Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-67



...🕯️🕯️🕯️...


Dekorasi pernikahan Rahmi kini telah rampung dalam semalam. Orang-orang berdatangan dari berbagai tempat sesuai dengan undangan yang telah diberikan. Ada begitu banyak tamu yang datang membuat acara pernikahan Rahmi kini semakin ramai.


Rahmi yang telah selesai didandani itu berdiri di hadapan cermin besar menatap wajahnya yang telah dihiasi dengan make up membuatnya semakin begitu sangat cantik.


Jujur saja ia bahkan tak mengenali sendiri wajahnya yang terpoles dengan make up itu. Terakhir kali ia menggunakan make up tebal saat pernikahannya bersama dengan Farhan.


Kini ini adalah pernikahan keduanya dan Rahmi berharap jika ini adalah pernikahan terakhirnya dan akan hidup bersama bahagia dengan pak Jaya.


"Mama!" ujar Syifa yang langsung memeluk tubuh Rahmi dari belakang membuat Rahmi menoleh.


Syifa dibuat terpukau dengan penampilan sang Mama jauh lebih mudah dari umurnya. Ia menatap dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.


Kebaya berwarna putih dengan make up yang begitu sangat cantik.


"Lihat Mama cantik banget, kan? Syifa jadi panglin, deh."


"Iya betul banget," sahut Lena yang sejak tadi mendampingi Rahmi.


Ia menemaninya dari proses make up, katanya ia juga ingin belajar make up agar saat menikah nanti ia tidak perlu bersusah payah untuk menyewa tukang make up untuknya. Katanya ia akan dandan sendiri.


"Apa sudah selesai? Semua orang sudah menunggu di luar?"


Rahmi, Syifa dan Lena dengan serentak menoleh menatap mbok Jati yang juga nampak menggunakan baju yang sama dengan yang Syifa gunakan.


Awalnya mbok Jati menolak untuk memakai baju yang warnanya sama dengan Syifa namun, Syifa bersikeras untuk memberikan baju itu dan menyuruh mbok Jati memakainya saat acara pernikahan.


"Ya, mbok tunggu sebentar. Ini sudah selesai, kok," jawab Rahmi membuat mbok Jati menganggukan kepalanya lalu melangkah keluar dari kamar.


Kini para tamu telah duduk di kursi yang berjejer rapi. Sosok pak Jaya dengan jas putihnya sedang duduk di depan pria berjas hitam yang akan menikahkan pak Jaya dengan Rahmi nantinya.


Ada begitu banyak orang sekarang. Sanak keluarga dari Rahmi juga berdatangan membuat suasana rumah Syifa beberapa hari ini begitu sangat ramai.


"Apa masih lama?" tanya Bapak penghulu itu kepada pak Jaya yang terlihat begitu cemas.


Ini pertama kalinya ia menikah dan ia takut jika saat pengucapan ijab kabul ia malah salah ucap.


"Itu pengantinnya sudah datang."


"Cantik sekali, kayak gadis, yaa?"


Suara bisikan terdengar membuat Farhan yang sejak tadi gelisah itu menggerakkan kepalanya dengan pelan menatap ke arah sosok Rahmi yang nampak digandeng oleh calon putrinya itu, Syifa yang nampak menggunakan gaun berwarna ungu dengan bando bunga-bunga di atas kepalanya.


Calon anaknya itu juga sama cantiknya dengan Rahmi yang nampak mengenakan kebaya putih dengan sanggul serta hiasan di kepalanya. Sangat terlihat sangat cantik bahkan ia tak sempat berkedip sedikitpun karena terpukau oleh kecantikan calon istrinya itu.


"Kenapa lihat seperti itu?" tanya Rahmi saat ia telah duduk di samping pak Jaya yang langsung tertunduk.


"Kamu terlihat sangat cantik," bisiknya membuat Rahmi tersipu malu.


Ia dibuat tertunduk malu sembari meremas jemari tangannya yang dihiasi dengan henna berwarna putih itu.


"Eits, nggak boleh bisik-bisik! Belum sah," canda Syifa yang langsung memisahkan antara kedua belah pihak yang sejak tadi duduk di belakang pak Jaya dan Rahmi.


Kalimat teguran dari Syifa itu lantas membuat semua orang tertawa bahkan Lena yang duduk di sampingnya langsung menyikut siku Syifa.


