena mengangguk lalu tak berselang lama ia kembali bicara.
"Oh ya udah kalau gitu gue masuk ya ke rumah."
Syifa mengangguk lalu kini ia terdiam menatap Lena yang nampak menatapnya dengan serius. Lena mengernyit bingung. Ia menggerakkan kedua matanya dengan serentak hingga mengulangnya beberapa kali berusaha memberikan kode agar Syifa segera menggas motornya.
"Lo ngapain, sih masih di situ? Udah sana pergi katanya nggak mau mampir tapi masih aja bengong di sini," Lena menceloteh.
Syifa menghela nafas panjang sepertinya sahabatnya ini tidak peka dengan tatapannya. Katanya ia bisa membedakan mana orang yang sayang dengan yang tidak melalui tatapan mata Glen tapi dengan tatapan sahabatnya sendiri ia tidak mengerti.
"Lo kenapa, sih nggak ngerti?"
"Ya apa?"
"Kalau nggak bisa ngasih ucapan secara langsung seenggaknya Lena bikin story Wa," sambungnya.
"Story Wa?"
"Iya story Wa. Kayak Lena upload foto Syifa terus kasih caption, selamat ulang tahun Syifa semoga panjang umur dan sehat selalu atau apalah gitu."
"Atau mungkin ngasih Syifa kejutan."
"Kejutan?" tatap Lena tidak menyangka.
"Iya ngasih Syifa kejutan. Lena bisa datang ke rumah Syifa tengah malam pas jam dua belas sambil bawa kue dan lilin terus ngerekam Syifa yang kaget kayak 'Wah wah! Oh my god ini suprise banget' gitu," jelasnya setelah memperagakan ekspresi terkejutnya lalu kembali memasang wajah murung sementara Lena melongo dengan wajah datar.
"Udah?" tanya Lena.
"Udah," jawab Syifa sambil mengangguk.
"Aduh, lo itu ada-ada aja, deh. Emang masih jaman ya ngasih orang ucapan selamat ulang tahun gitu?"
"Lagian, nih ya sahabat lo itu cuman satu. Cuman gue. Gue nggak bisa kali beli kue ulang tahun terus ngasih lo kejutan di rumah lo pas jam dua belas malam."
"Nih ya seandainya aja kita bersahabatan itu ada tiga atau empat mungkin gue bisa tuh beli kue ulang tahun terus patungan."
"Ada yang ngasih kejutan, ada yang ngerekam dan ada yang teriak-teriak sambil nyanyi jadi lo bisa tuh kayak tadi yang langsung ngomong 'Wah wah, oh my God ini surprise banget," jelas Lena yang mengikuti ekspresi Syifa tadi.
"Nah, kalau cuman sahabat lo itu gue terus siapa yang mau pegang kue ulang tahun?"
"Siapa yang mau teriak sambil nyanyi?"
"Siapa yang mau pegang kamera?"
Syifa kini terdiam benar juga apa yang dikatakan oleh Lena.
"Udah, ah gue pergi masuk dulu."
Lena melangkah pergi meninggalkan Syifa yang kiri terdiam di atas motornya. Matanya terus menatap kepergian Lena yang langkah masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu hingga sosok Lena tak terlihat lagi.
"Tapi kan seenggaknya Lena bisa ngasih Syifa ucapan."
Syifa menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan berusaha untuk bersabar. Sepertinya bagi Lena memberikan surprise kepada sahabatnya sendiri, Syifa adalah hal yang begitu berat.
Syifa juga tidak ingin terlalu memaksa Lena. Jika Lena memang peduli dengannya maka ia akan melakukan sesuatu tanpa perlu ia suruh.
Kini Syifa melajukan motornya meninggalkan area perumahan Lena.