
...🕯️🕯️🕯️...
"Syifa! Syifa!"
Suara panggilan terdengar membuat kening Syifa mengernyit. Rasanya kepala terasa sangat sakit hingga terasa sakit jika digerakkan.
Dengan perlahan Syifa membuka kedua matanya hingga cahaya berhasil menerobos kedua matanya yang berusaha melihat suasana yang ada di sekelilingnya.
Lena tersenyum bahagia melihat sahabatnya yang kini baru sadar setelah ia mengusapkan minyak kayu putih di bagian dada serta di bagian bawah hidung Syifa.
"Syukur, deh lo akhirnya sadar juga. Gue khawatir banget. Gue kirain lo meninggal," ujar Lena yang langsung memeluk tubuh Syifa.
"Aw!"
"Kenapa, Syif?" tanya Lena yang langsung melepaskan pelukannya.
Syifa menyentuh kepalanya yang masih begitu sangat sakit dan terasa berdenyut di dalam sana membuat Syifa meringis sambil menyentuh kepalanya.
"Apa? Apa yang sakit?"
Syifa masih meringis sambil menyentuh kepalanya, tak bisa menggambarkan rasa sakitnya dengan sebuah kata-kata sementara Lena masih menatapnya dengan pandangan yang begitu sangat serius.
"Sakit banget kepala lu?" panik Lena sambil menyentuh kepala Syifa.
"Kepala Syifa sakit," adunya sambil meringis bahkan tubuhnya bergetar berusaha menahan sakit.
Kedua mata Syifa yang terpejam erat itu perlahan terbuka dan terbelalak saat memperhatikan wajah Lena yang terlihat terluka. Di bagian wajahnya nampak seperti bekas cakaran panjang dengan darah yang mengering di sana.
"Loh, mukanya Lena kenapa? Karena berantem juga? tanya Syifa yang begitu cemas.
"Masih mending gue kayak gini. Nah, lu kenapa! Lu pingsan tau nggak."
"Tapi Lena nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa."
"Tapi itu gimana sama luka di wajah Lena?"
"Ini nggak penting. Lu yang paling."
"Parah?" tanyanya tidak mengerti.
Lena bangkit dari kursi meraih cermin yang menempel di dinding dan meletakkan cermin itu tepat di depan wajah Syifa yang kedua matanya membulat kaget setelah melihat wajahnya
"Ya, ampun!" kaget Syifa yang tak menyangka melihat luka di wajahnya dan bahkan terdapat luka lebam di sana.
"Berdarah!" kata Syifa saat melihat darah yang telah mengering di salah satu lubang hidungnya.
"Ya iyalah. Gue masih mending mukanya kayak gini. Nah, lo gimana wajah lo bonyok kayak gitu." Tunjuknya membuat Syifa kini hanyalah mampu terdiam sambil sibuk menatap luka-luka di wajahnya.
Ia juga menunduk menatap punggung tangannya yang terdapat banyak luka bahkan tinjunya itu nampak memerah.
"Terus gimana sama Kinara?"
"Tuh!"
Tunjuknya membuat Syifa menoleh menatap tirai yang berada di sampingnya.
"Mana?"
Lena mendecakkan bibirnya lalu ia bangkit dari kursi lalu menarik tirai yang ada di sampingnya memperlihatkan sosok Kinara, Kiki dan Nura yang juga terbaring diberangkar.
Sontak Kinara langsung menoleh menatap Lena dan juga Syifa.
"Ngapain lo ngeliatin gue?!" tegur Kinara yang nampak sibuk memainkan ponselnya.
"Gue pikir lo udah mati!" teriaknya lalu kembali menutup tirai.
"Tuh, lihat! Yang paling parah itu lo. Lo beneran nggak apa-apa, kan? Gue dengar kepala lu kayak dihempas keras banget ke lantai."
"Nggak apa-apa, kok cuman sakit dikit," jawabnya hujannya lemas membuat Lena semakin menjadi cemas.
Pintu terbuka membuat semua orang yang berada dalam ruangan UKS langsung menoleh menatap sosok Glen yang melangkah masuk ke dalam ruangan UKS.
Glen buru-buru berlari ke UKS setelah ia mendengar kabar jika sepupu dan pacarnya itu bertengkar di kantin.
Sontak Syifa yang meringis itu langsung menetap ke arah sosok Glen yang kini sedang menatapnya.
