
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa menutup koper yang telah ia sediakan. Beberapa pakaian yang tidak terlalu banyak telah dia masukkan ke dalam koper dari.
Sejak kemarin ia telah menyiapkan barang-barang ini untuk ia akan bawa nantinya ke rumah sakit. Selain itu ini juga menjadi alasan agar Rahmi, Mamanya tidak curiga.
Drtttt
Ponsel Syifa berdering membuat Syifa dengan cepat meraihnya menatap nama Lena di sana.
"Halo, Len."
"Syif, cepetan, nih! Gue udah siap-siap."
"Gue juga udah di depan rumah lo," ujarnya membuat Syifa dengan cepat bangkit dari pinggiran tempat tidurnya.
"Ya udah gue turun, ya."
Syifa berlari kecil menghampiri Lena yang nampak sedang berdiri di depan rumah dengan taksi berwarna biru yang ada di sampingnya.
"Lena mesang taksi?"nbisik Syifa yang tidak menyangka.
"Ya iyalah. Lo pikir gue mau bawa ajak Mama gue buat datang ke sini. Nanti dia bakalan curiga," gemes Lena dengan nada bicaranya yang ditekan.
"Terus gimana setelah ini? Kita mau langsung ke mana?" bisik Lena dengan kedua matanya yang menajam.
"Udah mau berangkat?"
Suara itu terdengar membuat Syifa dan Lena dengan serentak tersentak kage. Keduanya langsung menoleh menatap ke arah sosok Rahmi dan pak Jaya yang berjalan bersisian menghampiri Syifa yang terlihat sangat gugup.
"iya Tante", jawab Lena yang dengan cepat menyikut lengan tangan Syifa membuat Syifa dengan cepat mengangguk.
Rahmi menghela nafas cukup panjang. Ia menghampiri putrinya lalu memeluknya dengan erat. Sepertinya ini yang pertama kalinya ia akan berpisah cukup lama dengan putrinya itu.
Biasanya hanya jarak komunikasi yang memisahkan dan itu hanya beberapa jam saja namun, kali ini ia akan berpisah dengan putrinya dalam waktu yang cukup lama. 1 bulan, 1 bulan itu bukan waktu yang singkat.
Setelah hubungannya dengan putrinya membaik kini ia harus diberi cobaan dengan berpisah dengan Syifa. Walau hanya sebulan tapi tetap saja Rahmi akan merindukan putrinya itu.
Syifa memejamkan matanya menyandarkan kepalanya itu di dada Mamanya. Kehangatan tubuh Mamanya ini tentu saja ia akan selalu merindukan.
Kehangatan tubuh ini, apakah ini pelukan terakhir untuk Syifa? Tidak tau tapi Syifa berharap ia akan baik-baik saja nantinya.
Syifa melepaskan pelukannya membuat Syifa dengan cepat mengusap pipinya yang basah itu. Ia tak menduga jika ia telah menangis.
"Kenapa menangis?" tanya Rahmi yang dengan cepat mengusap pipi putrinya.
"Nggak apa-apa. Syifa cuman sedih aja."
"Kalau sedih enggak usah ikut kemping mending sama Mama aja. Emangnya kamu enggak mau ikut sama Mama dan Ayah ke Kuala Lumpur?"
"Nggak usah, itu kan buat honeymoon Mama sama Ayah dan Syifa enggak boleh masuk, dong dan enggak boleh ganggu."
"Semoga aja honeymoon Mama bisa ngasih Syifa adik," ujarnya membuat Rahmi dan pak Jaya dengan serentak langsung tertawa.
"Ayah!" panggil Syifa membuat pak Jaya langsung menoleh.
"Pokoknya setelah Syifa pulang, Syifa harus dengar kabar kalau Syifa bakalan punya adik!" tunjuknya dengan nada mengancam membuat pak Jaya tertawa.
"Ya tentu saja Ayah akan berusaha keras," ujarnya.
