Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-43



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa melangkah turun dari motor matic yang telah ia lajukan menuju parkiran rumah sakit. Ia melepas helm hitam yang sejak tadi melindungi kepalanya.


Ia menoleh sejenak menatap ke arah rumah sakit yang terlihat masih ramai. Orang-orang berdatangan tanpa henti, sepertinya akhir-akhir ini banyak orang yang sakit, ya pikirnya sendiri.


Syifa melangkahkan kakinya dengan hati-hati menginjakkan permukaan lantai rumah sakit. Ia kembali menoleh ke arah kiri dan kanan menatap orang yang keluar masuk di pintu rumah sakit. Bahkan ia juga sempat menggeliat nyeri saat melihat brangkar-brangkar yang didorong dan di atas brangkar itu terdapat orang yang terlihat meringis Kesakitan karena luka yang ada pada sekujur tubuhnya.


Sepertinya orang itu adalah korban kecelakaan. Kursi roda juga didorong orang seorang pria yang juga ada di sana dengan perban yang membalut kakinya, agaknya kaki pria itu patah, pikirnya lagi.


Syifa terus melangkahkan kakinya masuk ke rumah sakit dan kini tercium aroma yang ia tak sukai membuat rasanya ia tak bisa berlama-lama di rumah sakit ini.


Hanya sebentar saja rasanya ia sudah sakit kepala. Syifa menoleh menatap orang yang sedang duduk mengantri untuk tindakan pemeriksaan.


"Banyak juga ternyata yang sakit, bukan hanya Syifa saja," bisiknya sambil masih memperhatikan hingga ia mengetikkan langkahnya saat ia berada di meja pelayanan.


"Mbak!"


"Ya, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya atas nama Syifa. Tadi ada yang telepon katanya dari pihak rumah sakitm. Syifa disuruh ke rumah sakit untuk tindakan pemeriksaan dan juga ada hal yang perlu dibahas."


"Tunggu, ya! Biar saya cek."


Syifa menganggukkan kepalanya membuat wanita berseragam putih itu membuka sebuah buku yang ada di hadapannya lalu sesekali mengecek dan menekan keyboard yang terhubung dengan komputer yang ada di hadapannya membuat Syifa yang menanti itu sesekali kembali menoleh menatap ke sekelilingnya.


Orang-orang nampak terlihat sedang sibuk di sini. Para suster dan dokter berseragam putih nampak melangkah dengan langkah tergesa-gesa.


Syifa meneguk salivanya, entah mengapa ia sangat takut sekarang.


"Saudara Syifa!"


"Iya?"


"Anda disuruh datang ke ruangan dokter Bryan."


"Do-do-dokter Bryan?"


"Iya."


"Ruangannya dimana, ya?"


"Di bagian sana! Di dokter spesialis saraf. Ada tulisan dokter syaraf di sana," jelasnya sambil menunjuk membuat Syifa ikut menatap ke arah tunjuk wanita berseragam putih itu.


Syifa tersenyum lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Syifa nggak tau."


"Kalau begitu bisa minta tolong sama penjaga keamanan yang ada di depan sana!" tunjuknya ke arah satpam yang sedang berjaga-jaga di depan pintu utama rumah sakit.


Perintah itu membuat Syifa mengganggukan kepalanya.


"Kalau begitu terima kasih, ya Mbak."


"Iya sama-sama," jawabnya dengan ramah.


Syifa melangkah mendekati satpam berseragam putih itu hingga akhirnya pria yang merupakan penjaga keamanan rumah sakit melangkahkan kakinya lebih dulu sementara Syifa mengikut di belakang.


Sepanjang perjalanan ia melewati beberapa ruangan rawat. Syifa hanya bisa menatap ngeri pada ruangan kamar yang dipenuhi dengan orang-orang sakit. Ada pula orang yang nampak menangis meraung-raung memenuhi ruangan rawat membuat Syifa menghentikan langkahnya dengan pelan menatap suasana haru di dalam sana.


"Drk!" panggil satpam yang baru menyadari jika Syifa tidak mengikuti langkahnya.


"Ya pak?"


"Ayo cepat!" panggilnya membuat Syifa berlari dan melanjutkan langkahnya mengikuti pria berseragam putih itu.


"Masih jauh, pak?"


"Itu sana di depan!" tunjuknya membuat kedua mata Syifa menatap ke arah depan sana dimana sebuah tulisan dokter saraf tertulis.


