Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-56



...🕯️🕯️🕯️...


Ting


Suara lonceng berbunyi saat Syifa mendorong pintu dan melangkah masuk ke toko bunga, tempat dimana kemarin ia membeli bunga mawar dan juga kartu ucapan untuk sang Ayah. Ia tak peduli bagaimana keadaan hatinya setelah hancur melihat Ayahnya yang begitu bahagia bersama dengan keluarga barunya. Walaupun mereka terlihat bahagia tapi Syifa juga ingin melihat Ayahnya bahagia dan tersenyum dengan hal-hal kecil yang ia buat dengan setangkai bunga mawar ini merupakan harapannya.


"Eh, Syifa. Syifa mau pesan bunga mawar lagi, ya?"


"Iya mbak."


"Untuk siapa?"


"Ayah Syifa."


"Oh untuk Ayah."


"Kayaknya Ayah Syifa suka sama bunganya?"


"Iya Mbak sama kartu ucapan juga ya Mbak. Kalimatnya sama seperti kemarin, mbak. Kalimantanya selamat pagi Ayah dan jangan lupa tersenyum!"


Wanita pemilik toko itu mengangguk. Ia meraih setangkai bunga mawar lalu menuliskan kalimat di sana. Ia menyelipkannya dalam balutan plastik yang menyelimuti setangkai bunga mawar itu dan setelahnya setangkai bunga mawar itu telah berhasil berada di genggaman tangan Syifa membuatnya tersenyum.


"Sepertinya Ayah Syifa akan sangat bahagia karena setiap pagi akan mendapatkan bunga mawar."


"Iya terima kasih, Mbak. Semoga Ayah Syifa suka."


"Sama-sama. Semoga berhasil," jawabnya lalu Syifa melangkah keluar membuat pemilik toko itu tersenyum melihat Syifa yang akhirnya melaju dengan motor maticnya.


Ini yang pertama kalinya ia mendapatkan pelanggan seperti Syifa. Biasanya para pembeli hanya akan datang untuk membeli bunga mawar untuk sang kekasih atau orang tua tapi tidak datang setiap hari, tetapi berbeda dengan Syifa.


Ia bahkan datang setiap hari untuk memberikan setangkai bunga mawar untuk sang Ayah. Sepertinya Ayahnya itu begitu sangat beruntung karena putrinya terlihat begitu sangat sayang kepadanya.


Semoga saja suatu saat nanti dia juga bisa memiliki Putri seperti Syifa yang baik hati dan begitu sangat penyayang. Gadis cantik seperti hatinya.


Di atas motor Syifa masih tersenyum mengendalikan laju motornya itu melintasi jalan beraspal menuju komplek perumahan Ayahnya. Tak peduli apa yang akan terjadi nanti.


Apakah Ayahnya melihat dirinya atau bahkan Ayahnya sudah pergi tapi ia hanya ingin meletakkan setangkai bunga mawar itu di rumah Ayahnya. Setibanya Syifa menepikan motornya agak jauh agar tidak terlihat oleh sang Ayah jika ia keluar nanti.


Syifa melangkah turun dari motor mendekati rumah sambil mengeluarkan setangkai bunga mawar itu dari tasnya. Dari sini ia bisa melihat mobil sang Ayah yang masih ada di luar sana.


Ayahnya itu sepertinya belum berangkat ke kantor dan ini adalah kesempatan emas baginya untuk memberikan setangkai bunga mawar itu.


Kali ini pagar rumah sang Ayah tidak dibuka jadi Syifa harus dengan pelan dan penuh dengan hati-hati ia mendorong pagar rumah sang Ayah. Mendorongnya dengan pelan agar tidak ada suara sedikitpun yang dihasilkan oleh gesekan pagar yang ia buka.


Melangkah dengan pelan-pelan bak pencuri yang ingin merampok pada sebuah rumah setibanya. Ia dengan cepat meletakkan sebagai bunga mawar itu di atas moncong mobil Ayahnya.


"Ayah, Syifa datang kembali dengan setangkai bunga mawar dan sebuah kalimat sederhana untuk pagi Ayah yang Syifa harapkan akan selalu bahagia."