Setelah beberapa menit para MC memberikan kata sambutan akhirnya Bapak penghulu mengulurkan tangannya disambut dengan uluran tangan pak Jaya yang langsung menautkan tangannya itu pada jemari tangannya.


Wajahnya semakin memuncak jantungnya berdetak sangat cepat. Ini bukanlah main-main. Perjanjian yang akan disaksikan oleh Tuhan dan semua orang yang ada di acara pesta pernikahan ini.


"Saya terima nikahnya Rahmi binti Saudi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai," ujar pak Jaya dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi?"


"Sah!!!" teriak Syifa yang langsung melompat bahagia membuat kedua mata Lena yang sejak tadi duduk di samping Syifa langsung membulat.


Dia tidak menyangka jika sahabatnya itu akan langsung melompat seperti ini.


"Lu ngapain, sih?" bisik Lena yang matanya melotot.


Ia menarik Syifa agar langsung duduk di sampingnya dan hal itu membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal bahkan saat proses pembacaan doa tak henti-hentinya Syifa dan Lena saling tertawa cekikikan di belakang. Suara tawa itu tetap saja lolos dan lepas dari tahanannya.


Kini MC mengambil alih acara setelah ijab kabul dilakukan dan juga pembacaan doa hingga akhirnya Syifa yang sejak tadi menyambut para tamu itu yang berdatangan dari sekolah termasuk juga teman-teman sekelasnya.


"Syifa!"


Suara panggilan terdengar membuat Syifa menatap ke arah sosok Glen dan Kinara yang melangkah menghampirinya.


"Nggak usah diambil hati!" bisik Lena yang terlihat sibuk mengangkat beberapa kue saat Lena bisa melihat jika Syifa yang melihat kedatangan Kinara yang nampak menggandeng tangan Glen.


"Enggak apa-apa, kok. Syifa udah biasa," ujar Syifa berusaha menguatkan diri.


"Acaranya sudah selesai?" tanya Glen setibanya ia di depan Syifa.


"Iya sudah selesai Alhamdulillah," jawab Syifa sambil sesekali menatap Kinara.


"Akhirnya Kinara datang juga," ujarnya membuat Kinara hanya tersenyum sinis.


Kedatangannya ke sini bukan berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan Syifa melainkan ia ingin memperlihatkan sisi romantisnya kepada Syifa.


"Kami cantik," ujar Glen yang sejak tadi memperhatikan Syifa yang kini hanya tersenyum kecil.


"Cantikan juga Kinara," sahut Kinara membuat Glen melirik tak suka.


Sebelum ia berangkat ke acara pernikahan ini Glen sudah memberitahu Kinara untuk tidak banyak bicara di sana tapi Kinara malah melanggar janji itu.


Syifa yang sejak tadi berusaha memikirkan hal-hal positif kepada Kinara yang tidak mau melepas lingkaran tangannya pada lengan Glen akhirnya menatap ke arah sosok dokter Bryan yang terlihat melangkah dengan pandangannya yang meraba ke segala arah.


Syifa tahu dokter Bryan pasti sedang mencarinya.


"Tunggu dulu, ya! Syifa lagi kedatangan tamu."


"Dokter!" teriak Syifa namun, teriakannya itu langsung membuat dirinya malah terkejut sendiri.


Ia memanggil dokter Bryan dengan sebutan dokter. Bagaimana jika semua orang mendengarnya dan malah bertanya-tanya.


"Kak Bryan!" teriaknya lalu melambaikan tangan membuat dokter Bryan yang sejak tadi berusaha mencari sosok Syifa menoleh.


Akhirnya sosok yang ia cari itu datang juga. Syifa berlari menghampiri dokter Bryan yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan langkah menanti Syifa yang mendekat.


"Kenapa lari? Kamu nggak boleh lari. Kamu harus jaga kesehatan kamu. Kamu juga nggak boleh terlalu banyak pekerjaan dan lelah," jelasnya yang penjelasan itu dapat didengar oleh Glen.


Ia dibuat kebingungan. Entah mengapa pria yang memakai pakaian batik itu terlihat begitu sangat peduli dengan Syifa.


Syifa menggaruk kepalanya lalu ia menarik ujung baju batik yang digunakan oleh dokter Bryan membuat dokter Bryan sedikit menunduk membiarkan Syifa berbisik di telinganya.


...🕯️🕯️🕯️...