Lambaian tangan itu bergerak seakan mengucapkan selamat tinggal kepada Syifa yang kini telah berada di dalam mobil yang juga ikut melambaikan tangannyam
Syifa menatap Mama dan Ayahnya yang terlihat begitu berat untuk melepaskannya seperti juga dengan Syifa yang juga terasa berat untuk meninggalkan mereka tapi Syifa harus melakukannya.
Syifa ingin tetap hidup untuk membahagiakan semuanya.
Mobil kini semakin menjauh membuat Syifa.tak mampu lagi melihat sosok Mama dan Ayahnya yang sudah berjarak cukup jauh.
Seketika wajah Syifa jadi cemberut, tak ada senyuman yang terukir di wajahnya. Senyum yang ia tunjukkan kepada kedua orangtuanya itu tiba-tiba saja menghilang, lenyap begitu saja.
Hatinya begitu sangat sakit seakan ada belati yang menekannya begitu keras menembus ke belakang.
Syifa mengusap pipinya yang lagi-lagi dibasahi oleh air mata yang mengalir dari kedua mata sayupnya sementara Lena yang telah dilibatkan dalam kebohongan duduk di sampingnya dengan pakaian yang seakan siap untuk berangkat kemping sesuai dengan kebohongan yang telah mereka rencanakan
Lena tertunduk sedih. Ia tau apa yang sahabatnya itu rasakan membuatnya menyentuh pundak Syifa dan mengelusnya dengan lembut.
"Lu hebat Syifa. Lo hebat," pujinya.
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa duduk di hadapan dokter Bryan yang terlihat menatap hasil pemeriksaan bagian kepala Syifa berniat untuk melihat kembali bagaimana perkembangan kanker otak yang berada di kepalanya.
Dokter Bryan menghela nafas. Ia meletakkan hasil pemeriksaan itu ke atas meja lalu menatap ke arah Syifa yang terlihat masih memandanginya dengan pandangan yang begitu sangat serius.
Kini di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua sementara Lena nampak sedang menunggu di luar.
"Bagaimana apa Syifa tetap akan di kemoterapi?"
"Tentu saja. Kamu tau? Kanker yang ada di kepala kamu itu semakin menjalar dan berkembang. Saya, kan sudah sarankan untuk melakukan kemoterapi lebih cepat tapi kamu selalu menundanya."
"Sekarang lihat! Kanker kamu itu semakin parah," lanjutnya.
Mendengar hal itu membuat dokter Bryan tertunduk. Jujur ia tak tau harus mengatakan apa kepada Syifa yang masih menatapnya sambil tersenyum.
"Saya tidak pernah mengatakan itu. Saya selalu berharap pasien yang datang selalu keluar dalam keadaan sehat dan saya ingin kamu juga keluar dalam keadaan sehat."
"Dan Syifa juga. Syifa mau Syifa sembuh. Syifa nggak mau sakit dokter. Syifa mau hidup," ujarnya penuh harap.
"Itu juga keamanan saya."
"Jadi bagaimana selanjutnya dokter?"
Dokter Bryan merapikan hasil pemeriksaan itu, memasukkannya ke dalam tempat berwarna putih bergambarkan rumah sakit.
"Tetap dilakukan dan kamu tidak boleh lagi untuk menunda-nundanya lalu selama satu bulan itu kamu akan ada di rumah sakit."
"Kamu sudah memberitaukan kedua orang tuamu tentang penyakit ini?"
Syifa menggelengkan kepalanya pelan membuat dokter Bryan menghela nafas. Tebakannya selama ini benar dan ternyata Syifa rupanya belum mengatakan hal ini kepada Mamanya itu.
"Kenapa tidak diberitahu?"
"Mama dan Ayah lagi honeymoon. Syifa nggak mau ganggu."
"Lalu bagaimana dengan kamu?"
"Tidak apa-apa, Syifa sudah terbiasa dengan kesendirian dan menyimpannya rapat-rapat."
