
...🕯️🕯️🕯️...
"Ah, lo itu kenapa, sih pakai teriak segala kayak gini?"
"Lena masih nanya? Lena masih nanya kenapa Syifa bisa kayak gini?"
"Lena nggak mikirin gimana perjuangan kita buat bikin acara kejutan ini buat Glen tapi dia malah lebih milih buat ngadain acara ulang tahunnya bersama dengan Kinara, sama sepupunya itu."
"Tapi di sana juga ada orang tua di Glen juga?"
"Tapi gimana sama kejutan yang udah Syifa buat? Apa ini nggak penting juga?"
"Gue tau apa yang lo rasain Syifa tapi lu nggak perlu juga bukan acak-acak tempat ini. Gue, kan udah bilang sama lo stop buat pacaran sama si Glen karena dia itu enggak sayang sama lo."
"Dia tuh lebih sayang sama sepupunya itu, si Kinara. Gue udah bilang, kan sama lo tapi lo enggak peduli sama semuanya."
"Sekarang apa? Lu marah-marah nggak jelas kayak gini. Gue juga enggak bisa kalau kayak. a juga sedih ngeliat lo sedih kayak gini."
Kini kedua lutut Syifa melemas membuatnya terjatuh ke lantai dengan tempat yang begitu berantakan. Hancur, seperti hatinya saat ini. Perasaannya benar-benar kacau seperti pikirannya yang sam juga seperti itu.
Ia menangis tersedu-sedu. Kedua pundaknya bergerak naik turun. Sesekali tangannya mengusap pipinya yang basah itu.
"Kenapa Glen enggak datang dan tepatin janji?"
"Kenapa Glen enggak datang atau kenapa Glen enggak ngasih kabar kalau Glen enggak jadi datang ke tempat ini jadi Syifa enggak perlu susahpaya buat nunggu Glen," lanjut Syifa.
"Tuh kan, gue udah bilang sama lo harusnya itu lo sadar kalau Glen itu nggak serius sama lo."
"Gue sudah bilang enggak usah pacaran sama laki-laki yang dekat banget sama sepupunya itu."
"Lu bisa pernah mikir enggak, sih dia tuh lebih sayang ke Kinara daripada sama lo tapi lo juga, sih yang enggak peduli sama gue."
"Tapi Glen emang sayang sama gue, Len."
Mendengar hal itu membuat sudut bibir Lena terangkat tidak menyangka jika Syifa akan mengatakan ini.
"Kalau emang dia sayang sama lo, dia akan datang tapi buktinya apa? Dia nggak datang kan?"
"Gue tuh ngomong apa adanya. Lo coba ngerti lah!"
"Oke, oke fine. Lo itu benar. Lu benar dan Syifa yang salah!" teriak Syifa yang kini bangkit membuat Lena juga ikut bangkit.
"Lo emang salah. Gue bisa nilai seseorang dari tatapannya dan Glen itu nggak sayang sama lo. Gue bahkan udah capek ngomong kayak gini sama lo."
"Tapi gimana, Len. Syifa udah cinta sama Glen."
Lena menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan begitu pelan. Rasanya kepalanya juga pusing setelah memberikan ini. Ia menepuk pundak Syifa lalu menyadarkan gadis itu di dadanya membuat Syifa menangis.
"Nggak apa-apa, nangis aja! Nangis yang kencing! Keluarin semuanya dan besok gue enggak mau tau lo harus kasih pelajaran sama di Kinara itu."
"Kalau enggak biar gue yang ngeladenin dia. Enak aja seenaknya dia mau nyakitin lo kayak gini. Termasuk si brengsek itu."
🕯️🕯️🕯️
Sejak di dalam mobil Lena bisa melihat sosok Syifa yang hanya bisa menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mengarahkan pandangannya itu ke arah luar jendela. Tak sedikitpun Syifa pernah bicara kepadanya.
Kali ini Lena mengerti dengan keadaan Syifa. Wanita mana yang tidak kecewa ketika mengharapkan seseorang datang setelah ia berjanji dan orang itu tidak menepati janjinya dan lebih memilih makan malam bersama dengan Kinara yang hanya sebatas sepupunya saja.
Hanya ada sebuah kekecewaan yang diberikan oleh orang tersebut. Lena menghentikan laju mobilnya dan menepikan kendaraannya itu tepat dihadapan rumah Syifa membuat Syifa melangkah turun.
"Makasih, ya Len udah nganterin Syifa."
"Sama-sama. Oh iya, lu langsung lupa istirahat, ya! Minum susu coklat biar lu jadi tenang!" pesanya membuat Syifa tak bicara sedikit pun.
Syifa hanya mengangguk lalu ia beranjak pergi.
Syifa menutup pintu kamarnya setelah kini ia berada di dalam ruangan kamarnya yang sangat sunyi. Kedua matanya telah terhalang dengan air mata. Terasa pedih setelah lelah mengeluarkan air mata dan semua kepedihannya.
Ia menatap dinding kamarnya yang dihiasi dengan foto-foto Glen yang sengaja ia letakkan di sana dan seketika juga dengan langkah yang cepat ia berlari dan mengecek-nacak foto-foto milik Glen dan bahkan menyobeknya begitu sangat kuat.
Entah mengapa sebuah kemarahan bisa membuat kekuatan orang jadi bertambah. Syifa menghancurkan semuanya, menghancurkan apa-apa yang ia temui. Ia merobek setiap lembaran foto Glen, menghancurkan dan menarik dengan keras pada boneka pemberian Glen.
Syifa memberantakkan kasurnya yang telah tertata rapi dan kini membuat pemandangan kamarnya menjadi benar-benar sangat berantakan.
"Kenapa? Kenapa semuanya jadi kayak gini?"
"Rasanya sakit hati kalau kayak gini. Kenapa? Kenapa nggak ada orang yang mentingin hati Syifa."
"Bisa-bisanya Glen makan malam sama Kinara daripada sama Syifa. Sebenarnya pacar Glen itu siapa, sih?"
"Pacar Glen itu Kinara atau Syifa?"
"Kenapa Glen kayak nggak sayang sama Syifa? Bahkan Lena bilang kalau Glem itu cuman sayang sama Kinara, bukan sama Syifaaaaaa!!!" teriaknya.
...🕯️🕯️🕯️...