"Berbahagialah dengan keluarga baru Ayah karena hanya itu alasan Ayah bisa bahagia di dunia ini."


"Tolong jangan lupakan Syifa walaupun Ayah sudah punya keluarga baru apalagi dengan anak laki-laki Ayah."


"Anak baru itu pasti sangat berharga untuk Ayah. Tidak apa-apa jika Ayah sudah tidak sayang lagi dengan Syifa karena Syifa juga pernah merasakan kasih sayang Ayah dulu walaupun tidak bertahan lama."


"Syifa sayang Ayah, sangat-sangat sayang."


Syifa mengusap pipinya yang basah itu dengan punggung tangannya lalu segera berlari keluar dari pekarangan rumah. Menggeser pagar itu dengan pelan lalu menancapkan gas motornya meninggalkan pekarangan rumah.


Tak berselang lama sang Ayah dan istri barunya itu melangkah keluar dari rumah. Menenteng sebuah koper ia memberikan kecupan hangat untuk sang istri dan putra kecilnya yang digendong oleh sang istri.


"Kalau begitu Ayah pergi dulu, ya."


"Iya Ayah, hati-hati," jawab sang istri yang memberikan kesan suara kecil seolah-olah putra kecilnya itu yang menjawab.


Setelahnya Farhan melangkah keluar mendekati sang mobil yang akhirnya saat ia hendak membuka pintu langkahnya tertahan. Keningnya mengeryit saat melihat setangkai bunga mawar yang berada di atas mobilnya.


Ia menoleh kiri, kanan berusaha mencari seseorang. Hal yang terjadi kemarin kini terulang kembali. Setangkai bunga mawar dengan sebuah kartu ucapan ada di sana. Ia meraihnya menatap kartu itu yang telah ia keluarkan dari setangkai bunga mawar.


[Selamat pagi Ayah. Jangan lupa tersenyum]


"Selamat pagi Ayah. Jangan lupa tersenyum," ujar Farhan yang membaca isi tulisan pada kartu itu.


Setelahnya ia menoleh ke arah kiri, kanan berusaha mencari sosok pemberi bunga mawar ini.


"Siapa? Siapa yang memberikan bunga mawar ini?"


Ini sudah kedua kalinya ia mendapatkan bunga mawar itu tapi saat ia membaca isi tulisannya dan mengamati setiap kalimat yang tertulis di sana sepertinya orang ini sangat mengenal dirinya.


Apalagi ada sebuah kalimat Ayah dan kalimat Ayah itu hanya sering disebut oleh putrinya, Syifa. Apakah putrinya itu yang memberikan setangkai bunga mawar untuknya tapi bagaimana bisa Syifa memberikan ini.


Bahkan Syifa tidak pernah tau kalau ia tinggal di tempat ini. Hubungan antara ia dan putrinya itu sudah sangat berjarak cukup jauh bahkan ia dengan sengaja tidak membalas pesan-pesan putrinya. Memberikan gambaran jika ia merasa marah pada putrinya karena putrinya itu menolak untuk ikut dengannya dengan alasan karena ia menyayangi Rahmi, mantan istrinya itu.


Tetapi jika benar Syifa, anak kandungnya yang telah memberikan setangkai bunga mawar ini maka mengapa putrinya itu masih mau memberikan perhatian kepadanya padahal ia jelas-jelas telah meninggalkannya bersama dengan Rahmi.


Farhan yang sejak tadi menatap bunga mawar kini menoleh ke arah sang istri yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah. Selanjutnya ia kembali menunduk menatap bunga mawar yang masih berada di tangannya.


Ia melangkah masuk ke dalam mobil duduk di kursi dan meletakkan setangkai bunga mawar itu ke laci mobilnya. Sudah dua bunga mawar yang ada di dalam mobilnya itu. Warna yang sama, wangi yang sama dan kalimat kartu dengan kalimat yang sama. Berarti orang yang memberikan ini juga sama.


Ia kemudian kembali terdiam memikirkan siapa yang telah memberikan setangkai bunga mawar ini untuknya dan setelah lelah berpikir panjang akhirnya ia memutuskan untuk melajukan mobilnya itu dengan segala rasa kebingungan yang menghantui pikirannya.


...🕯️🕯️🕯️...