Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-47



...🕯️🕯️🕯️...


"Oh tidak ada apa-apa," jawab Syifa yang kini mengulungkan senyum berusaha memberitahu sosok Nayla jika ia baik-baik saja walau sejujurnya hatinya sedang kacau.


Syifa yang tertunduk sedih itu dengan perlahan menggerakkan kedua matanya menatap sosok Nayla yang terlihat masih tersenyum di sana seakan ia tidak merasa sedih dengan penyakitnya.


"Kenapa Nayla bisa tersenyum seperti ini?"


"Memangnya kenapa?"


"Tidak, hanya saja Syifa pernah mendengar informasi dan kata orang kalau penyakit kanker otak itu akan membuat orang menjadi sedih."


"Tapi Syifa lihat Nayla tidak sama sekali terlihat sedih, bahkan Nayla selalu tersenyum. Syifa sangat kagum dengan Nayla."


"Jangan kagum dengan Nayla! Nayla dulu bahkan merasa jika dunia Nayla benar-benar telah hancur.


Nayla menjeda ujarnya. Ia tertunduk sejenak lalu kembali menatap sosok Syifa yang begitu serius mendengar penjelasannya.


"Dulu saat dokter mengatakan jika Nayla mengidap penyakit kanker otak, saat itu benar-benar membuat hidup Nayla merasa sangat hancur, benar-benar hancur."


"Bahkan Nayla selalu menyalahkan Tuhan yang telah memberikan penyakit ini. Semuanya dalam perasaan Nayla selalu beranggapan kalau Tuhan benar-benar tidak menyayangi Nayla.


"Nayla merasa kalau Nayla diciptakan hanya untuk merasakan kesedihan saja."


"Awalnya Nayla menolak untuk makan, menolak untuk minum obat dan hanya memikirkan tentang kematian saja walau sejujurnya Nayla tidak ingin mati."


"Nayla merasa kalau dunia Nayla itu sudah hancur. Tidak ada orang tua yang bisa memberikan Nayla motifasi dan kata semangat."


"Teman-teman juga telah menjauhi nayla karena mereka takut kalau mereka juga akan mengalami sakit seperti Nayla padahal Nayla tau jika penyakit ini tidak menular."


"Namun, pandangan semuanya tidak bisa diubah. mereka tidak ingin bertemu dengan Nayla lagi apalagi sekarang Nayla malu karena kepala Nayla yang sudah botak.


"Tapi Nayla berusaha bersyukur. Nayla masih bisa menggunakan hijab hingga hasil dari kemoterapi masih bisa ditutupi."


"Sekarang Nayla mulai berpikir positif bahwa kehidupan ini tidak ada yang sia-sia. Semua telah diberi takaran masing-masing."


"Kita tidak bisa menolak Tuhan untuk melakukan semuanya."


Nayla terdiam sejenak setelah berbicara panjang lebar. Pandangannya terlihat kosong hingga bayangan orang-orang yang ia sayangi bermunculan di dalam ingatannya.


"Oh, maaf ya Syifa. Nayla terlalu banyak bicara mengenai penyakit Nayla."


"Tidak apa-apa. Syifa bahkan sangat senang bisa mendengar penjelasannya. Em, Sebenarnya Syifa punya sahabat dan sahabat Syifat itu sama seperti Nayla."


"Dia juga sakit. Dia terkena kanker otak, sama seperti Nayla," sambungnya.


"Benarkah?"


"Iya."


"Oh, jadi tujuan Syifa ke sini untuk menemani sahabat Syifa?"


"Iya betul," ujar Syifa berbohong.


Sekujur dia hanya tidak ingin mengatakan jika sebenarnya yang sakit kanker otak itu adalah dirinya.


"Lalu bagaimana respon sahabat Syifa setelah mendengar kalau dia sakit kanker?" tanya Nayla.


"Tentu saja dia merasa kecewa. Dia bahkan menyalahkan Tuhan."


"Tidak apa-apa menyalahkan Tuhan. Itu memang umum terjadi pada saat ia mengetahui sakit yang ia derita."


"Mungkin Syifa bisa memberitahukan hal ini kepada sahabat Syifa kalau Tuhan tidak pernah tidur. Dia mengetahui semuanya."


"Apakah sampai sekarang dia masih menyalahkan Tuhan?" Nayla kembali bertanya.


Syifa terdiam cukup lama. Memainkan jemari tangannya dengan gugup hingga tak berselang lama ia menoleh menatap ke arah Nayla yang kembali bicara.


"Kalau dia masih menyalahkan Tuhan maka beritahu dia jika Tuhan maha adil. Tuhan memberikan penyakit ini untuk memberikan pelajaran bagi kita semua kalau kehidupan itu tidak ada yang abadi."


