Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-22



"Tapi rencana awalnya apa?"


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa menghentikan laju motornya menepikan motor maticnya itu di depan rumah Lena yang kini telah menantinya sejak tadi.


"Kok lama banget, sih?"


"Sorry, tadi singgah isi bensin. Lena mau kalau kita dorong motor gara-gara kehabisan bensin?"


"Ya nggak juga, sih. Ya udah cepetan katanya kita mau siapin semuanya. Ya udah yuk!" ajakn Lena yang kini mendudukkan tubuhnya di jok motor.


"Eh, tapi kita kemana dulu?"


"Kita ke mall."


"Mall? Buat apa?"


"Ya ampun kita persiapan semuanya dari hadiah, gaun-"


"Gaun? Emang Syifa mau ngapain beli gaun?"


"Aduh, ya ampun. Lo nggak ngerti ya? Gue kan udah kasih tahu kalau kita ini maunya rencana makan malam berdua romantis jadi lo itu harus pakai pakaian yang cantik. Ngerti nggak, sih?"


Kini Syifa terdiam. Betul juga yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


"Woi, malah ngelamun lagi lo, cepetan!"


...****...


Motor Syifa kini melaju melintasi jalanan beraspal yang hari ini cukup terik. Mumpung hari minggu jadi mereka bisa lebih leluasa menyiapkan semuanya sekalian jalan-jalan.


Setibanya di sana mereka saling bergandengan tangan menuju masuk ke dalam mall menoleh kiri dan kanan mencari barang-barang yang mereka butuhkan.


"Syifa ini cantik, kan!?" tanya Lena yang langsung menempelkan gaun berwarna hitam itu ke tubuh Syifa.


"Terlalu pendek nggak, sih roknya? Pendek banget, deh," komentar Syifa.


"Iya juga sih."


Lena kembali menggantung gaun hitam itu lalu menyentuh beberapa gaun-gaun hitam yang masih berjejer rapi. Mengangkat satu persatu gaun untuk melihat model dari gaun tersebut.


"Kalau yang ini gimana?"


Syifa terdiam sejenak. "Cantik, ya udah coba dulu!"


"Nggak usah ah dicoba nanti langsung dibeli aja."


"Nggak boleh kayak gitu, dong! Lo harus coba dulu. Nih, gue udah punya gaun warna hitam dan satu warna putih. Semuanya dress panjang. Kita coba dulu kalau gaunnya cantik di badan lo, kita langsung beli"


Kini Syifa terdiam dan tak berselang lama ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu membuat Lena mendesain dirinya kesal dan mendorong bahkan menarik Syifa ke ruang ganti.


Lima menit kemudian....


"Tuh, kan cantik. Lebih cantik warna hitam nggak sih daripada putih?"


"Nggak tahu juga. Lo sukanya yang mana?"


Syifa menggeleng. Ia juga tidak tahu dengan dua pilihan warna itu.


"Coba yang warna putih aja, deh dulu!"


"Warna putih? Iya. Coba aja dulu!"


Syifa terdiam. Apakah serepot itu untuk merayakan hari ulang tahun Glen, pacarnya itu. Tapi tidak apa ini demi Glen lagi pula ini hanya sekali setahun.


"Loh, malah bengong lagi. Cepetan ganti!" suruhnya lalu mendorong Syifa dengan pelan membuat Syifa mau tidak mau hanya bisa menurut.


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa menoleh kiri kanan menetap beberapa tamu-tamu restoran yang sedang asyik bersantap makan sore di sebuah restoran yang sejak tadi dibahas oleh Lena. Yah sejak tadi Lena tak henti-hentinya menjelaskan keunggulan restoran itu. Entah dari segi makanan, pelayanan dan juga bangunannya.


Syifa nampak menggaruk-garuk kepalanya tidak mengerti mengapa ia sejak tadi menaiki anakan tangga bahkan ia juga menaiki lift cukup lama untuk mencapai lantai paling atas.


Syifa sejak tadi sesekali bertanya mengenai dimana mereka akan pergi namun, Lena hanya menyuruhnya untuk diam sambil mengikuti pelayan yang menjadi penunjuk jalan.


"Nah, jadi rencana kita itu di sini bakalan ada satu meja." tunjuknya pada sebuah lantai yang cukup luas.


"Nah, tempat ini kita sewa dalam semalam. terus di sini juga lo bakalan bisa melihat pemandangan dari sini."


Syifa meringis ngeri menatap pemandangan bangunan-bangunan yang cukup tinggi dan kini ia berada di lantai paling atas restoran ini.


"Ini terlalu tinggi, nggak, sih?"


"Apanya yang tinggi, sih? Ini tuh keren."


"Keren dari mananya? Kalau jatuh gimana? Malah tinggi banget lagi."


"Ya ampun, lo ini mau makan, kasih surprise bukannya mau membunuh diri lagian kalau malam kendaraan yang ada di jalanan sama bangunan-bangunannya itu bercahaya jadi makan malam lo itu bakalan makin romantis. Ngerti nggak, sih lo?" cerocosnya.


Tak ada jawaban dari Syifa hingga akhirnya ia hanya mengangguk. Kini ia baru mengerti.


"Nah gitu, dong dari tadi. Kalau gini kan gue jadi nggak usah ribet-ribet ngejelasin lagi . Oh iya masalah hiasan dan tema surprisenya biar gue yang ngatur."


"Yang bener?"


"Ya bener lah jadi lo santai aja! Nggak usah pusing mikirin semuanya."


"Aaah, Lena baik banget."


"Ya iya, dong. Ini nggak seberapa dari apa yang lo udah buat kemarin. Gue bahkan nggak nyangka kalau lo mau ngasih kejutan di hari ulang tahun gue."


"Dan lo udah ngasih gue hadiah yang sangat berharga. Makasih, ya Syifa."


...🕯️🕯️🕯️...