
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa melangkah turun dari kendaraan motor matic-nya. Memarkirkan motor kendaraan dua rodanya itu di depan rumah.
Dari sini ia bisa melihat mobil hitam milik pak Jaya lagi. Pria itu datang lagi ke rumahnya dan tentu saja pak Jaya tengah bersama dengan Mamanya itu lagi seperti yang sering terjadi.
Setelah meletakkan helmnya itu di atas jok motor Syifa melangkah masuk ke dalam rumahnya dan benar saja saat ia berada di pintu masuk dari sini dia bisa melihat pak Jaya dan Rahmi yang dengan cepat bangkit dari sofa setelah melihat kedatangan Syifa.
Pak Jaya meneguk salivanya. Ia terlihat tidak enak saat kedatangan Syifa apalagi saat Syifa menatapnya dengan pandangan yang begitu sangat serius.
Syifa menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan lalu tak berselang lama suatu hal yang tak pernah dibayangkan oleh pak Jaya dan juga oleh Rahmi ketika melihat Syifa tersenyum.
Senyum mengembang di bibir putrinya itu. Syifa tersenyum ke arah Rahmi dan pak Jaya yang terlihat kebingungan.
Kedunya tidak mengerti mengapa putri dari perempuan yang ia cintai itu tersenyum ke arahnya. Biasanya ia akan memberikan lirikan tajam sinis serta wajah datar lalu melangkah pergi namun, sekarang lihat! Syifa bahkan melangkah mendekatinya.
Sesampainya Syifa di hadapan pak Jaya, Syifa langsung menjulurkan jemari tangannya membuat pak Jaya begitu sangat terkejut. Ia langsung menoleh menatap Rahmi yang juga spontan menoleh menatap sang kekasih. Keduanya berpandangan saling tidak percaya.
"Apa pak Jaya tidak ingin bersalaman dengan Syifa?" tanya Syifa yang masih tersenyum membuat pak Jaya yang masih kebingungan itu dengan cepat menjabat tangan Syifa dan hal yang tak terduga lagi terjadi, Syifa menarik jemari tangan pak Jaya dan mengecupnya di sana.
Kedua mata pak Jaya membulat. Ia tidak pernah menyangka jika Syufy akan melakukannya. Ia bertingkah seakan ia adalah sosok Ayahnya padahal dulu ia seakan menolak mentah-mentah bahwa ia akan menjadi pengganti Ayahnya kelak setelah ia menikah dengan Rahmi.
"Bagaimana kabar pak Jaya? Apakah pak Jaya hari ini baik?" tanya Syifa.
"Ba-baik," jawab pak Jaya dengan gugup.
Ia masih tak percaya. Ada rasa kebingungan dan tidak menyangka yang berkecamuk dalam hatinya. Kedua jabatan tangan itu terlepas disusul dengan senyum manis yang masih diberikan oleh Syifa.
"Sepertinya pak Jaya tidak perlu datang ke rumah sering-sering."
Seketika wajah pak Jaya memurung. Rupanya Syifa masih belum bisa menerimanya.
"Kalau pak Jaya selalu datang ke rumah terlalu sering, Syifa tidak mau tetangga jadi salah paham."
"Tapi kalau pak Jaya benar-benar ingin selalu datang ke rumah hanya untuk bertemu dengan Mama maka pak Jaya haruslah menikahi Mama."
Sontak kedua mata pak Jaya membulat. Ia dengan cepat menoleh dan saling berpenangan mata dengan Rahmi yang juga tidak menyangka putrinya akan mengatakan hal itu kepada pak Jaya.
"Kamu serius?" tanya pak Jaya terbata-bata.
Syifa tersenyum kecil lalu tertunduk sejenak hingga akhirnya kembali menatap pak Jaya.
"Syifa tidak pernah bercanda. Apakah wajah Syifa terlihat bercanda?"
"Syifa tidak sabar melihat pak Jaya menikah dengan Mama dan pak Jaya akan menjadi Ayah sambung Syifa."
"Kalau begitu Syifa pergi dulu," ujarnya di akhir kalimat lalu melangkah pergi meninggalkan pak Jaya dan Rahmi yang kini masih saling berpandangan.
Keduanya dengan serentak menoleh menatap Syifa yang melangkah menaikkan anakan tangga sembari tersenyum.
"Apakah sesuatu ada yang terjadi kepada putrimu itu?" tanya pak Jaya setelah keduanya kini duduk di sofa.
"Entahlah, aku juga tidak tau."
"Sepertinya Syifa berubah hari ini."
"Yah, aku juga melihatnya."
