Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-76



...🕯️🕯️🕯️...


Dua Minggu Kemudian...


syifa menatap wajahnya di pantulan cermin yang berukuran besar yang ada di hadapannya kini ia berada di dalam toilet rumah sakit tepatnya di dalam ruangan perawatan khusus untuk dirinya.


Syifa menantu wajahnya lekat-lekat. Kini tubuhnya semakin mengurus bahkan pipinya tidak se- chubby dulu lagi.


Dengan tubuh yang bergetar Syifa memberanikan diri untuk menyisir rambutnya hingga rambutnya yang sejak dulu selalu ia rawat itu kini menjadi rontok. Segenggam rambut berhasil berada di dalam genggamannya jemari tangan.


Syifa bergetar menatap genggaman rambutnya yang selama ini selalu ia jaga dengan baik hingga rontok begitu saja. Rasanya jantung Syifa berhenti berdetak dengan rasa perih yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Semakin ia menyisir rambutnya itu semakin banyak pula rambut yang berjatuhan di lantai menyisakan kulit kepala Syifa yang terlihat licin. Tak ada lagi rambut yang tumbuh di sana.


Semakin Syifa menyisirnya maka semakin menipis pula rambut yang berada di kepalanya Syifa. Ia menghentikan gerakan tangannya, menatap serius pada rongga-rongga sisi yang dipenuhi dengan rambut.


Ini terlalu menyakitkan. Jemari tangannya bahkan gemetar saat menatap serius pada telapak tangannya yang penuh dengan rambut.


Rasa sakit yang ia rasakan begitu sangat menyiksanya membuat tubuhnya bergetar sangat hebat.


Tubuh Syifa bergetar kedua kakinya begitu sangat lemas dan tak mampu untuk bisa menopang tubuhnya yang kini tak seberat dulu lagi.


Air mata Syifa jatuh membasahi pipinya bersamaan dengan ambruknya tubuh kurusnya itu di permukaan lantai.


Di mana di lantai itu kini dipenuhi dengan serakan rambut yang mengotori lantai serta menyakiti hati Syifa.


Seharusnya ia bisa menerima kenyataan jika setiap pasien kemoterapi akan menghadapi ini semua tapi mengapa? Mengapa seakan hatinya seakan menolak untuk merasakan ini semua.


Bagaimana jika orang-orang mengetahui jika sekarang ia tidak memiliki rambut lagi? Kulitnya juga kering, bibirnya pecah-pecah, tekstur kulitnya yang tak lagi seperti dulu. Tubuhnya mengurus dengan wajahnya yang terlihat pucat, ini bukan Syifa.


Ini Bukan Syifa yang selalu dikenal sebagai gadis yang ceria. Sekarang Syifa benar-benar melihat sisi yang berbeda dari dirinya sendiri. Sekuat apapun ia berusaha untuk tersenyum dan membahagiakan semua orang tapi tetap saja ia tidak akan pernah bisa membuat ia merasa bahagia dengan apa yang ia lakukan sendiri.


Haruskah ia sadar jika sebelumnya tak ada yang peduli dengannya bahkan di saat hari ulang tahunnya tak ada yang mengucapkan sebuah sepatah kata hanya untuk menyenangkan hatinya.


Syifa harus kuat. Syifa harus bisa menghadapi semuanya tanpa ada sebuah pendukung yang berusaha mendukungnya dari keluarga.


Syifa mengusap pipinya itu lalu menyandarkan tubuhnya di dinding toilet. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Jantungnya begitu sangat nyeri di dalam sana. Apakah ini yang dinamakan sebuah kepedihan hati?


Kini gambaran sosok wajah Glen, Rahmi, Lena dan pak jaya terbayang di pikirannya. Entah apa nantinya yang akan mereka katakan saat melihat dia sudah seperti ini?


Apakah mereka tetap akan bisa mengenali dirinya dalam kondisi yang sudah seperti ini? Apakah mereka tetap bisa mengenali wanita kurus ini jika dia adalah Syifa.


Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak menyukainya seperti Kinara? Tertawa, yah mungkin ia akan menertawainya dan mengatakan jika ia benar-benar sudah tidak serasi lagi dengan Glen.


Dulu saja ia tak suka apalagi jika kondisinya seperti ini. Lalu apakah setelah ini Glen akan meninggalkannya? Apakah dia akan tetap atau malah melupakan kisah cinta yang telah mereka rangkum dan menyusunnya dengan seindah mungkin.


