Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-53



...🕯️🕯️🕯️...


"Iya," potong Lena yang langsung membuat Syifa yang memukul jidatnya.


Sepertinya ini akan menjadi kesalahpahaman.


Sedetik kemudian raut wajah Lena yang tersenyum gembira itu kini berangsur datar saat melihat Nayla yang mengusap jemari tangannya dengan lembut membuatnya jadi kebingungan.


Ia tidak mengerti mengapa Nayla ini bersikap begitu lembut kepadanya saat ia mengetahui jika ia bersahabat dengan Syifa sudah sejak lama.


"Lena yang sabar, ya! Semuanya akan baik-baik saja.


Kehidupan memang terkadang tidak adil tapi kalau kita menerimanya dengan sebaik mungkin pasti akan membahagiakan dan juga menyenangkan."


"Semua orang punya jalannya masing-masing," sambungnya.


"Hah?" tanya Lena melongo.


Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh gadis ini.


"Nayla tau, sakit yang dialami Lena itu pasti sangat berat dan tolong jangan menyalahkan Tuhan karena sakit yang Nayla derita semua ini cobaan dari Tuhan."


"Dan Lena terkena penyakit ini karena Tuhan tau kalau Lena bisa menghadapi semuanya."


Kedua bibir Lena terbuka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh gadis yang masih mengelus tangannya. Dengan mata tajamnya itu ia melirik ke arah Syifa Yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya Syifa menyembunyikan sesuatu darinya.


Tersadar dari tatapan tajam itu membuat Syifa dengan cepat bangkit dan memisahkan genggaman tangan antara Nayla dan Lena.


"Sepertinya sudah waktunya untuk makan siang, ya. Apa Nayla punya buah? Kayaknya Syifa mau buah, deh," ujarnya gugup.


"Oh iya dan Lena juga," sahut Nayla.


Lena yang terdiam itu kembali menatap ke arah Syifa yang buru-buru menunduk.


"Orang sakit seperti kita berdua harus makan makanan yang bergizi," ujar Nayla lalu meraih beberapa buah yang berada di keranjang atas lemari besinya.


"Sakit memang harus makan buah-buahan. Sini biar Syifa Lena yang duduk!"


Syifa yang dengan cepat meraih pergelangan tangan Lena dan mendudukkannya di kursi.


"Sini biar Syifa yang kupaskan!" mintanya dengan begitu gugup.


Dari sini ia sesekali bisa melihat sorot mata yang penuh curiga dari Lena ke arahnya. Sepertinya setelah ini ia harus menjelaskan semuanya kepada sahabatnya itu.


...🕯️🕯️🕯️...


"Aduh, Syifam. Lu gila, ya?" ujar Lena saat mereka melangkahkan kakinya di bagian parkiran rumah sakit setelah menghabiskan waktu sorenya menemani Nayla di ruangannya itu.


"Masa lo bilang ke Nayla kalau yang sakit kanker itu gue bukannya lo."


"Sorry Lena. Sebenarnya Syifa itu nggak bermaksud buat bilang kalau yang sakit kanker otak itu Lena bukannya Syifa."


"Soalnya waktu Syifa ketemu sama Nayla, Syifa bilangnya kalau temen Syifa yang sakit kanker."


"Syifa nggak bilang kalau yang sakit kanker itu Lena. Syifa bilangnya sahabat. Sahabat!" ujarnya yang memperlambat kata sahabat dan menekannya dengan nada suara agar lebih inti didengar di telinga Lena.


"Yah, tapi kenapa Nayla malah ngira kalau gue yang sakit kanker?"


"Itu, sih karena Lena sendiri yang ngomong kalau Syifa itu cuma punya satu sahabat dan sahabat Syifa itu cuman Lena makanya Nayla mengira kalau yang sakit kanker otak itu adalah Lena."


Syifa menghentikan langkahnya setelah ia tiba di motor milik Syifa yang terparkir di bagian parkiran kendaraan bermotor.


"Tapi kasihan juga ngelihat Nayla kayak gitu."


"Iya Syifa juga."


"Iya apalagi ada Lena jadi suasana di ruangan rawat Nayla jadi rame."


"Oh iya sekarang setelah ini kita mau ke mana lagi?"


"Syifa mau langsung pulang aja, deh," putusnya saat ia menunduk menatap jarum jam pada jam tangan tangan miliknya.


"Oh ya udah antar gue pulang dulu, ya!"


"Oke deh," jawabnya hingga tak berselang lama motor matic milik Syifa itu kini melaju melintasi jalanan yang dipenuhi dengan kendaraan dari berbagai jenis.


