Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-23



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa menghentikan laju motornya ketika ia telah berada di depan pekarangan rumah. Ia melepas helm dari kepalanya mengusap keringat yang bercucuran membasahi dahinya. Hari ini ia bekerja cukup banyak untuk mempersiapkan semuanya.


Langkah Syifa yang kini melangkah masuk ke dalam rumah terhenti saat ia bisa melihat Mamanya bersama dengan pria bernama Jaya itu. Sontak Rahmi bangkit dari sofa lalu ia tersenyum menyambut kedatangan Syifa berbeda dengan Syifa yang menatap tak suka dengan kehadiran pak Jaya yang ada di dalam ruangan tamunya.


Ia hanya memasang wajah datar di sertai dengan liriknya yang tak suka lalu melanjutkan langkah yang menaiki anak tangga.


"Syifa! Syifa!" panggil Rahmi berusaha untuk menegur sikap Syifa yang sama sekali tak menyapa pak Jaya.


Pak Jaya bangkit. Iamenyentuh pundak Rahmi yang hanya bisa menghela nafas yang cukup panjang dan berat.


"Sudah jangan dipanggil mungkin tak mudah untuk bisa menerima orang baru masuk ke dalam keluarganya."


"Tapi seharusnya dia nggak kayak gitu, Mas."


"Saya tahu tapi kita harus memikirkan hatinya juga."


"Kamu terlalu baik."


"Sudah seharusnya kan kita harus baik?"


Tak ada jawaban Rahmi ia hanya mengganggu dengan diiringi senyumnya. sejujurnya ia sangat tak enak dengan pak Jaya karena sikap Syifa yang sudah dua kali gadis itu telah mencueki pak Jaya seperti ini.


Syifa melangkah masuk ke dalam kamar menutup pintu dengan rapat-rapat lalu mengguncinya, tak ingin lagi jika Mamanya masuk ke dalam kamar dan kembali memarahinya. Kali ini Syifa tidak ingin berdebat. Hari ini cukup melelahkan tubuhnya juga terasa sangat lemah.


Syifa membaringkan tubuhnya di kasur, melempar ke sembarang arah tas yang sejak tadi menyilang di tubuhnya. Kedua matanya menatap langit-langit ruangan kamarnya. Sebuah senyum terukir di bibirnya, tak terbayangkan bagaimana reaksi Glen saat melihat kejutan yang ia berikan. Sudah cukup banyak persiapan yang ia lakukan hari ini jadi Syifa sangat berharap kejutan ini akan berhasil.


Cukup lama ia terdiam sambil memejamkan kedua matanya untuk meresapi ketenangan hingga kedua matanya yang tertutup itu terbuka. Ia dengan cepat meraih tas yang ada di sampingnya meraih ponsel lalu menghubungi seseorang. Kejutan tidak akan berhasil jika seseorang yang akan diberikan kejutan tidak dihubungi bukan.


Beberapa kali Syifa menyentuh layar ponselnya dan akhirnya meletakkan ponsel itu ke pipinya.


Berdering...


Tak cukup lama memakan waktu suara seseorang terdengar di seberang sana membuat Syifa dengan cepat bangkit dari tempat tidurnya.


"Halo Glen, selamat sore!"


"Ya, halo! Kenapa, Syif?"


"Glen lagi dimana?"


"Lagi di rumah, kenapa?"


"Oh, hari ini Glen nggak latihan basket?"


"Udah, kok tadi pagi udah latihan."


"Oh iya kamu lagi ngapain aja Syif hari ini? Aku telepon kamu nggak diangkat-angkat."


"Oh ya? Masa, sih?"


"Iya coba aja dicek!" pintanya membuat Syifa yang masih sedikit kebingungan dengan cepat menatap layar ponselnya, menggesernya sejenak dan berhasil membuat keduanya sedikit membulat. Benar juga 7 panggilan tak terjawab dari Glen dan ia sama sekali tak mendengar suara panggilan dari Glen itu.


"Aduh, maaf ya Syifa nggak denger. Hari ini Syifa sibuk banget."


"Sibuk apa? Hari inikan hari minggu."


"Ya ada, deh," jawab Syifa dengan wajah yang gugup.


Untung saja ia berbicara lewat telepon jika tidak mungkin wajah kegugupannya ini akan dapat cepat ditebak oleh Glen.