Rahmi mengangguk sejenak dan kembali memikirkan kejadian tadi pagi dan setelah apa yang telah terjadi pagi tadi. Hari ini mengapa putrinya itu bisa berubah.
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa menutup pintu dengan pelan. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Menyandarkan tubuhnya itu di pintu dengan tangannya yang masih menyentuh ganggang pintu.
Pintu ditutupnya rapat dengan perlahan tubuhnya itu merosot ke lantai meletakkan tasnya itu di samping lalu memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya itu diantara kedua kakinya.
Apakah keputusan ini sudah yang terbaik? Syifa tidak tahu apakah ini baik atau tidak tapi setelah ia pikir-pikir saat perjalanan pulang ia juga tidak boleh egois dan melarang Mamanya untuk mendekati pak Jaya atau bahkan sebaliknya.
Dan juga ia tidak mungkin memaksakan pak Jaya untuk menjauhi Mamanya. Semua orang butuh kebahagiaan begitu pula juga dengan Mamanya.
Bagaimana mungkin Ayahnya yang telah membuat sebuah keluarga baru sementara Mamanya harus selalu bersedih karena melihat kebahagiaan bersama istri barunya itu apalagi sekarang Ayahnya telah punya anak.
Apakah mungkin Syifa membiarkan Rahmi terbelenggu dalam kehidupan dan keegoisannya. Ia tidak boleh mementingkan diri sendiri. Rahmi juga berhak untuk membuka lembaran baru bersama dengan pak Jaya dan kini Syifa sadar.
Setelah mengusap air mata di pipinya melihat itu Syifa segera mengganti seragam sekolahnya dan beranjak menuju kursi pada meja belajarnya.
Meraih salah satu buku diary lalu menulis di sana. Entah mengapa sepertinya mbok Jati tidak bisa dilibatkan dalam ungkapan hati ini membuatnya harus menulis isi hatinya di atas lembaran buku yang akan ia jaga kerahasiaannya dan tak akan ada orang yang mengetahuinya.
...🕯️🕯️🕯️...
Setelah kepergian pak Jaya kini akhirnya Rahmi memutuskan untuk naik ke lantai dua. Ia mengetuk pintu kamar Syifa hingga pintu yang ia ketuk itu terbuka dengan pelan. Pintunya tidak dikunci dan pemiliknya nampak sedang menulis sesuatu di pada sebuah buku yang Syifa tidak tahu buku apa itu.
Syifa dengan cepat menutup buku itu. Menyelipkannya pada deretan buku yang ada di rak bukunya.
Rahmi mendekat duduk di pinggiran kasur sembari ia merasa canggung bersama dengan putrinya itu.
"Ada apa Syifa?"
"Ada apa?" tanya Syifa yang berbalik memutar kursi agar bisa duduk di hadapan sang Mama.
"Seharusnya Mama yang bertanya dan kamu yang menjawab. Hari ini sepertinya kamu berubah."
"Syifa tidak berubah, hanya saja Syifa ingin melakukan sesuatu yang lebih baik seperti menyalimi Mama dan mbok Jati saat berangkat ke sekolah."
"Mama tau, kan selama ini Syifa tidak pernah menyalimi Mama dan mbok Jati pergi ke sekolah," lanjutnya.
"Selain itu."
"Yang mana?"
"Saat kamu bertemu dengan pak Jaya. Apa di saat itu Kamu serius?"
Syifa mengangguk mantap.
"Syifa tidak pernah bercanda."
Syifa menghela nafas. Ia terdiam sejenak hingga senyumnya hilang perlahan lalu tak lama dia kembali menarik sudut bibirnya, membentuk lengkungan senyum di sana.
"Memangnya Mama tidak ingin menikah dengan pak Jaya?"
"Kamu ini ada-ada saja."
"Syifa senang lihat Mama selalu tersenyum melihat pak Jaya."
"Apa hanya itu alasannya? Bukannya kamu sendiri yang berteriak dan menangis melarang Mama tidak menikah dengan pak Jaya."
Syifa kini terdiam. Bayangan suara tawa Ayahnya seakan terngiang di telinganya. Wajah dan tawa penuh kebahagiaan Sang ayah saat melihat putranya belajar berjalan itu tergambar di pikirannya.
Mereka begitu sangat bahagia.
"Syifa!" panggil Rahim membangunkan Syifa tersasar dari lamunannya.
"Ada apa?"
"Syifa tidak apa-apa. Syifa hanya ingin Mama mendapatkan kebahagiaan sama seperti Ayah," jawabnya lalu membalikkan kursi dan duduk membelakangi sang Mama.
...🕯️🕯️🕯️...