Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-70



...🕯️🕯️🕯️...


"Cuman satu bulan, Len."


"Iya gue tau itu cuma satu bulan tapi lu pikirlah masa gue harus bohong selama itu," ujar Lena yang tidak menyangka dengan apa yang telah diucapkan oleh Syifa kepadanya.


Hari ini Syifa lagi dan lagi memintanya untuk bekerja sama berbohong kepada Mamanya, Rahmi.


"Ini demi kebaikan Syifa. Lena harus ngerti perasaan Syifa dan keadaan Syifa sekarang," ujar Syifa sambil menatap Lena yang terlihat tidak terima.


Ia berjalan mondar-mandir di hadapannya membuat Syifa menggerakkan kepalanya menatap Lena.


"Gue ngerti Syifa tapi nggak selama itu juga gue harus bohong. Kalau semisalnya Mama lu ngelihat gue yang pergi ke sekolah sementara lu nggak, gue harus ngomong apa?"


"Lo juga rasa eneh, sih. Emang ada di sekolah yang nyuruh kita kemping selama 1 bulan. Nggak ada! Ngerti nggak lo?"


Syifa menghela nafas panjang. Dia tau alasan untuk pengobatan selama 1 bulan itu tidak masuk akal tapi ia harus mencari alasan seperti apa yang ia lakukan saat ini. Sementara hanya itu jalan satu-satunya yang bisa ia lakukan.


"Please, Len. Syifa mohon. Syifa nggak punya alasan lain selain camping."


"Tapi gimana kalau Mama lo sampai datang ke sekolah dan tanya sama guru-guru yang ada di sana. Apa benar kalau ada camping selama 1 bulan, nah kalau semisalnya guru-guru bilang nggak ada gimana sama nasib gue?"


"Lu, sih nambah-nambah masalah aja. Mending lu jujur aja, deh sama Mama lo. Nggak usah bohong-bohong segala," ocehnya.


"Lena, Lena ini bisa ngerti nggak, sih? Mama itu baru aja udah nikah. Syifa enggak mau dia jadi kepikiran sama penyakit Syifa dan malah ganggu hubungan mereka."


"Tunggu! Hubungan maksud apa, sih lo? Mereka itu orang tua lo dan pasti mereka bakalan ngerti. Mereka bakalan marah kalau lu nggak jujur."


"Ayo lah, Len! Kali ini aja. Lena harus ngertiin Syifa, ya! Please!" ujarnya memohon sambari menyentuh punggung jemari tangan Lena menatapnya dengan penuh harap.


"Kali ini aja setelah itu Syifa janji nggak bakalan ajak Lena buat bohong-bohong lagi."


Lena menatap Syifa dengan pandangan serius. Menghempaskan jemari tangan Syifa dan terus memasang wajah bingung. Dia tak tau harus melakukan apa kali ini. Berbohong bukanlah kebiasaannya apalagi tentang penyakit Syifa yang begitu sangat serius.


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa dan Lena kini saling berbisik saat mereka menuruni anak tangga menatap sang Mama dan pak Jaya yang terlihat sedang sibuk menonton TV.


Akhir-akhir ini mereka terlihat romantis setelah acara pernikahan.


"Udah cepetan ngomong biar gue yang nyahutin," bisik Lena yang malah gemas sendiri.


"Sabar, Len!"


Suara bisikan antara keduanya terdengar membuat Rahmi dan pak Jaya menoleh.


"Loh, ada Lena di rumah. Udah lama?"


"Baru ajak Tante," jawab Lena yang sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hust! Cepetaaaaan!" bisiknya dengan mata melotot.


Syifa meneguk salivanya saat dia didorong pelan oleh Lena berusaha menyuruhnya agar lebih cepat untuk berjalan. Lena tidak tahan lagi dengan detak jantungnya yang berbunyi sangat cepat.


Ia begitu takut jika harus berhadapan dengan Rahmi mengenai kebohongan yang akan terjadi nantinya.


"Ma, Ayah! Syifa mau ngomong sama Mama dan Ayah. Apa Syifa bisa bicara?" ujar Syifa yang masih berdiri di samping Lena membuat Rahmi dan pak Jaya saling berpandangan.


"Tentu saja kamu mau ngomong apa?" tanya Rahmi setelah duduk di kursi sofa tepat di hadapan kedua orang tuanya itu.


Ia sesekali menatap Lena yang duduk di sampingnya. Keduanya saling berpandangan. Oke kita mulai sekarang.


"Ma, Syifa mau izin."