"Nayla bahkan tidak tau apakah hari ini Nayla masih bisa hidup atau besok bahkan Nayla bisa saja akan mati jika Tuhan telah mengambil nyawa Nayal."


"Jadi itulah yang menyebabkan Nayla harus bisa tersenyum dan mengikhlaskan semuanya. Nayla tau Tuhan berada di hati Nayla."


"Dia mengetahui semuanya. Terlebih lagi kepada Nenek. Suatu saat nanti Nayla akan meninggalkan nenek dan Nayla memutuskan untuk memberikan senyum kepada nenek."


"Nayla ingin menggunakan waktu terakhir Nayla dengan sebuah senyum dan kebahagiaan. Jika memang Nayla akan mati nantinya, Nayla ingin meninggalkan dunia ini dengan sebuah senyuman."


"Nayla ingin berbuat kebaikan. Nayla tidak ingin membuat orang yang Nayla tinggalkan nanti merasa senang dengan kepergian Nayla."


"Nayla hanya berusaha untuk membuat orang-orang sayang dengan Nayla. Agar nanti saat Nayla pergi dari dunia ini ada yang menangis Nayla walaupun Nayla tau tidak akan ada yang menangisi sosok Nayla jika Nayla dijemput oleh Tuhan nantinya."


Air mata Syifa menetes membasahi pipinya hingga jatuh mengenai punggung tangannya. Ia tidak menyangka jika ada seorang gadis yang begitu sangat tulus dan ikhlas menerima sakitnya hingga sebuah derita.


Berbeda dengan dirinya yang bahkan menyalahkan Tuhan dengan penyakit yang dia derita. Seharusnya Syifa harus melihat dan mencontohi Nayla yang bisa masih tersenyum seperti ini.


Syifa bisa melihat wajah Nayla yang nampak sedih, tetapi senyumnya berusaha ia paksakan untuk bisa terbias di wajahnya.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Nayla membuat Syifa dengan cepat menghapus air matanya.


"Tidak apa-apa. Syifa hanya sedih. Syifa tidak menyangka ternyata Nayla begitu sangat tulus dan sangat baik."


Nayla hanya tersenyum kecil lalu ia tertunduk sembari memainkan jemari tangannya yang pergelangan tangannya terlihat dipasangi infus.


"Oh iya bagaimana kalau kita bersahabat!" tawar Syifa.


"Bersahabat?"


"Iya. Syifa ingin bersahabat dengan Nayla. Apa boleh?"


Senyum Nayla terukir dengan jelas di kedua mata Syifa. Ia terlihat begitu bahagia.


"Baik, Nayla mau," ujarnya lalu mengulurkan tangan membuat Syifa dengan cepat membalas jabatan tangan dari jemari tangan Nayla yang terlihat kurus. Apakah ini salah satu efek dari kemoterapi juga?


"Nenek lama tidak?"


Suara pertanyaan itu terdengar diiringi dengan suara pintu yang ditutup. Syifa dan Nayla menoleh ke arah sosok wanita tua yang meletakkan rantang di atas meja besi.


"Tidak lama, kok terus ada Syifa yang menemani Nayla di sini."


"Oh iya terima kasih, ya Syifa. Kamu boleh pulang sekarang, mungkin kamu capek."


"Syifat tidak capek sama sekali, Nek," jawabnya.


Dengan pelan ia bangkit dari kursi yang ia duduki lalu kembali tersenyum menatap Nayla yang juga mengulurkan senyum kepadanya. Entah mengapa saat melihat Nayla tersenyum membuat Syifa merasa sangat damai.


Syifa merasa jika ia tidak sendiri dalam menghadapi penyakit ini


"Oh iya kalau semisalnya besok Syifa ke sini apa boleh?"


"Tidak apa-apa. Datang saja! Nayla pasti akan senang. Iya, kan Nayla?" ujar Nenek membuat Nayla menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja. Syifa bisa boleh datang untuk bertemu dengan Nayla. Nayla akan senang karena Nayla sudah mendapat sahabat baru."


"Nayla benar bahkan Nayla sering kesepian karena tidak ada yang menemaninya di sini. Apalagi kalau setiap sore Nenek harus pulang mengambil makanan di rumah jadi tidak ada yang menjaga Nayla. Iya, kan Nayla?"


Nayla kembali mengangguk.


"Ya, sudah kalau begitu Syifa pamit dulu ya, Nek, Nayla!"


"Iya hati-hati," jawabnya membuat Syifa melangkahkan kakinya keluar dari pintu ruangan Nayla.


Syifa menarik nafas dalam-dalam dan berhembus dengan pelan. Sekarang sepertinya Syifa harus membuat sebuah perubahan. Perubahan pada dirinya dan menjadikan Nayla sebagai contoh dalam kehidupannya dengan cara menghadapi semuanya dengan senyuman.


Sebuah senyuman!


...🕯️🕯️🕯️...