
...🕯️🕯️🕯️...
"Maksud lo? Lo nggak mau gue jenguk lagi, hah? Iya maksud lu kayak gitu?" ujarnya yang begitu tidak percaya.
Syifa menghirup napas panjang kemudian dengan perlahan ia menatap ke arah Lena yang masih menatapnya dengan pandangan yang begitu sangat serius.
Ah, bahkan sekarang kini Syifa tidak suka dia tetap seperti itu. Entah mengapa setiap orang yang menatapnya ia selalu merasa jika orang tersebut sudah mengejeknya.
"Kenapa?" tanya Lena dengan serius.
"Syifa malu," ujar Syifa dengan bibir yang bergetar.
Kini kedua matanya telah berair, tertampung pada sudut matanya yang telah memberat.
Air matanya nyaris menetes.
"Malu? Malu kenapa?"
"Lena masih nanya? Syifa malu sekarang. Syifa malu Syifa yang kayak. Gimana sekarang Syifa nggak malu soalnya Syifa udah beda. Syifa udah gak sama seperti yang dulu lagi. Syifa udah kurus dan jelek."
"Lena tau nggak, sih? Syifa sekarang nggak tau harus gimana lagi. Apa lagi sekarang? Malu, Syifa malu sama diri."
"Bahkan Syifa sendiri ngerasa malu sama Syifa sendiri. Syifa nggak suka kalau ada yang ngeliat Syifa. Syifa tau, Syifa juga malu sama Syifa sendiri. Syifa malu sama fisik Syifa dan perubahan fisik Syifa yang udah terjadi ."
"Syifa, Syifa ngerasa kalau Syifa ini nggak ada gunanya lagi. Syifa ini cuma jadi beban hidup dan gak ada lagi gunanya. Nggak ada apa-apanya. Nggak ada sesuatu yang bisa lagi Syifa andalin dalam kehidupan Syifa."
"Syifa malu sama Syifa sendiri. Syifa malu. Mending Lena nggak usah datang lagi, deh ke sini. Soalnya Syifa malu banget."
"Syifa!" potong Lena yang berhasil membuat ocehan Syifa terhenti.
Lena meraih pergelangan tangan Syifa, menyentuh jemari tangannya dengan lembut dan mengusap kedua bahu Syifa yang masih menangis sesenggukan.
"Udah stop! Lu jangan ngomong kayak gitu! Semua yang lo ngomongin itu salah. Lo tetap seperti sahabat gue yang pernah gue lihat sebelumnya."
"Walaupun sekarang lo berubah dan apapun yang terjadi gue nggak peduli tentang perubahan fisik lo atau segalanya."
"Lo akan tetap Syifa yang gue kenal sebagai gadis yang ceria."
"Tapi fisik Syifa yang berubah," potong Syifa.
"Oke, fisik lu mulai berubah tapi perasaan lo jangan. Lo harus tetap jadi Syifa yang seperti dulu yang selalu ceria dan selalu berusaha buat ngebahagiain orang-orang yang ada di sekitar."
"Lo jangan menyerah, oke. Kata menyerah itu enggak ada dalam kamus Syifa dan sekarang kenapa? Kenapa lo mau nyerah kayak gini?"
"Lu juga jangan ngerasa malu sama fisik lo. Lu harus semangat karena ada gue di sini. Gue bakalan nemenin lo sampai lo sembuh-"
"Tapi Syifa kayaknya nggak bisa Len," potong Syifa dengan bibirnya yang kini bergetar.
Ia tak mampu lagi untuk bisa menahan tangisan yang telah terkumpul. Sudah lama ia ingin menangis tetapi baru kali ini ia tak sanggup lagi untuk menahan semuanya.
Rasanya beban di dadanya itu begitu sangat besar dan berat. Tak bisa lagi untuk ia tahan sekarang. Sekali ia menangis rasanya ia tak bisa lagi untuk menghentikan tangisannya. Batas kesedihannya sudah meninggi, tak ada lagi sebuah harapan yang bisa ia simpan rapat-rapat.
Lena memejamkan matanya dengan erat kemudian ia memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat. Lena mengusap punggung Syifa yang membuat ia bisa merasakan setiap sisi tulang-tulang bagian belakangnya.
Syifa Lena memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat membiarkan Syifa menangis sesenggukan di dalam pelukannya. Ia tau bagaimana perasaan sahabatnya sekarang. Semua orang yang mengalami perubahan pada fisiknya tentu saja akan seperti ini.
