Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-25



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa bangkit dari kursi setelah ia mempoles wajahnya dengan make up sederhana walaupun sederhana, tetapi wajahnya kini terlihat lebih cantik bahkan ia semakin cantik.


Hari ini ia benar-benar tidak sabar ingin memberikan kejutan kepada Glen. Entah bagaimana ekspresi Glen saat melihat kejutan ini. Terlebih lagi dengan dirinya yang baru kali ini mempoles wajahnya dengan make up seperti ini.


Gaun hitam kini telah melekat pada tubuhnya. Ia berputar dengan bahagia di depan cermin riasnya. Sebenarnya Lena telah menyarankannya untuk menyewa seseorang untuk memake up wajahnya, tetapi Syifa menolak dan mengatakan jika ia ingin tampil apa adanya di hadapan Glen.


Syifa melangkah keluar dari rumah menghampiri secara diam-diam sosok mbok Jati yang terlihat sedang asyik mengusap permukaan meja dengan kain lap.


"Halo, mbok Jati lagi! Ngapain?" tanya Syifa yang berhasil mengejutkan mbok Jati.


Mbok Jati mengelus dada. Ia kemudian menoleh berniat untuk menegur Syifa namun, kedua matanya berbinar saat ia menatap dari kepala sampai ke ujung kaki Syifa.


"Wah, cantik sekali nona Syifa. Mau ke mana?" tanyannya perhatian.


Syifa tersenyum. Ia menyelipkan rambut di belakang telinganya itu dan kembali tersenyum malu.


"Syifa mau ke restoran. Mau ngerayain hari ulang tahunnya Glen. Oh iya nanti kalau Mama pulang dari kerja kasih tau, ya kalau Syifa pulangnya agak malam banget soalnya acara ulang tahun Glen kayaknya bakalan dirayain pas jam 12 malam."


"Oh gitu, non. Kasih tau sama tuan Glen katanya selamat ulang tahun dari mbok Jati."


"Oke, deh mbok nanti Syifa kasih tahu."


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa melangkahkan kakinya menuju luar rumah memainkan ponselnya sejenak hingga tak berselang lama taksi berhenti tepat di hadapan rumahnya membuat Syifa melangkahkan kakinya mendekati taksi itu.


"Sesuai dengan pesanan?" tanya Syifa yang sedikit menunduk menatap pria yang sedikit berumur berada dalam mobil.


"Atas nama Syifa?"


"Iya saya sendiri."


Kini mobil telah melaju dan disaat itu pula Syifa menatap kerlap-kerlip lampu bangunan yang tinggi di atas sana. Sejak tadi ia tak berhenti untuk tersenyum. Rasanya sangat bahagia sekali.


15 menit kemudian...


Kini taksi yang ia tumpangi itu berhenti membuat Syifa melangkah turun setelah memberikan uang kepada sopir taksi itu.


"Lo, kok lama banget, sih?" ujar Lena yang entah muncul dari mana membuat Syifa benar-benar terkejut.


"Sorry, Syifa baru selesai make up."


"Gue, kan udah bilang kalau lo itu seharusnya make up-nya itu di salon biar nggak lama."


"Ya sorry, Len tapi uang penting, kan Syifa udah sampai di sini."


"Ya udah cepetan sini!" tariknya membuat Syifa mau tidak mau hanya bisa menurut.


"Lena! Syifa cantik enggak, sih?" tanya Syifa.


Lena menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Bisa-bisanya di sela-sela mereka berlari Syifa masih menanyakan bagaimana dirinya sekarang.


"Lena, ayo dong jawab nanti Syifa nggak pede!"


"Cantik, cantik banget."


"Ah, bohong padahal kan Lena belum lihat muka Syifa."


Lena mendecapkan bibirnya. Disaat-saat seperti ini sahabatnya itu masih bisa saja bertanya. Dia menghentikan larinya lalu menoleh dan menyentuh kedua pundak sahabatnya itu.


"Syifa! Lu dengerin gue baik-baik, ya!"


"Lo itu cantik banget dan sekarang lo harus ngerayain hari ulang tahun Glen dan berikan dia kejutan serta ucapan yang indah."