"Oh iya, pak. Terima kasih."


"Ya, sama-sama," jawabnya lalu ia berniat melangkahkan kakinya namun, langkahnya terhenti saat Syifa memanggilnya.


"Ada apa?"


"Em, pak kalau boleh tau itu kenapa, ya pak? Kok, nangis seperti itu."


"Biasalah kalau mendengar orang menangis di rumah sakit alasan satu-satunya adalah pasti kematian. Mereka semua menangis karena keluarganya yang sedang sakit dan di rumah sakit ini telah berpulang, ujarnya lalu melangkah pergi.


Tak berselang lama pintu ruangan dimana suara tangisan terdengar terlihat terbuka hingga muncul seorang dokter berjas putih yang melangkah keluar


Pria itu cukup yang tidak asing lagi di pandangan Syifa. Pria itu yang telah menjelaskan tentang penyakitnya tadi siang.


"Dokter! Dokter!" panggil Syifa lalu berlari menghampiri.


Dokter Bryan mengartikan langkah. Ia menatap Syifa yang nampak ngos-ngosan di hadapannya sambil menunduk.


"Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?


"Dokter, saya Syifa yang dokter panggil itu. Katanya saya dipanggil ,ya untuk pembahasan tindakan pemeriksaan lanjut?"


"Oh, Syifa? Yang tadi siang itu?"


"Iya, dokter."


"Baru datang, ya?"


"Iya dokter," jawabnya lagi.


"Kenapa baru datang? Saya hampir saja pulang."


"Maaf dokter, Syifa habisnya tadi ketiduran," jawabnya berbohong walau sejujurnya matanya itu tak bisa untuk diajak kerjasama.


Tubuhnya sangat lelah tapi pikirannya kemana-mana sehingga sulit untuknya tidur.


"Baiklah kamu masuk ke ruangan saya!" mintanya lalu lebih dulu melangkah masuk ke dalam ruangan.


Syifa terdiam sejenak. Ia meneguk salivanya begitu sangat takut untuk harus masuk ke dalam ruangan dokter Bryan yang menurut Lena sangat tampan.


Yah, memang sangat tampan. Dokter itu juga tinggi dan tampan. Sepertinya Lena punya selera yang sangat tinggi.


"Ayo silakan masuk!"


Suara terdengar dari dalam membuat Syifa tersentak kaget. Suasana sunyi dengan suara laki-laki yang tiba-tiba saya terdengar nyaris membuat jantungnya copot begitu saja.


"Iya dokter," ujarnya cepat lalu melangkahkan kakinya dengan hati-hati menuju masuk ke dalam ruangan.


Saat ia masuk ke dalam ruangan, kulitnya seakan meremang saat ia telah berada dalam ruangan hingga pendingin ruangan itu seakan ingin membekukan darahnya.


Entah karena memang ruangannya yang terlalu dingin atau rasa takut yang menghantuinya. Ia menoleh kiri, kanan menatap ruangan dokter Bryan yang dindingnya juga dihiasi dengan penjelasan mengenai sebuah penyakit serta gambar organ manusia beserta dengan panah dan penjelasan di sana yang Syifa bahkan tidak mengerti.


"Ayo silakan duduk!"


Syifa menoleh menatap sang dokter yang terlihat duduk di kursi hitamnya membuat Syifa lagi dan lagi hanya bisa mengangguk kepalanya diiringi dengan senyum paksa.


Jujur saja tenggorokannya seakan terkunci di dalam sana. Sangat takut sekarang. Untung saja dokter yang ada di hadapannya ini bukan seorang dokter pria yang berkepala botak, berwajah tegas dan kedua sarung mata tajam, tetapi dokter Bryan terlihat sangat tampan dan tidak membuat suasana menjadi sangat ngeri.


Syifa duduk di kursi itu dengan pelan memeluk tas sampingnya yang telah menutupi bagian dadanya. Walaupun ia telah duduk di kursi, tetapi kedua matanya merambah ke segala arah menatap ruangan dokter seakan ia sedang berada di dalam sebuah tempat yang baru.


"Ada apa?


Syifa tersentak kaget. Kedua matanya membulat namun, dengan cepat ia menghembuskan nafas berusaha untuk terlihat tenang di hadapan dokter Bryan.


"Tidak apa-apa, dokter. Syifa tidak apa-apa," jawabnya.


...🕯️🕯️🕯️...