Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-16



...🕯️🕯️🕯️...


Sambungan terputus membuat Syifa menurunkan handphone itu dari pipinya menatap layar handphonenya yang telah memperlihatkan aplikasi-aplikasi yang ia miliki, tak ada lagi gambar foto sahabatnya itu Lena. Ia telah benar-benar memutuskan telepon.


Syifa menghela nafas pendek kemudian ia kembali menekan layar handphonenya menghubungi seseorang hingga suara pria terdengar di sana.


"Halo Glen, selamat siang."


"Ya halo," ujar Glen yang kini sedang berada di lapangan bola basket sambil memegang sebotol air. Keringat bercucuran menghiasi wajahnya memperlihatkan betapa lelahnya hari ini saat ia sedang latihan bola basket persiapan untuk mengikuti perlombaan.


"Glen lagi dimana, sih? Kok berisik banget di situ?"


"Apa Syifa? Ngomong apa gue nggak denger soalnya di sini berisik banget."


"Glen dimana?"


"Sorry Syifa. Gue nggak bisa dengar soalnya gue lagi ada di tempat lapangan bola basket."


"Oh, lagi di lapangan bola basket. Glen sibuk banget hari ini, ya?"


"Iya lumayan sibuk, sih emang kenapa?"


"Nggak apa-apa, sih cuman mau ngajak Glen aja."


"Nggak bisa, sih gue lagi sibuk soalnya."


"Masalahnya Syifa enggak nggak tahu mau ngajak siapa lagi soalnya tadi Syifa udah telepon Lena ada Lena nggak bisa ikut jadi Syifa mau ngajak Glen."


"Iya tunggu, bro!" teriaknya saat salah satu temannya memanggil. "Emang mau kemana?"


"Syifa mau ngajak Glen buat ngerayain hari ulang tahun Ayah. Gimana kalian bisa nggak? Glen mau, kan?"


Tut tut tut...


Sambungan kembali terputus membuat Syifa dengan cepat menatap layar handphonenya dan menghela nafas berat. Hasil yang ia dapatkan tak ada bedanya, sama saja seperti Lena.


Ting!


Suara notifikasi pesan masuk terdengar membuat Shiva dengan cepat menatap layar handphonenya.


[sorry gue nggak bisa soalnya mau latihan basket sama teman-teman yang lain nggak enak kalau gue harus ninggalin latihan ini soalnya besok udah lombanya. Maaf gue nggak bisa]


Syifa menelan apa setelah membaca isi pesan yang dikirim oleh Glenn dengan perasaannya yang begitu sedih Syifa kembali membalas pesan dari Glen.


[Ya udah nggak apa-apa]


[Syifa ngerti kok. Semangat ya latihannya! ᕙ( • ‿ • )ᕗ]


Setelah mengirim pesan itu Syifa memasukkan handphonenya ke dalam tas kecilnya dan kembali melangkah kakinya menelusuri setiap barang-barang yang terpampang mencari hadiah yang ingin diberikan kepada sang Ayah hingga tiba langkahnya terhenti saat ia mendapatkan sebuah gelang berwarna-warni membuat kedua mata Syifa kini menjadi berbinar-binar. Mungkin ini bisa ia jadikan sebagai hadiah untuk sang Ayah.


Gelang warna-warni yang memiliki dua pasang itu, satu untuk Syifa dan satu untuk sang Ayah. Ya semoga saja sang Ayah senang setelah mendapat hadiah ini.


...🕯️🕯️🕯️...


"Terima kasih ya kak Meno, kuenya cantik banget, Syifa suka deh."


"Pasti, dong apalagi kuenya kan buat AySyifa."


"Oh iya kak total semuanya berapa kak?"


"Oh ya kak tambah buket juga ya!"


"Maunya yang apa?"


"Yang coklat aja! Ayah suka coklat."


"Wah, seru banget. Nggak sabar deh mau lihat ekspresinya Ayahnya Syifa kayak gimana kalau ngelihat hadiah ini-"


"Pasti seneng banget loh," spotong Vira membuat Syifa semakin tersenyum bahagia.


"Terima kasih, ya kak. Syifa pamit dulu."


"Oke deh selamat berbahagia!"


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa kini berjalan kaki dengan rasa yang bahagia, kardus kue ulang tahun telah berada di kedua tangannya beserta hadiah dan buket untuk sang Ayah. Setiap perjalanan Syifa selalu membayangkan bagaimana perasaan sang Ayah saat melihat kue ulang tahun ini.


Tentu saja Ayahnya itu akan sangat bahagia karena kejutan yang Syifa berikan malam ini. Malam yang telah menunjukkan pukul delapan malam diiringi dengan kegelapan malam yang dihiasi dengan lampu jalanan tak membuat niat untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk sang Ayah hilang begitu saja, tak sabar rasanya dapat segera tiba di rumah sang Ayah untuk memberi kejutan ini.


