Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-84.



...🕯️🕯️🕯️...


Pagi ini Syifa terfokus pada buah apel yang sedang ia kupas. Ia mengupasnya dengan hati-hati. Kedua matanya tertuju pada buah apel itu namun pikirannya terbawa oleh sosok Glen.


Di pikirannya adalah apakah keputusannya sudah benar dengan memutuskan hubungan dengan Glen. Ia tahu ini salah tapi harus bagaimana lagi ia harus mencobanya dan ia pula harus terbiasa dengan ketidakberadaannya.


Semuanya harus dilakukan walaupun terpaksa bukankah begitu bukan? Tak ada lagi sebuah harapan pada gadis seperti dirinya. Kematian akan terbayang di depan mata. Apakah ada harapan untuk bisa hidup bersama sedangkan sudah banyak hal yang terbayang di depan mata. Pikiran tentang kematian selalu terbayang di pikiran Syifa.


"Dokter?"


Tatap Syifa bingung. Ia mendapati sosok dokter Bryan yang terlihat berdiri dengan gagah bahkan hal yang terlihat aneh bagi Syifa adalah dokter Bryan yang tidak menggunakan jas dokter berwarna putih seperti biasanya.


Hal terlihat agak aneh. Dokter Bryan berpenampilan seperti orang biasa. Syifa berdiam diri beberapa saat memandangi dokter Bryan dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Dokter Bryan tersenyum. Penampilannya yang sederhana. Celana jeans, baju kaos berwarna hitam topi dan kunci mobil yang ada di tangan kanannya menjadi penampilan yang tidak menggambarkan sosok dokter Bryan seperti biasanya.


"Dokter Bryan mau ke mana? Hari ini ada libur, ya?"


"Betul, hari ini hari libur jadi dokter mau kita melunasi janji."


"Janji apa dokter?"


"Sepertinya kamu lupa."


Syifa terdiam beberapa saat memikirkan satu hal.


"Janji apa?" tanyanya lagi masih tidak mengerti namun sedetik kemudian kedua mata Syifa membulat menatap sosok dokter Bryan yang akhirnya tersenyum sepertinya dokter Bryan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Syifa.


"Apa dokter serius?"


Dokter Bryan mengangguk mantap.


"Tapi Syifa nggak mau jalan-jalan dokter. Syifa mau istirahat di kamar aja."


"Janji adalah janji. Dokter sudah berjanji untuk membawa kamu jalan-jalan dan dokter harus menempati hal itu."


"Tapi-"


"Tidak ada tapi-tepian! Dokter bilang ikut tetap ikut tidak ada kata penolakan!"


"Tapi bukannya dokter pernah bilang kalau Syifa itu harus istirahat."


"Ya dokter yang bilang untuk istirahat tapi dokter pula yang bilang kalau kamu harus ikut jalan-jalan dengan saya, setuju?"


Syifa menghela nafas. Akhirnya ia menanggapi dengan anggukan setuju. Harus bagaimana lagi ini permintaan sang dokter lagi pula ia juga bosan di tempat ini.


...🕯️🕯️🕯️...


"Kenapa nggak bilang si dokter kalau Syifa itu jalan-jalannya pakai kursi roda?" komentar Syifa membuat dokter Bryan yang sedang mendorong kursi roda yang diduduki oleh Syifa tersenyum.


"Yah dokter nggak bilang kalau kamu itu harus jalan-jalan jauh kamu tetap harus memperhatikan kesehatan kamu."


Syifa tersenyum kecil. Ia tertunduk memainkan jarinya sembari memandangi para pengunjung rumah sakit yang berlalu-lalang.


"Sudah jam pulang?"


Suara pertanyaan itu terlontar dari mulut security yang langsung membuka pintu mobil. Walaupun penampilan dokter Bryan yang tampil seperti orang biasa namun sepertinya jiwa dokter pada dirinya tidaklah pudar bahkan security rumah sakit ini dapat mengenali dokter Bryan.


Dokter Bryan membuka pintu membuat Syifa dengan mandiri melangkah turun berniat untuk masuk ke dalam mobil namun dengan cepat dokter Bryan memegang pergelangan tangan Syifa dan alhasil Syifa seketika terdiam memandangi jemari tangan dokter Bryan yang begitu terasa hangat pada lengan tangannya.


Kedua bola mata Syifa bergerak beradu pandang dengan kedua mata dokter Bryan yang juga menatapnya.


"Dokter bakalan bantu kamu jadi kamu nggak usah berusaha untuk masuk ke dalam mobil."


"Tapi Syifa bisa, kok dokter. Syifa kuat," ujarnya mendorong pergelangan tangan dokter Bryan dengan pelan. Dia hanya tidak mau jika dokter Bryan malah tersinggung.


Dokter Bryan mengangguk sembari memegangi pundak Syifa membantunya untuk masuk ke dalam mobil. Kursi roda itu dilipat dimasukkan ke dalam belakang bagian mobil hingga akhirnya mobil dokter Bryan melaju dengan kecepatan sedang keluar dari area rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Syifa hanya terdiam memandangi pemandangan alam di luar sana walau pikirannya masih tetap tertuju pada sosok pria bernama Glen itu.


Sesekali dokter Bryan melirik Syifa yang sepertinya tidak menikmati perjalanan kali ini.


"Ada apa? Ada sesuatu yang sepertinya kamu sembunyikan dan kamu simpan dengan rapat-rapat."


Syifa hanya terdiam kemudian menggelengkan pelan kepalanya. Dia menghembus nafas panjang.