Lena memejamkan kedua matanya erat. Ia tak berani untuk mendengar alasan dan kebohongan dari Syifa.


"Izin apa? kamu mau ke mana?"


"Besok Syifa mau camping acara sekolah."


"Camping acara sekolah?"


"Iya, boleh kan?"


"Boleh."


"Tapi, Ma waktunya agak lama."


"Berapa? Satu minggu?" tebaknya.


"Bukan."


"Lalu?"


Sontak kedua mata Rahmi membulat. Ia langsung menatap ke arah putrinya yang terlihat duduk dengan tenang sementara Lena nampak menggaruk-garuk kepalanya itu.


Sejujurnya dia tidak menyangka jika Syifa benar-benar berbohong.


"Camping selama 1 bulan? Mana ada camping selama itu. camping satu bulan? Kenapa lama sekali Syifa?"


"Syifa juga nggak tau, Ma. Ini udah ketentuan dari guru yang ada di sekolah."


"Tapi, kok lama banget. Biasanya camping itu cuman satu minggu aja, itu pun paling lama. Iya kan Mas?"


"Iya betul," sahut pak Jaya yang menanggapi.


"Ini peraturan baru. Semuanya juga pergi. Iya, kan Len?" ujarnya yang langsung menyikut perut Lena yang terpelonjak kaget.


"Iya benar," jawabnya mendukung.


Tuhan semoga ia tidak mendapatkan dosa yang besar setelah membohongi dua makhluk yang ada di hadapannya.


Ah, lagi-lagi Syifa memberikan catatan buruk kepadanya. Tuhan, ini demi kebaikan Syifa juga. Ia tidak bermaksud untuk berbohong.


"Tapi, kok lama banget, sih?"


"Satu bulan ini sudah ketentuan dari sekolah, ya kan Len?"


"Iya Tante," sahut Lena cepat.


"Memangnya campingnya buat apa? Tujuannya buat apa dan kenapa sampai lama sampai seperti itu?"


Mati! Lena menutup wajahnya. Tujuan camping belum mereka bahas bersama.


"Em, Camping ini bertujuan untuk memberikan pelajaran melestarikan lingkungan," jawab Syifa dengan pelan.


Ia berusaha berpikir keras untuk mendapatkan jawaban ini . Lena tersenyum kecil menatap sahabatnya yang telah berbohong. Pandai sekali dia mencari alasan.


"Oh kalau begitu besok Mama bakal antar kamu-"


"Oh, nggak usah Ma! Syifa sama Lena. Iyya kan Len?"


"Iya," jawab si Lena cepat sambil mengganggukan kepalanya dengan kencang.


Ia meremas jemari tangannya yang begitu sangat ketakutan. Takut juga kebohongannya ini sampai terbongkar.


"Kamu sudah siapkan barang-barang?


"Belum."


"Ya sudah kalau begitu kamu siapkan barang-barang dan jangan sampai ada satupun barang yang ketinggalan."


"Oh iya Ma," ujar Syifa yang kemudian tertunduk.


Kali ini ia sedikit gugup untuk harus memintanya.


"Ada apa?"


"Ini kertas biaya untuk keberangkatan dan pembayaran selama camping," ujarnya sembari menjulurkan kertas membuat Rahmi dengan cepat meraihnya.


Ia menatap lembaran kertas dengan tulisan di sana. Setelah melihatnya ia langsung menatap Syifa yang langsung tertunduk.


Syifa tau apa yang sedang dipikirkan oleh Mamanya sekarang ini.


"Mahal sekali Syifa."


"Syifa minta maaf Ma tapi Syifa sangat ingin pergi kemping tapi kalau Mama tidak mau tidak apa-apa."


Rahmi menghembuskan nafas panjang.


"Biaya ini terlalu mahal untuk camping selama sebulan. Ini hanya camping tapi kenapa biayanya sama seperti orang yang mau berobat saja."


Syifa meneguk salivanya. Tebakan omongan Mamanya itu benar. Ini memang biaya untuk pengobatan bukan untuk camping.


"Syifa juga tidak tau, Ma tapi kalau Mama tidak mau Syifa-"


"Tidak apa-apa. Nanti Mama siapkan," potong Rahmi.


Syifa menghela nafas pendek. Ia bernafas legah lalu melirik menatap Lena yang terlihat gemetar.


Syifa tau apa yang sahabatnya itu rasakan saat ini. Tentu saja dia takut. Kali ini kebohongan kembali melibatkan sahabatnya itu.


...🕯️🕯️🕯️...