"Oh iya besok ada acara nggak?"


"Ada."


"Oh iya besok ada pertandingan bola basket, ya?"


"Iya itu kalau pagi."


"Kalau malam gimana?"


"Malam?" tanya Glen yang kini terdiam beberapa detik.


"Iya malam sekitar jam sepuluh ke atas, lah."


"Jam sepuluh? Mau ngapain?"


"Jawab dulu, dong!"


Glen terdiam sejenak membuat sifat menggigit tujuan bibirnya begitu sangat takut mendengar jawaban dari


Glen yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Nggak ada sih."


"Beneran?"


"Iya nggak ada."


Mendengar hal itu membuat Syifa tersenyum begitu lebar. Rasanya ia ingin menjerit dan lompat kegirangan namun, berusaha untuk ia tahan.


"Ketemuan? Dimana?"


"Di restoran."


"Restoran mana?"


"Nanti Syifa share lokasinya."


"Oh ya udah-"


"Tapi ada syarat dulu."


"Syarat apa?"


"Syaratnya itu Glen bisa nggak datang ke restoran pakai jas hitam?"


"Jas hitam? Ngapain pakai jas hitam?"


"Makan malam aja. Ya udahlah turutin aja! Glen punya jas hitam, kan?"


"Punya, sih."


"Ya udah bisa nggak dipakai jasnya? Please!"


"Buat apa, sih?"


"Udahlah nggak apa-apa pakai aja!"


"Aku punya, sih jas hitam.


"Ya udah pakai aja dulu! Please!"


"Aduh, gimana ya soalnya pakai jahitan itu agak risih. Terakhir kali aku pakai pas sepupu nikah itu pun langsung aku lepas pas setelah selesai acara."


"Tapi ini nggak lama, kok bentaran aja pakai jasnya setelah itu dibuka aja kalau mau, ya! Boleh, kan Glen?"


Glen kini terdiam cukup lama membuat Syifa mengigit jemari tangannya.


"Ya udah, deh."


"Hah? Yang bener?"


"Iya bener."


Syifa memejamkan kedua matanya dengan erat dengan bibirnya yang ia lipat ke dalam berusaha untuk tidak menjerit.


"Ya udah jadi aku tunggu ya di restoran, nanti aku share lokasinya, pakai jas hitam dan datang jam sepuluh malam besok, oke?"


"Ya udah oke."


"Ya udah Glen istirahat, ya!"


"Em. Kamu juga."


"Oke, deh jangan lupa datang ya!"


"Pasti."


Tut.. tut...


Panggilan terputus. Syifa meletakkan ponselnya itu ke kasur lalu....


"Yey!!! Yeyeyeeeee!!!" teriak Syifa yang melompat-lompat kegirangan sambil berputar-putar dan seakan-akan ia sedang menari dia atas awan-awan yang bertaburkan dengan bunga-bunga.


Rasanya ia begitu sangat bahagia sekarang. Bahkan ia tak bisa untuk menghentikan senyumannya. Semoga saja kejutan ini berhasil dan ia bisa merayakan hari ulang tahun Glen membuat kejutan ulang tahun ini akan Glen ingat sepanjang hidupnya.


"Aduh, Syifa enggak sabar banget."


Syifa menghentikan lompatannya. Ia menyentuh dadanya yang berdetak begitu sangat cepat. Rasanya ia juga sangat tak sabar untuk bisa memberikan kejutan ini kepada Glen. Semoga saja rencananya berjalan dengan baik sesuai dengan harapannya.


"Oke! Oke! Tahan!" ujar Syifa yang merapikan rambutnya lalu mengusap keringat yang telah bercucuran membasahi keningnya.


Syifa tersenyum. Ia menatap wajahnya di pantulan cermin itu.


"Oke, jangan terlalu bersemangat Syifa!"


"Sabar! Sabar! Aduh, tapi Syifa seneng banget."


Syifa menyentuh pipinya yang terasa hangat itu. Ia benar-benar terlalu bersemangat hari ini dan begitu sangat senang.


"Oke, tahan Syifa! Syufa harus tampil cantik di kejutan itu."


"Aduh, nggak sabar banget ngelihat Glen yang akan kaget ngeliat kejutannya."


"Gimana, ya ekspresi Glen? Nggak kebayang banget," ujarnya lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.


...🕯️🕯️🕯️...