Sore-sore seperti ini biasanya banyak pengendara yang keluar untuk sekedar berjalan-jalan atau baru saja kembali dari perkantoran.


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa yang masih melajukan motor maticnya melintasi jalanan akhirnya memelankan kendaraan roda duanya itu. Ia sengaja pulang setelah mengantar Lena melewati bagian perumahan tempat tinggal Ayahnya.


Rasanya ia sangat rindu, rindu ingin bertemu dengan Ayahnya itu. Sudah beberapa bulan Ayahnya tidak membalas pesan-pesannya dan bahkan tidak lagi berkunjung ke rumah.


Syifa sangat rindu, sangat-sangat rindu.


Syifa menepikan kendaraan roda duanya itu tepat di depan pagar milik rumah sang Ayah. Dari kejauhan saja Syifa bisa mendengar suara tawa yang terdengar begitu sangat membahagiakan.


Ada suara anak kecil dan suara Ayahnya serta suara wanita yang terdengar tertawa terbahak-bahak seakan mereka semua merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan oleh orang lain.


mereka seperti keluarga yang paling bahagia di dunia ini. Dengan langkah kakinya yang pelan mendekati pagar dari sini Syifa bisa melihat sosok Ayahnya yang tersenyum bahagia menatap putra kecilnya yang baru berusia 12 bulan itu sedang belajar jalan.


Sesekali anak kecil bertubuh putih dengan hanya menggunakan popok bayi itu sesekali terjatuh kererumputan menghasilkan decak tawa dari Ayahnya maupun dari istri baru Ayahnya itu.


Mereka semua terlihat bahagia hingga tak sadar air mata Syifa mebresy membasahi pipinya. Mereka begitu sangat bahagia.


Hati Syifa begitu sangat sakit. Jantungnya seakan memelan dan menolak untuk berdetak lagi. Nafasnya tercekal di tenggorokannya hingga susah untuk dikeluarkan.


Ia berusaha menarik nafas dalam-dalam dan rasanya angin itu seakan menolak untuk masuk ke indra pernapasannya.


Melihat mereka semua bahagia di atas penderitaan Syifa mengapa membuatnya nehjtyy sangat sedih. Syifa juga ingin tertawa tapi ia ingin Ayahnya tertawa bersama dengan dia dan juga Mamanya, Rahmi bukan malah bersama dengan istri baru dari Ayahnya itu dan juga anak laki-lakinya.


Syifa rindu kebahagiaan dulu dimana ia belajar mengayuh sepeda bersama Ayah. Syifa ingat betul dan tak akan pernah terlupakan dalam benak dan pikirannya.


Saat itu sang Ayah yang yang mengajarinya naik sepeda. Memegang kemudian, menahannya agar Syifa tidak jatuh dari sepeda sementara Mamanya itu bersorak di belakang sana memberikan semangat untuk Syifa agar berani mengayuh sepedanya, tetapi kenangan tetap akan menjadi kenangan.


Sampai kapanpun kenangan itu tidak akan pernah bisa terulang lagi. Ayahnya telah bahagia bersama dengan orang baru hingga melupakan sosok Syifa yang kini menangis sesenggukan di depan pagar.


Kedua tangannya menggenggam erat besi pagar. Meremasnya dengan perasaan yang sangat sakit


Syifa ingin bahagia!


Syifa ingin Ayahnya itu kembali tapi itu semua tidaklah mungkin lalu bagaimana dengan setangkai bunga mawar yang ia berikan dan ia letakkan di atas mobil milik Ayahnya itu.


Apakah Ayahnya melihat bunga mawar pemberiannya dan Ayahnya senang? Tersenyum bahagia mengambil bunga itu atau malah sebaliknya, membuang bunga mawar pemberian Syifa.


Syifa menghela nafas. Jika saja benar Ayahnya telah membuang bunga mawar itu maka akan hancur hati Syifa.


Syifa mengusap pipinya telah basah itu lalu melangkah cepat dan terburu-buru menaiki motor matic-nya.


Dia menancapkan gas meninggalkan area pekarangan rumah hingga suara kendaraan dari motor matic itu terdengar membuat suara tawa Farhan yang telah menggendong putra kecilnya itu menoleh menatap ke arah depan rumahnya yang terlihat kosong.


Tak ada siapapun di sana. Sedetik kemudian ia terdiam akan teringat sesuatu.


"Itu seperti suara motor milik Syifa. Apakah Syifa datang?" pikirnya.


...🕯️🕯️🕯️...