Mendengar hal itu membuat dokter Bryan tersenyum.
"Kamu ini terlalu baik," ujarnya membuat Syifa tertawa kecil.
Kini beberapa menit berlalu, Syifa berdiri di sebuah jendela besar dengan pakaiannya yang telah menggunakan pakaian rumah sakit berwarna biru yang menandakan jika tidak lama lagi ia akan menghadapi proses kemoterapi.
Syifa sangat berharap setelah ini ia akan bisa berkumpul lagi bersama dengan keluarga tersayangnya.
Syifa masih ingin berbaur dengan kebahagiaan dan tidak ingin menyimpan sebuah kesedihan.
"Syifa!"
Suara panggilan itu terdengar membuat Syifa menoleh menatap sosok dokter Bryan yang kini telah berdiri bersama dengan berangkar serta beberapa perawat yang telah mendorongnya untuk masuk ke dalam ruangan rawat.
"Ayo kemoterapinya akan segera dimulai!"
Syifa menganggukkan kepalanya pelan lalu melangkahkan kakinya mendekati brangkar namun, belum sempat belum sempat ia naik suara langkah lari terdengar membuat Syifa menetap ke arah Lena yang berlari tergesa-gesa menghampirinya.
"Syifa! Lu beneran mau kemoterapi?" tanya Lena dengan bibir yang bergetar.
"Iya, emang kenapa?"
"Lu hati-hati, ya? Jaga diri baik-baik!" ujarnya sembari memegang jemari tangan Syifa dengan lembut membuat Syifa tertawa.
Sahabatnya ini begitu lucu saat terlihat cemas seperti ini.
"Syifa ini cuman mau kemoterapi bukan mau pergi jalan-jalan atau mau pergi naik motor. Mana mungkin kamu kemoterapi harus hati-hati."
"Lu bisa enggak, sih enggak bercanda? Ini, tuh serius Lu harus ingat gue, ya! Ingat Tuhan! Banyak-banyak doa kalau nanti di kemoterapi."
"Iya, iya bawel," ujarnya membuat Lena yang memasang wajah cemberut itu langsung memeluk tubuh Syifa.
Merasakan kehangatan tubuh Lena membuat Syifa merasa tersentuh. Kini untuk pertama kalinya ia merasa jika sahabatnya,.Lena begitu sangat peduli dengannya.
"Pokoknya lo harus sembuh," ujarnya setelah ia melepas pelukannya.
"Dokter!"
Dokter Bryan mengangkat kedua alisnya saat Lena yang menatapnya.
"Pokoknya sahabat Lena harus sembuh, oke!"
Mendengar hal itu membuat kedua mata Syifa membulat. Ia langsung menyikut perut sahabatnya itu membuat Lena tersentak kaget.
"Apa-apaan, sih? Masa ngomong gitu sama dokter," bisiknya kesal.
"Ya iyalah. Lu tuh harus sembuh. Dokter! Pokoknya sahabat Lena itu harus sembuh, oke!
"Oke," jawab dokter Bryan sambil tersenyum.
Syifa melangkah naik ke atas berangkar membuat Lena berlari kecil menghampiri Syifa dan menyentuh jemari tangannya.
"Syifa gue bakalan doain lo. Gue harap lu cepet sembuh, ya!"
"Iya," jawabnya singkat hingga akhirnya para perawat-perawat itu mendorong berangkar membuat pegangan tangan Syifa dan Lena kini membentang.
Lalu akhirnya jemari tangannya yang saling bertaut itu berpisah secara perlahan hingga Syifa telah dibawa keluar menggunakan berangkar meninggalkan sosok Lena yang hanya terdiam di dalam ruangan rawat Syifa.
"Gue harap lu bisa cepet sembuh. Gue bakalan doain lo dan meminta sama Tuhan buat ngasih lu kesembuhan."
"Gue akan ada di samping lo terus."
...🕯️🕯️🕯️...