Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-59



...🕯️🕯️🕯️...


Glen menghentikan laju motornya itu tepat di depan rumah Lena untuk mengambil motor milik Syifa yang sengaja Lena gunakan untuk pulang ke rumahnya.


Syifa melangkah turun dari motor berwarna hitam yang Glen lajukan. Syifa tersenyum sejenak hingga akhirnya berpaling dan mendorong pagar besi.


"Syifa!" panggilan membuat Syifa dengan gerakan pelan menatap ke arah Glen yang masih duduk di atas motornya.


"Nanti malam gue telepon dan li harus angkat!"


Tanpa menunggu jawaban dari Syifa, Glen langsung menancapkan gas meninggalkan kediaman Lena beserta dengan Syifa yang terdiam di depan pagar.


"Syifa!" panggil Lena yang berlari keluar dari rumahnya setelah melihat kedatangan Syifa dari balkon.


"Lo dari mana aja? Jalan-jalan k moll, ya?"


"Enggak. Cuman ke pantai aja."


"Ke pantai? Lo sama Glen balikan?"


"Syifa, kan sama Glen nggak pernah putus. Cuman Syifa itu marah aja sama Glen," jelasnya.


"Oh, jadi lo baikan gitu?"


Syifa hanya mengangguk lalu ia melangkah menuju motornya yang telah terparkir di depan pekarangan rumah Lena.


"Oh, iya kalau gitu Syifa duluan, soalnya banyak urusan."


"Iya, iya gue tau. Semenjak lu sakit lu kayaknya banyak urusan, deh,"nujarnya membuat Syifa tertawa kecil.


Selama dalam perjalanan Syifa merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Jauh lebih menghargai waktu. Tidak membuang-buang waktu dengan hal-hal yang tidak berguna. Ia ingin selalu membuat sesuatu yang baru tak pernah ia lakukan sebelumnya.


Keinginannya hanyalah satu, membahagiakan beberapa orang yang selalu ia temui. Kini ia menlajukan motornya menuju rumah sakit.


Syifa sengaja membeli bunga mawar untuk Nayla. Memberikan sedikit hadiah untuknya agar bisa menyenangkan hati sahabat barunya itu sekaligus mendukung dalam proses pemulihannya setelah menjalani kemoterapi.


Setelahnya Syifa langsung melangkah menuju ruangan Nayla sembari memeluk bunga mawar yang berada di tangannya. Setibanya ia langsung mengetuk pintu. Mendorongnya pelan-pelan hingga dari sini ia disambut dengan senyuman dari Nayla yang sepertinya sudah sejak tadi menunggu kedatangannya.


Di ruangan itu pula Nenek dari Nayla sudah tidak ada, sepertinya dia sudah pergi sejak tadi.


"Maaf, ya Syifa telat soalnya ada urusan sedikit," ujar Syifa sembari melangkah masuk.


"Nggak apa-apa. Nayla malah senang karena Syifa tetap datang. Dari tadi Nayla tunggu Syifa. Nayla pikir Syifa nggak bakalan datang buat ngejenguk Nayla."


"Yang nggak, lah. Sampai kapanpun Syifa bakalan datangnya. Oh iya, ini bunga untuk Nayla."


Beberapa bunga mawar yang telah dirangkai itu kini telah berada dipelukan Nayla membuat Nayla tersenyum begitu bahagia.


Ia menunduk, menciumi satu persatu bunga mawar yang masih terlihat sangat segar. Senyumnya mengembang tak terkira. Kebahagiaan terpancar di wajahnya.


"Aduh, jadi ngerepotin. Kenapa harus bawa bunga, sih?"


"Emangnya kenapa? Nayla nggak suka bunga?"


"Bukan nggak suka cuman nggak enak aja. Nayla cuman takut."


"Takut apa?"


"Takut merepotkan."


Syifa tertawa kecil.


"Bahkan Syifa malah senang kalau bawain bunga buat Nayla. Anggap aja ini hadiah persahabatan dari Syifa."


Mendengar hal itu membuat Nayla tertawa kecil. Dia memandangi bunga itu. Menyentuhnya dan kembali menciumnya satu persatu.


Bunga mawar yang telah berada dalam pangkuannya begitu sangat indah. Ini pertama kalinya ia mendapatkan bunga mawar dari seseorang dan itu diberikan untuknya dari Syifa, sahabat yang baru dia kenal selama tiga hari ini. Keberuntungan yang datang disaat-saat dia menjalani pengobatan.


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa meletakkan helmnya itu ke atas jok motor setelah memutuskan untuk pulang dan tidak terlalu berlama-lama di rumah sakit. Ia juga tidak ingin mengganggu Nayla dan ingin membiarkannya istirahat lebih cukup.


Nayla itu dalam proses pemulihan jadi ia harus banyak istirahat dan Syifa tidak ingin terlalu mengganggu waktu istirahat Nayla.


Langkah Syifa kembali terhenti saat menatap depan rumahnya yang tidak ada mobil milik pak Jaya. Biasanya jika ia pulang dari sekolah, mobil pak Jaya sudah terparkir di depan rumah tapi sekarang malah kosong. Tidak ada mobil si pria yang mencintai Mamanya itu di sana.


