
...🕯️🕯️🕯️...
"Ya, silakan!" pintahnya membuat Syifa dengan cepat meraih pulpen dan menarik kertas yang dijulurkan oleh dokter Bryan kepadanya.
Syifa melipat bibirnya sejenak. Bahkan bibirnya kini terasa bergetar karena takut serta tangannya juga gugup saat ingin mengukirkan sebuah tanda tangan di atas kertas.
"Tuhan, semoga saja ini adalah keputusan yang tepat untuk Syifa."
"Syifa tidak tau apakah setelah ini Syifa akan sembuh dari penyakit Syifa atau tidak. Tapi Syifa yakin Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik daripada apa yang Syifa pikirkan."
"Tuhan, semoga keputusan Syifa yang tidak memberitahu Mama dan Papa semoga adalah tindakan yang benar."
"Syifa hanya ingin semuanya baik-baik saja. Syifa hanya tidak ingin melihat semua orang menjadi cemas dan susah karena Syifa."
"Syifa hanya ingin melihat semuanya jadi bahagia, itu saja."
Goresan tinta hitam kini diukir, kan pada sebuah lembar persetujuan untuk pengobatan hingga setelah goresan itu selesai pulpen itu langsung terjatuh kemeja. Ia benar-benar telah setuju untuk melakukan tindakan pengobatan.
Lagi dan lagi muncul pertanyaan itu. Apakah semuanya akan baik-baik saja? Syifa menghela nafas panjang lalu menariknya dalam-dalam lagi sambil memejamkan kedua matanya.
"Dokter bisa minta nomor teleponnya?" ujaran dokter Bryan terdengar membuat Syifa membulatkan kedua matanya begitu tidak menyangka ketika dokter itu meminta nomor teleponnya.
Apakah ini benar?
Apakah ini serius?
Dokter Bryan meminta nomor teleponnya? Ini tidak mungkin dan Syifa bahkan tidak menyangka. Jika Lena mengetahuinya dia pasti akan sangat iri.
"No-nomor telpon?" tanya Syifa sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga lalu tersenyum kecil.
"Iya," jawab dokter Bryan.
"Tapi u-untuk apa?"
"Untuk informasi lebih lanjut. Siapa tau saya ingin menghubungi kamu mengenai tindak pemeriksaan lanjut ataukah ada data-data yang ingin dilengkapi," jelasnya.
Wajah Syifa mendatar. Rasanya ia ingin memukul kepalanya sendiri karena telah salah paham. Memangnya apa untungnya dokter Bryan meminta nomor teleponnya jika tidak membahas tentang penyakitnya saja.
Dasar bodoh, ia bahkan telah memiliki Glen dan bisa-bisanya ia telah salah paham. Memangnya siapa juga yang ingin meminta nomor telepon dari gadis yang mengalami sakit kanker otak seperti dirinya?
"Oh iya, dokter," ujar Syifa lalu tertawa cengengesan.
Ia segera menulis nomor teleponnya di selembar kertas lalu memberikannya kepada dokter Bryan yang menganggukkan kepalanya setelah kertas itu telah berada di jemari tangannya.
"Baik, jika ada apa-apa nanti saya akan hubungi kamu, ya!"
"I-iya dokter," jawab Syifa gugup ples malu sambil menganggukkan kepalanya.
Syifa masih terdiam menatap dokter Bryan yang terlihat memasukkan nomor teleponnya itu ke dalam laci. Hah, semudah itu dia memasukkannya ke laci padahal jantungnya berdebar-debar saat ia menulis satu persatu nomor teleponnya di atas kertas itu.
Syifa, tolong jangan membuat perasaan seperti ini! Dokter Bryan hanya meminta nomor telepon itu untuk tindakan pemeriksaan, bukan karena ia menginginkan sesuatu hal.
Jangan sampai kamu merasa jika dokter Bryan menyukaimu karena hanya kamu yang merasakannya.