Apa yang dilakukan oleh Syifa itu semua wajar. Kesedihan tentu saja selalu diawali dengan sebuah penolakan.
"Lo harus sabar Syifa! Gue selalu ada buat lo. So, lu jangan pernah sedih karena kalau lo sedih gue juga ikutan sedih."
"Jadi lu jangan pernah ngomong buat malu karena gue bangga bisa sahabatan sama lo. Gue bangga karena lo yang bener-bener kuat kayak sekarang."
"Lo tau, gue adalah orang yang paling beruntung di dunia ini karena punya sahabat yang kayak lo. Hebat dan di luar sana mungkin semua orang punya sahabat yang baik, keren atau gimana sekalipun tapi dia nggak akan pernah punya sahabat kayak lo yang kuat melawan sebuah penyakitnya."
"Apa yang menjadi perubahan pada fisik lo, apapun itu gue bangga sama lu, Syifa. Gue bangga," ujarnya.
Syifa kini tak mengatakan apa-apa, hanya ada suara tangisannya yang terdengar. Mungkin Lena bisa saja mengatakan semua itu, tetapi tetap saja hatinya yang sudah sakit ini seakan tak memiliki obat lagi.
Rayuan kata dari Lena seakan sukar untuk masuk di dalam hatinya. Rasa benci pada dirinya kini semakin meninggi. Bayangan orang-orang yang akan menertawainya nanti seakan terpampang jelas di pikirannya.
Kini setelah adegan yang menangis keduanya terlihat duduk menatap pemandangan yang ada di taman dari atas ruangan rawatnya.
Lena kini sedang terlihat mengupas beberapa buah lalu menyuapkannya pada Syifa yang langsung menyambutnya. Lena tersenyum begitu bahagia rasanya ia pun sangat bangga dan bersyukur bisa berada di samping Syifa di saat-saat seperti ini.
"Makan yang banyak biar cepat sembuh!" ujar Lena yang berpura-pura seakan ia tidak peduli dengan nada suaranya yang sengaja diketuskan.
"Lu juga ingat dan lo harus jadiin ini motivasi biar lo cepat sembuh, oke! Lo cepat sembuh, ya! Kalau lo cepat sembuh nanti gue yang bakalan ngejemput lo dari rumah ke sekolah," jelasnya membuat Syifa tertawa.
Yah, dulu Syifa yang selalu mengantar jemput Lena dan sekarang Lena mengatakan jika kali ini setelah nanti dirinya sembuh maka Lena yang akan menjemputnya pergi ke sekolah.
"Nggak, ah Syifa nggak mau dibonceng sama Lena."
"Lah, emang kenapa? Lu enggak percaya sama gue kalau gue pintar naik motor? Naik mobilnya juga bisa apalagi naik motor," ejeknya yang sok sombong.
"Emang Lena bisa naik motor apa? Naik sepeda aja nggak bisa," ejeknya lalu tertawa cekikikan membuat Lena berpura-pura memperlihatkan wajahnya jika ia terlihat kesal padahal di dalam hatinya ia sudah tertawa. Ia sangat bahagia bisa membuat Syifa tertawa seperti ini.
"Iya, iya nanti. Hari ini lu bisa aja ngetawain gue tapi setelah lu ngelihat gue pintar naik pintar bawa motor dan kecepatan yang mengalahkan si Rossi itu, lo bakalan terpukau dengan keahlian gue."
Mendengar hal itu membuat Syifa langsung tertawa cekikikan sambil memegang perutnya.
"Beneran?"
"Ya iyalah. Lu enggak percaya sama gue?"
"Ya enggak lah."
"Sama gue juga," jawab Lena hingga akhirnya ia kembali tertawa cekikikan membuat sosok dokter Bryan yang berniat melangkah masuk dalam ruangan Syifa langsung menghentikan langkahnya.
Langkahnya dibuat terhenti seiring tangannya yang tertahan memutar ganggang pintu.
Dari sini ia bisa melihat sosok gadis yang sedang saling tertawa di dalam sana. Keduanya terlihat begitu bahagia. Mereka terlihat bahagia seakan berusaha untuk menutupi kesedihan masing-masing.
Gadis yang hebat. Dokter Bryan merasa sangat salut kepada mereka berdua.
...🕯️🕯️🕯️...