"Sekarang kita lihat, siapa yang bakalan dipilih sama Glenn. Lo atau Kinara," bisik Lena membuat Syifa kini hanya bisa tertunduk.
"Tentu aja Glen pilih Syifa. Syifa, kan pacarnya Glen" ujarnya yakin.
"Gleeen! Luka Kinara sakit banget!"
Suara manja terdengar dari seberang brangkar yang ditempati oleh Syifa membuat Lena dan Syifa sontak saling berpandangan.
Lena mengecutkan wajah begitu sangat jijik setelah mendengar suara rengekan manja dari sosok Kinara. Glen terdiam menatap Kinara dan Syifa secara bergantian.
Sekarang ia tak tau harus memilih siapa. Satu sisi Syifa nampak terdiam sementara Kinara nampak berteriak dan merengek. Apakah rasa sakit yang dialami oleh Kinara itu begitu sangat sakit sehingga ia berteriak seperti itu.
"Glen sakit!!!" teriaknya manja.
Glen kembali menatap kedua mata Syifa yang kini masih menatapnya dengan pandangan yang sangat serius. Syifa sangat berharap jika Glen datang menghampirinya. Sekafrang jelas-jelas keduanya terbaring sakit.
"Kakak Glen! Cepetan!" teriak Kinara.
Syifa masih menatap Glen dengan pandangan lebih sangat serius serta penuh harap.
"Glan, ayo pilih Syifa! Datang ke Syifa sekarang!"
"Syifa butuh Glen!"
"Kepala Syifa sakit. Ayo Glen! Datang ke Syifa! Syifa mau kasih tau ke Glen kalau kepala Syifa sakit. Ayo Glen! Datang ke Syifa!" batinnya yang mengharapkan Glen hingga akhirnya Glen melangkahkan kakinya menghampiri sosok.....
Kinara, sekali lagi Kinara yang dihampiri oleh Glen.
Sontak kedua mata Syifa membulat begitu tidak menyangka saat ia melihat sosok Glen yang lebih memilih menghampiri Kinara daripada dirinya.
"Gila, Glen lebih milih Kinara daripada lo," kaget Lena yang juga tidak menyangka sementara Syifa hanya terdiam.
"Pacar apaan, tuh? Masa dia lebih mentingin si Kinara daripada lo? Lo itu, kan pacarnya masa dia lebih mentingin Kinara daripada lo?"
"Gila, gue nggak habis pikir tau nggak," lanjutnya.
Seketika air mata Syifa menetes membasahi pipinya. Rasanya ia sangat sakit hatinya dan juga ia tidak menyangka disaat-saat seperti ini Glen lebih memilih Kinara daripada dirinya.
"Glen, kenapa harus memiliki Kinara? Terus Syifa ini apa sebenarnya? Kenapa seakan-akan Syifa ngerasa kalau Syifa itu nggak penting."
"Apanya? Apanya yang sakit?"
Suara dari seberapa terdengar, itu suara Glen diiringi dengan suara manja dari Kinara yang berusaha melebih-lebihkan rasa sakit yang dia rasakan.
"Kakak Glen sakit banget. Tau nggak, sih pacar kakak itu mukul Kinara kenceng banget.
"Pokoknya kakak Glen harus putus sama Kinara. Belum nikah aja dia udah berani mukul Kinara. Gimana kalau kakak Glen udah beneran nikah mungkin Kinara udah dibunuh," sambung Kinara.
"Kurang ajar," kesal Lena yang berniat untuk menghampiri mereka tapi dengan cepat dicegah oleh Syifa.
"Udah!" bisik Syifa.
"Tapi-"
"Hust!" ujarnya lalu ia meremas dengan erat kepalanya bisa begitu sangat sakit hingga menyiksanya membuat Syifa meraih pergelangan tangan Lena dan membantunya untuk membaringkan tubuhnya di atas berangkar.
Syifa menekan kepalanya dengan sangat erat, sakit sekali. Rasanya ia ingin menangis sesegukan dan berteriak dengan keras tapi ia tidak ingin jika Glen mendengar suara tangisannya itu dan dia tak ingin jika Kinara mengira kalau ia berusaha untuk mencari perhatian Glen seperti apa yang Kinara lakukan sekarang.
Bukankah Kinara lebih penting daripada semuanya.
...🕯️🕯️🕯️...