Apakah semuanya akan hilang begitu saja? Apakah Glen akan meninggalkannya setelah mengetahui jika Syifa telah mengalami kanker otak dan sekarang ia tidak seperti dulu lagi?


Ya, sekarang ia bahkan tidak punya rambut, tubuhnya kurus dan seperti ini bahkan Syifa malu pada dirinya sendiri.


Ia mengusap rambutnya itu hingga beberapa helai mendarat terbawa oleh jemari tangannya. Kedua matanya bergetar menatap segenggam rambut yang berada di tangannya lagi. Tubuh Syifa bergetar hingga akhirnya ia tertunduk.


Buk!


Ia memukul permukaan lantai toilet dan akhirnya menyuarakan bagaimana kesedihannya dengan berteriak serta tangisan yang begitu tersedu-sedu.


Ia memukul permukaan lantai dengan keras. Sakit, iya rasanya sakit. Punggung tangannya bahkan terlihat memerah.


Apakah Syifa peduli? Sekarang tidak ada yang peduli bahkan Syifa sendiri juga tidak peduli dengan dirinya sendiri.


Bagaimana rasa sakit itu pada pukulan yang dihantamkan ke permukaan lantai tak sesakit hatinya yang jauh lebih sakit.


Apakah semuanya akan jadi seperti ini! Bayangan suara tawa dari Kirana seakan menggema di telinganya.


Hancur harapannya, tak ada lagi sebuah kebahagiaan yang terpampang di depan mata.


Syifa tak sanggup mengatakan hal-hal yang lain. Hatinya sudah hancur, tak ada gunanya lagi ia hidup sekarang.


"Tuhan, kenapa Syifa harus seperti ini?"


"Ke-kenapa Syifa harus sakit?"


"Syifa nggak mau sakit. Syifa hanya mau sembuh," ujarnya sambil sesenggukan.


...🕯️🕯️🕯️...


Wajah dengan ekspresi datar itu menatap ke arah taman di bawah sana, di mana beberapa pasien terlihat sedang berjalan-jalan di bawah sana.


Jika beberapa pasien sedan sibuk untuk menikmati udara segar yang ada di taman rumah sakit berbeda dengan Syifa yang hanya bisa duduk di lantai sembari menyandarkan kepalanya di permukaan jendela dan menatap nanar pada permukaan taman yang seakan tak ada pengaruhnya bagi senyum Syifa.


Kini tak ada hal-hal istimewa yang terlihat di sana. Sekarang, ya sekarang itu yang terjadi. Ia bahkan tak peduli pada bunga-bunga bermekaran. Pepohonan yang menghasilkan suara kicauan burung.


Syifa tidak peduli rasanya ia telah putus asa harapan seakan jauh darinya. Kebahagiaan apa yang ia sedang menghentikan bahkan sebuah kematian tergambar di depan mata.


Apa gunanya sekarang? Hidupnya bahkan hanya ditemani oleh selain infus yang selalu terpasang di tangannya. Baju yang selalu ia gunakan dengan ukuran yang pas kini terasa longgar di badannya.


Ia benar-benar merasa jika ia hanya tinggal tulang saja. Berat badannya benar-benar turun drastis bahkan menangis pun sudah tidak ada gunanya lagi dan hanya menambah luka di hatinya saja.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar Syifa melirik pelan. Syifa tau, itu tentu saja Lena. Selama ia di rumah sakit hanya ia yang mengetahui jika ia sakit dan tak ada yang pernah datang.


Tak ada yang lain dan sampai mengetahui jika selama ini ia ada di rumah sakit.


Suara langkah terdengar. Lena mendekati sosok Syifa yang terlihat masih merenung di sana. Duduk di samping Syifa yang ikut terdiam dengan suasana yang terasa canggung.


Lena menatap ke arah Syifa yang langsung berpaling seakan tak senang jika ditatap oleh Lena.


"Lu kenapa, Syif?"


Syifa terdiam asik dengan pikirannya hingga akhirnya ia bicara, "Mungkin sebaiknya lo nggak usah datang lagi ke sini, deh."


Deg!


Kedua mata Lena membulat. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Syifa kepadanya.


"Maksud lo? Lo nggak mau gue jenguk lagi, hah? Iya maksud lu kayak gitu?" ujarnya yang begitu tidak percaya.


...🕯️🕯️🕯️...