
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa melangkah masuk ke dalam ruangan kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dengan rapat dan memilih menyandarkan tubuhnya ke permukaan pintu.
Kedua pandangan Syifa kini terlihat kosong rasanya ia begitu sangat lelah menghadapi hari ini. Syifa meletakkan tasnya begitu saja di permukaan lantai lalu melangkah dan menghempaskan tubuhnya ke permukaan kasur yang empuk.
Rasanya saat ia membaringkan tubuhnya di atas kasur ini rasa kelelahannya juga seakan berhambur dan di atas tempat tidurnya yang selalu menjadi tempat ternyaman baginya.
Syifa lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar di sini, tak ada Yang bisa mengganggunya. Hanya dia seorang diri walau sejujurnya Syifa sangat senang jika sebuah kebersamaan dalam keluarga terjalin namun, apa yang terjadi? Keadaan Syifa tidak seperti apa yang ia inginkan.
Perpisahan kedua orang tuanya membuatnya begitu benar-benar terasa kesepian. Ayahnya sibuk dengan keluarga barunya sementara Mamanya sibuk dengan pekerjaannya dan kali ini untuk pertama kalinya Mamanya itu membawa seorang pria ke rumah.
Syifa tak ingin banyak pikir tentang siapa dan apa tujuan pria itu datang ke rumah ini tapi jujur saja Syifa tak suka dengan pria itu.
Suara langkah terdengar diiringi suara pintu yang dibuka membuat Syifa menoleh menatap sosok Mamanya yang berdiri di permukaan bibir pintu sambil memegang gagang pintu membuat Syifa tersenyum.
Syifa dengan cepat bangkit bangkit dan duduk di atas kasurnya. Apa mungkin Mamanya datang ke kamarnya untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun.
Ya, mungkin saja karena Mamanya itu belum memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya hari ini.
"Mama, Mama ngapain masuk ke kamar Syifa?" tanya Syifa yang begitu penasaran, tak sabar rasanya ingin mendengar Mamanya itu mengatakan kalimat ucapan selamat ulang tahun untuknya.
Raut wajah Mamanya kini berbeda dari biasanya, tak ada senyuman dari bibir wanita itu.
"Kamu tuh ada-ada aja, sih Syifa."
"Maksudnya? Syifa enggak ngerti."
"Enggak ngerti, enggak ngerti. Kamu tuh kenapa, sih kayak gitu sikapnya tadi sama teman Mama."
"Temen Mama yang mana?"
"Yang tadi yang di bawah."
"Siapa?" tanya Syifa yang sebenarnya telah mengetahui siapa yang dimaksud oleh Mamanya itu.
Seketika raut wajah Syifa kini telah benar-benar tak seperti saat ia pertama kali melihat Mamanya. Ada raut kekesalan saat ia bisa mendengar jika Mamanya itu membahas pria yang sempat ingin mengajaknya bersalaman.
"Pak Jaya, teman Mama. Kenapa kamu nggak bersikap baik sama dia?"
"Emang kenapa, sih kalau Syifa nggak bersikap baik sama pak Jaya. Emangnya dia siapa? Dia, kan cuma teman lagi pula Mama nggak boleh dong paksa Syifa harus berbuat baik dengan siapa."
"Lagian apa pentingnya, sih harus bersikap baik sama dia. Dia juga nggak penting."
"Kok, ngomong seperti ini?"
Syifa tak bicara sedikitpun rasanya ia lelah dan memilih untuk memaringkan tubuhnya di permukaan tempat tidur.
"Syifa," ujar Rahmi dengan lembut.
Mamanya melangkah mendekat dan terdengar pula suara kasur yang diduduki membuat Syifa bisa merasakan jika Mamanya itu ikut duduk di permukaan kasur lalu menyentuh lembut bagian punggungnya Syifa.
"Mama mau ngomong sesuatu yang serius sama Syifa."
"Apa?" jawab Syifa tanpa sebuah rasa semangat.