"Apakah hal yang mengganggu itu adalah tentang penyakit kamu yang kamu sembunyikan dari kedua orang tua kamu?"


"Bukan dokter."


"Lalu?"


"Ini lai," jawabnya sederhana membuat dokter Bryan hanya mengangguk pelan. Sepertinya hal ini sangat sulit untuk bisa diutarakan oleh Syifa kepadanya.


"Sekarang kita mau jalan-jalan ke mana?"


"Ke tempat yang kamu suka."


"Iya, kamu suka tempat di mana nanti kita pergi ke tempat itu. Apa kamu suka satu tempat yang membuat kamu merasa nyaman?"


Syifa berdiam sejenak.


"Ya Syifa tahu," jawabnya hingga bayangan tempat jembatan dengan laut serta pantai itu terbayang.


"Kamu tahu arah dari jalan ini?"


"Tentu saja. Itu tempat favorit Syifa. Syifa sangat suka dengan tempat itu. Dokter tahu Syifa selalu datang ke tempat itu kalau Syifa ada masalah."


Dokter Bryan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Ia melihat ada rasa semangat yang terpancar pada diri Syifa.


"Kita akan ke sana sekarang," putusnya tanpa basa-basi.


Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu akhirnya menepi di siring jalan tempat di mana tercium bau dan suara ombak pantai.


"Kamu suka tempat ini?" tanya dokter Bryan sembari membuka pintu mobil.


"Ya tentu saja Syifa sangat suka tempat ini."


"Mau pakai kursi roda?"


"Tidak dokter, Syifa ingin jalan kaki saja lagi pula Syifa juga sudah bosan naik kursi roda."


"Tapi kamu bisa?"


"Bisa dokter. Syifa kan kuat. Bukannya dokter juga yang selalu bilang kalau Syifa itu perempuan yang kuat benar bukan?"


Syifa melangkah pergi melangkahkan kakinya pada jembatan kayu yang cukup panjang meninggalkan dokter Bryan yang terlihat tersenyum.


Dokter Bryan memandang ke segala arah. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya melangkah dengan santai di belakang Syifa yang nampak berdiri sambil berpegangan pada pembatas jembatan yang terbuat dari kayu itu.


Dokter Bryan sesekali memegangi topinya yang sedikit bergerak saat ditiup oleh angin. Ia melirik menatap Syifa. Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum seakan ia terlihat baik-baik saja dan tak ada masalah yang terjadi pada dirinya.


Syifa memejamkan mata lalu dengan perlahan ia melirik menatap dokter Bryan yang rupanya masih setia menatapnya.


"Ada apa dokter?"


"tidak apa-apa," jawab dokter Bryan yang langsung mengalihkan pandangannya. Memfokuskan pandangannya pada pemandangan alam yang ada di depan sana.


"Dokter tahu? Syifa sangat suka tempat ini tempat yang membuat Syifa merasa nyaman dan tentram. Ada banyak kedamaian yang Syifa dapat dari tempat ini."


"Benarkah?"


Syifa mengangguk.


"Bagaimana caranya kamu bisa menikmati suasana ini?"


"Bagaimana bisa?" tanya Syifa yang bertanya balik.


Dokter Bryan terdiam.


"Setiap ada masalah Syifa selalu datang ke tempat ini menarik udara ciri khas dari pantai lalu menghembuskannya dengan pelan dan rasanya sangatlah nikmat serta membahagiakan."


"Benarkah?" tanya dokter Bryan dalam pikirannya lalu ia menarik nafas dalam dalam aroma yang begitu sangat menenangkan dan setelahnya dokter Bryan membuka mata. Hembusan nafas yang ia lakukan sesuai dengan petunjuk dari Syifa membuat perasaannya benar-benar merasa nyaman dan setelahnya ia memandangi Syifa.


Benar juga yang dikatakan oleh Syifa. Kini ia merasa begitu sangat tenang.


"Hebat."


Syifa menoleh mendengar komentar fokter Bryan.


Senyum Syifa Yang terukir di bibirnya langsung menghilang begitu saja. Kepalanya terasa pening, terasa berputar membuat kedua kakinya yang berdiri kokoh itu terasa goyah. Rasanya pandangannya berputar-putar, tubuhnya lemas dan...


"Syifa!"


Dengan cepat dokter Bryan menangkap tubuh Syifa yang nyaris saja terjatuh.


Dokter Bryan begitu sangat panik. Ia merangkul Syifa yang sedang menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut di dalam sana.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya dokter Bryan yang begitu sangat khawatir. Ia memandangi wajah Syifa yang terlihat begitu sangat pucat sepertinya dia sudah salah untuk membawa Syifa jalan-jalan karena kondisi Syifa sepertinya tidaklah baik.


"Apakah kamu baik-baik saja? Apa terasa sakit?"


Syifa meringis tanda ia telah memberi jawaban.


"Bagian mana rasa sakit itu muncul?" tanya dokter Bryan begitu panik.


Syifa menggelengkan kepalanya sulit untuk mengatakan bahwa kepalanya begitu sangat sakit dan hanya sebuah anggukan yang bisa ia lakukan.


Kening Syifa yang mengernyit itu berangsur tengang. Wajahnya yang sejak tadi berusaha menahan rasa sakit itu menghilang begitu saja saat sosok Glen terlihat di hadapannya. Ia terlihat begitu marah. wajahnya memerah, ada rasa benci dan amarah yang berkobar di dalam sana.


...🕯️🕯️🕯️...