Dengan langkah yang sedikit kebingungan ia menelusuri setiap ruangan hingga akhirnya ia menemukan sang Mama yang sedang duduk di meja makan sementara mbok Jati nampak sedang mencuci piring di bagian dapur.


"Syifa! Syifa baru pulang?" tanya Rahmi yang melihat kedatangan Syifa.


"Nggak apa-apa, kok. Makan yuk!" ajaknya sembari masih mengunyah makanan yang tersisa di dalam mulutnya.


"Terima kasih. Syifa mau langsung naik."


"Oh iya, Syifa!" panggilnya membuat langkah Syifa terhenti.


"Mama mau tanya sesuatu sama kamu."


"Ada apa Ma?"


"Kok, tumben, sih hari-hari terakhir ini kamu enggak pernah pulang cepet biasanya selalu lama."


"Iya tadi Glen ajak Syifa jalan."


"Oh, si Glen? Hubungan kamu sama Glen baik-baik aja?"


"Baik, kok Ma," jawabnya yang masih tersenyum.


Dia mengeluarkan bekal dari tasnya dan memberikannya kepada mbok Jati yang masih sibuk dengan piring-piring kotor.


"Loh, cuman satu non?" tanya mbok Jati yang mengangkat bekal yang telah diberikan oleh Syifa.


Syifa yang masih berjalan pergi menuju kamarnya itu tertahan langkahnya. Ia menoleh lalu sedikit menggaruk kepalanya.


"Maaf mbok. Syifa lupa lagi," jawabnya lalu tanpa menunggu ujaran dari mbok Jati, ia segera melangkah pergi membuat mbok Jati dan Rahmi saling berpandangan.


Syifa meletakkan tas sekolahnya ke atas tempat tidur. Menghela nafas diiringi dengan tubuhnya yang ia baringkan di atas kasur. Rasanya hari ini sangat melelahkan.


Sesekali ia menyentuh kepalanya saat merasakan sakit setelah ia bersin membuat kepalanya terasa berdenyut di dalam sana, sangat menyakitkan membuat Syifa memejamkan mata sambil menyentuh kepalanya itu.


Pintu terbuka membuat Syifa dengan cepat menoleh menatap sang Mama yang melangkah masuk ke dalam kamar.


Syifa bangkit duduk di atas kasurnya saat Rahmi mendekat.


"Mama boleh cerita sesuatu?"


"Cerita apa Ma?" tanya Syifa yang kini menoleh ke arah Rahmi yang sudah duduk di sampingnya.


"Tentang pak Jaya."


"Pak Jaya? Kenapa sama pak Jaya?"


Rahmi tertunduk sejenak kemudian kembali menatap putrinya.


"Setelah kalimat kamu kemarin pak jaya memutuskan untuk melangkah ke jenjang lebih serius."


"Maksudnya?"


"Mama sama pak Jaya mau menikah tapi itupun kalau kamu mengizinkan. Besok pak Jaya ingin datang melamar bersama dengan keluarganya."


Rahmi menyentuh jemari tangan Syifa yang sontak tersadar dari lamunannya.


"Syifa, Mama sangat berharap banyak sama kamu. Mama nggak bakalan terima lamaran pak Jaya kalau kamu menolak tapi kalau kamu setuju dan mau Mama menikah dengan pak Jaya maka Mama akan terima lamaran pak Jaya itu."


Kini Syifat terdiam. Kalau ia setuju dan membiarkan Mamanya menikah dengan pak Jaya lalu bagaimana yang dirinya?


Tapi tidak mungkin juga melarang Mamanya untuk tidak menerima lamaran dari pak Jaya. Mamanya juga butuh kehidupan yang baru bersama dengan orang yang sangat mencintainya.


Ia tidak mungkin melarang Mamanya untuk menjalani kehidupan baru sementara Ayahnya itu telah membuat hubungan bersama dengan orang baru. Membuka lembaran baru bersama dengan istri barunya itu.


"Syifa!" panggil Rahmi membuat Syifa tersadar dari lamunannya.


"Nggak apa-apa, kok Ma. Syifa senang kalau Mama sama pak Jaya menikah. Syifa juga nggak sabar, kok mau lihat Mama sama pak Jaya itu pakai baju pengantin."


"Syifa senang. Syifa nggak sabar mau manggil pak Jaya dengan sebutan Ayah."


Mendengar hal itu kedua mata Rahmi terasa bergetar berusaha menahan air mata yang membendung, siap untuk tumpah. Tak pernah menyangka dia jika putrinya akan mengatakan hal itu.


"Kamu serius?"


Ia tak menjawab. Syifa tersenyum lalu memeluk tubuh Mamanya yang nampak menitikan air mata.


"Syifa serius. Syifa sangat-sangat serius. Apapun yang membuat Mama bahagia itu juga yang membuat Syifa bahagia. Kebahagiaan Mama adalah kebahagiaan Syifa juga."


"Syifa sayang Mama dan selamanya akan tetap seperti itu."


...🕯️🕯️🕯️...