Tidak! Tidak! Tidak! Jangan sampai Syifa memiliki rasa suka kepada dokter Bryan.
Sangat tampan sekali!
Rupanya apa yang telah dikatakan oleh Lena ternyata sangat benar jika dokter yang ada di depannya ini terlalu tampan. Hidungnya mancung, alis yang indah, kulit yang putih bersih. Hah, Tuhan rasanya Syifa ingin... Syifa menggelengkan kepalanya cepat. Ingat! Ingat Glen!
Oh, Glen maafkan Syifa yang telah mengagumi seorang pria seperti dokter Bryan.
"Ehem!"
Syifa tersentak kaget saat suara itu terdengar membuat kedua mata Syifa membulat menatap ke arah dokter Bryan yang sedang menatapnya dengan serius.
"Kamu masih ingin di sini?"
"Oh, sudah selesai?"
Dokter Bryan mengangguk.
"Tidak. Syifa mau langsung pulang saja," ujarnya lalu dengan cepat-cepat ia bangkit dari kursi.
Bruak!!!
Entah karena terlalu gugup atau memang kekuatannya yang bertambah setelah berada di hadapan dokter Bryan, kursi yang ia duduki itu terhempas ke belakang membuat Syifa menjerit.
Bukan hanya ia yang terkejut tetapi dokter Bryan juga. Syifa dengan gugup menoleh menatap dokter Bryan yang kedua matanya membulat. Syifa melangkah mundur agar menjauhi dokter Bryan yang masih menatapnya dengan wajah kebingungan serta syok.
"Syifa minta maaf."
"Sekali lagi saya minta maaf. Lain kali Syifa enggak bakalan buat kurusnya jatuh lagi," ujarnya lalu memegang gagang pintu.
"Te-terima kasih. Syifa permisi dulu, ya dokter."
"Terima kasih," lanjutnya sedikit menundukkan tubuhnya lalu ia menoleh berniat untuk melangkah keluar dari ruangan dokter Bryan.
Plak!!!
Dokter Bryan memejamkan kedutaan matanya dengan erat dengan kedua bahunya yang sedikit naik ke atas saat merasa ngilu saat sosok pasien yang ada dihadapannya dengan keras menghantam permukaan pintu ruangannya.
Dengan pelan dokter Bryan membuka matanya lalu menggerakkan kepalanya sedikit berusaha melihat pasiennya. Apakah ia baik-baik saja atau tidak. Sosok pasiennya itu masih berdiri dengan tubuh yang terkunci. Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun.
"Are you okay?" tanyanya dengan wajah cemas.
Syifa memejamkan kedua matanya dengan erat. Ia melipat bibirnya ke dalam berusaha menahan malu. Sakitnya tidak seberapa tapi malunya itu membuatnya ingin lenyap dari tempat ini.
Tuhan, kenapa ia bisa sebodoh ini.
Syifa menarik nafasnya dalam-dalam lalu tersenyum lebar. Walaupun ia tidak menoleh ke arah dokter Bryan jujur saja ia sangat malu sekali.
"Syifa tidak apa-apa, dokter. Syifa tidak apa-apa. Benar Syifa tidak apa-apa," jawabnya dengan gugup tanpa menoleh menatap dokter Bryan dan dengan cepat ia memutar ganggang pintu dan menariknya dengan susah payah.
Tak tau mengapa tubuhnya juga sangat lemah sekarang. Jika saja ia punya kekuatan untuk melenyapkan diri maka ia sudah lenyap dari tempat ini. Syifa menarik pintu dengan susah payah lalu melangkah keluar.
"Terima kasih dokter!" teriaknya dari luar dan berlari pergi membuat orang-orang yang ada di depan ruangan dokter Bryan melongok menatap bingung ke arah Syifa yang lari terbit-birit seakan dikejar oleh anjing.
...🕯️🕯️🕯️...