Selama perjalanan tak henti-hentinya Syifa bersenandung bahagia sambil menyanyikan beberapa lagu ulang tahun yang ingin dinyanyikan nanti saat ia memberikan kejutan kepada sang Ayah. Ah, rasanya ini terlalu membahagiakan.


"Selamat ulang tahun Ayah. Syifa datang!!!" teriaknya saat langkahnya telah mendekati rumah sang Ayah. Sudah cukup lama Syifa jarang berkunjung ke rumah ini.


Syifa menghentikan langkahnya ketika ia tiba tepat di gerbang rumah ayahnya yang terlihat terbuka membuat senyum kecil Syifa muncul begitu saja apa mungkin Ayahnya sengaja membuka pagar agar ia bisa masuk ke rumah ini dan memberikan kejutan untuk sang ayah ya kini itu yang dipikirkan oleh Syifa mungkin saja Syifa melangkahkan kakinya masuk ke dalam pekarangan rumah menoleh kiri-kanan menatap pekarangan rumah Ayahnya yang begitu sunyi.


Syifa beralih kecil mengendap-ngendap di teras rumah Ayahnya yang bertingkat dua itu dengan pelan-pelan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Syifa mengeluarkan kue dari kotak berwarna putih dan menyalakan beberapa lilin yang kini menghiasi gelapnya malam.


Syifa menarik nafas panjang dari ujung bibirnya jantungnya membuat jantungnya berdetak sangat cepat, tak sabar rasanya memberikan kejutan ini kepada sang Ayah. Semoga saja rencana baiknya ini berjalan dengan lancar.


Ya tak sabar rasanya bisa bertemu dengan sang Ayah. Setelah mempersiapkan semuanya Syifa mulai bangkit lalu melangkah kembali mengendap-kendap berniat untuk mengetuk pintu namun, suara nyanyian ulang tahun terdengar dari luar sini membuat perasaan Syifa menjadi tak enak seakan ada mengganjal di sini.


Kening Syifa mengeryit, sedikit kebingungan dengan suaranya nyanyian ulang tahun yang terdengar begitu ceria di dalam rumah membuat Syifa mengintip di balik jendela. Seketika nafas Syifa seakan tertahan di dadanya setelah melihat sang Ayah yang nampak bertepuk tangan menggunakan topi ulang tahun yang biasanya digunakan oleh anak kecil di hadapan seorang wanita yang ia lihat tadi di toko kue sedang memegang kue ulang tahun sambil menggendong anak kecil yang juga ikut bertepuk tangan dengan senyum yang mengembang bahagia.


"Ayo Pa! Tiup lilinnya!"


Syifa bisa melihat dengan jelas dari balik jendela jika Ayahnya meniup lilin yang menyala itu lalu saat api itu mati mereka semua bersorak bahagia.


Rasanya benar-benar kecewa semua kejutan yang telah Syifa persiapkan untuk sang Ayah ternyata tak ada gunanya. Semuanya seakan tak penting dan yang berharga hanyalah sebuah kejutan dari istri barunya dilengkapi dengan anak barunya juga itu.


Kedua mata Syifa memanas, tetesan demi tetesan mengalir membasahi kedua pipinya. Rasanya begitu sangat sakit. Nafasnya seakan ikut sesatk begitu sakit di dalam hatinya. Rasanya seakan ada belati yang menghantamnya beberapa kali. Perih begitu sangat perih.


Syifa tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi kepadanya. Dengan susah payah ia menyiapkan semuanya kue ulang tahun namun, apa yang ia dapatkan sekarang? Ayahnya bahkan tak mengirimkan pesan sedikitpun kepadanya dan kini di depan matanya ia melihat sang Ayah begitu sangat bahagia merayakan hari ulang tahunnya bersama dengan wanita lain.


Ia Syifa tahu jika wanita itu bukanlah wanita lain bagi sang Ayah, dia adalah istrinya tapi apa itu berarti Syifa tak memiliki hak lagi untuk merayakan hari ulang tahun bersama sang Ayah?


"Terima kasih ya sayang kejutan ulang tahunnya, Papa senang banget"


Cup


Syifa menutup bibirnya saat ia bisa melihat sang Ayah yang mengecup kedua pipi sang istri dan pipi putri kecilnya itu hingga menambah rasa sakit di hatinya itu.


Syifa terisak membuat Ayah dan Istrinya itu menoleh menatap ke arah pintu. Ya sepertinya mereka mendengar suara isakan kecil dari Syifa membuat Syifa dengan cepat melangkah pergi. Ia tak ingin melihat istri baru Ayahnya itu merasa bahagia setelah melihatnya menangis seperti ini.


Yah, Syifa kalau ini pulang. Pulang dengan perasaan kecewa, perasaan sakit yang begitu sangat dalam. Tak ada sebuah kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana perasaannya hancurnya Syifa sekarang ini.


...🕯️🕯️🕯️...