"Tapi ini serius Syifa. Ini bukan main-main."
"Emang apa, sih Ma? Ngomong aja!"
"Sebenarnya pak Jaya itu, dia itu bukan hanya sekedar teman."
Cukup lama Rahmi terdiam seakan tak berani mengatakan ini kepada putrinya. Ia begitu sangat gugup.
"Sebenarnya pak jaya itu adalah pacar Mama.'
Bagaikan disambar petir, bumi seakan hancur di detik itu juga. Kedua mata Syifa membulat sempurna. Ia langsung bangkit dari kasur dan duduk menghadap Mamanya yang terlihat begitu sangat serius.
"Apa? Mama bilang apa?"
Rahmi menarik nafas dalam-dalam dan menahannya di kerongkongan. Ia menyentuh permukaan punggung tangan Syifa dengan lembut dan tersenyum namun, tak ada sedikitpun raut wajah bahagia dari Syifa.
Wajahnya terlihat begitu syok setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Mamanya itu.
"Syifa ini serius, pak Jaya dan Mama itu saling mencintai jadi kami berniat untuk menikah."
"Menikah?" Tatap Syifa tidak menyangka membuat Rahmi hanya bisa mengangguk.
Ia menyentuh pipi Syifa dengan lembut lalu kembali berujar, "Mama harap Syifa mau, ya terima pak Jaya sebagai Ayah baru buat Syifa."
Plak!
Dengan keras Syifa menghempas tangan Mamanya seakan tak ingin jika Mamanya itu menyentuh pipinya.
"Nggak! Syifa nggak mau," tolaknya mentah-mentah.
"Tapi kenapa? Kenapa Syifa nggak mau? Syifa kan harusnya senang karena Syifa akhirnya punya Ayah baru."
"Iya senang dari mananya, sih Ma? Punya Ayah baru? Syifa nggak butuh Ayah baru dan Ayah Syifa itu cuman satu. Ayah Syifa itu cuman ayah Wandi, nggak ada yang lainnya."
"Syifa nggak mau kalau Mama nikah lagi apalagi sama pak Jaya. Pokoknya Syifa nggak setuju, bener-bener nggak setuju." bantah dan tolak Syifa.
"Tapi kenapa? Kenapa kamu nggak mau? Lagi pula pak jaya itu udah baik. Dia nggak apa-apa dan nggak masalah kalau kamu tinggal sama kami."
"Harusnya kamu beruntung dan berterima kasih karena masih ada yang mau menerima Mama."
"Kamu harus tau kalau nggak ada laki-laki satu pun yang mau menerima calon istrinya itu punya anak yang udah gede kayak kamu."
"Oh jadi Mama nyalahin Syifa kalau semisalnya Mama beneran nggak bisa nikah sama pak Jaya dan itu semua karena Syifa?"
"Syifa! Harusnya kamu bisa ngerti keadaan Mama. Mama juga butuh pendamping."
"Kamu nggak tau gimana rasanya hidup sendiri, tidur sendiri dan apa-apanya sendiri sedangkan Ayah kamu, tuh enak. Dia udah punya istri dan bahkan punya anak."
"Ayah kamu itu udah menempuh hidup baru sementara Mama kamu ini baru aja mau mulai hidup baru tapi kamu udah ngelarang Mama."
"Gimana caranya coba Mama bisa bahagia?"
Mendengar ocehan Mamanya itu membuat Syifa tersenyum kecil lalu berujar, "Oh jadi selama ini Mama nggak bahagia sama Syifa?"
"Syifa, bukan kayak gitu maksud Mama-"
"Terus apa?" potong Syifa.
"Mama itu kesepian. Kamu bisa ngomong kayak gini karena kamu nggak ngerti. Ngerti nggak, sih Mama itu kesepian."
"Syifa juga kesepian, Ma. Sama yang kita rasain. Kesepian!"
...🕯️🕯️🕯️...