"Aduh, jujur, sih gue nggak sabar banget mau ngeliat ekspresi Glen kalau sampai dia ngelihat ini semua."


"Aduh, enggak kebayang, deh," ujarnya yang malah menjadi gema sendiri seakan ia membayangkan semuanya membuat Syifa kini hanya bisa tersenyum kecil.


Sejujurnya sejak semalam ia tak sabar dengan kejutan ini. Ia bahkan tidak bisa tidur karena terlalu memikirkannya.


"Oh iya terus Lena dimana kalau Syifa kasih kejutanya?"


"Yah gue balik, lah. Masa gue mau nungguin di pojokan kayak gini? Bisa gatal-gatal gur kalau digigitin sama nyamuk."


"Ya, kok pulang, sih? Terus Syifa baliknya sama siapa?"


Lena mendecakkan bibirnya begitu sangat kesal dengan ujaran sahabatnya itu.


"Hello! Emang lo pikir si Glen itu nggak punya otak? Masa dia mau ninggalin lu sendirian di restoran ini? Emang dia nggak punya otak apa inisiatif buat mau nganter lu pulang?"


"Masa lu udah cape-cape bikin surprise ini terus dia enggak mau nganter lu pulang? Dia, kan pacar lo. Pikirlah dikit!" ocehnya.


"Terus Lena mau ke mana?"


"Gue mau ke acara makan malam keluarga."


"Makan malam keluarga?"


"Iya soalnya Mama sama Papa itu kedatangan tamu. Nah, di situ mereka mau ngajak makan malam dan gue juga dipanggil. Katanya nggak seru, sih kalau anak perempuannya enggak ada di situ," jelas Lena yang menggerakkan kedua alisnya lalu keduanya kini tertawa bersama.


"Oh, ya udah kalau gitu hati-hati, ya!"


"Iya, gue duluan ya."


"Iya, hati-hati!" teriknya disaat Lena berlari namun, sedetik kemudian langkahnya terhenti lalu kembali menoleh menatap ke arah Syifa.


"Kenapa?"


"Jangan lupa ceritain semuanya besok!"


"Oke," jawabnya setuju.


"Oke," bisik Lena yang kemudian kembali berlari.


...🕯️🕯️🕯️...


Senyum Syifa tak pernah sedikitpun luntur begitu saja. Sejak tadi ia tersenyum sambil sesekali ia merapikan rambutnya yang sudah rapi itu. Ia sangat takut jika rambutnya berantakan saat Glen datang nanti.


Sesekali juga Syifa merapikan kain panjang pada permukaan meja dimana meja yang ada dihadapannya sudah terdapat kue ulang tahun bertingkat yang warnanya juga sangat cantik. Warna hitam bertaburkan kelap-kerlip bertuliskan nama Glen serta umurnya yang juga tertera di sana.


Selain itu juga, terdapat sebuah lilin putih yang sudah sejak tadi menyala. Di hadapan Syifa juga terdapat karpet panjang yang kedua sisinya terdapat barisan lilin-lilin yang nantinya akan menyambut kedatangan Glen diiringi dengan karpet berwarna merah.


Syifa menatap lampu kerlap-kerlip berwarna putih yang telah dirancang oleh Lena sedemikian rupa sehingga terlihat sangat cantik bahkan ada bunga mawar putih di sana.


Suasana yang begitu sangat indah ditambah lagi bangunan-bangunan pencakar langit yang lampunya menyala. Malam yang indah diiringi


lampu-lampu kendaraan. Rumah-rumah serta toko-toko yang lampunya masih menyala semakin menambah jumlah cahaya yang terlihat.


Syifa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Tak bisa pungkiri detak jantungnya kali ini yang berdetak sangat cepat. Dadanya berdebar-debar, begitu sangat gugup sesekali.


Syifa memejamkan kedua matanya dengan erat dan diiringi hembusan nafas yang berhasil melewati kedua bibirnya. Ia benar-benar sangat gugup, takut rasanya. Ini pertama kalinya ia memberikan kejutan yang semewah ini untuk Glen.


...🕯️🕯️🕯️...