Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-74



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa melangkahkan kakinya ke melewati beberapa ruangan rawat dengan selang infus yang ia angkat sendiri.


Kali ini ia memutuskan untuk datang mengunjungi sahabatnya, Nayla yang setelah tugasnya itu digantikan oleh sosok Lena yang setiap harinya selalu pergi untuk memberikan bunga mawar atau mengucapkan beberapa kata semangat untuk Nayla yang dipesankan oleh Syifa.


Walaupun sebenarnya ia juga dalam kondisi sakit tapi juga ingin melihat sahabat barunya itu menjadi tersenyum dengan kata semangat yang ingin berikan walaupun hanya Lena yang memberikan semangat untuknya dalam menghadapi rasa sakit yang ia derita.


Entah bagaimana keadaan dan kondisi sahabat barunya itu. Ia juga tidak mendapat kabar dari Lena bagaimana kondisi dari Nayla.


Langkah Syifa terhenti saat ia berniat untuk membuka pintu. Tak ada suara yang terdengar di dalam sana membuat Syifa menjadi kebingungan. Tak biasanya suasana ruangan Nayla menjadi sunyi seperti ini.


Syifa mendorong pintu hingga suasana yang begitu sangat sunyi menjadi hal pertama yang ia lihat. Keningnya mengeryit serta kedua matanya yang merambah ke segala arah berusaha melihat suasana kamar yang tak seperti biasanya.


Tak ada Nayla yang menyambutnya dengan senyuman tak ada Nenek dari Nayla yang menyambutnya dan langsung membawanya masuk dalam ruangan rawat.


Kini suasana menjadi sunyi, tak ada satupun orang di dalam sini. Ruangan kosong dengan brangkar yang sudah tidak menggunakan sprei lagi.


Sekarang barang-barangnya juga sudah tidak ada. Tidak ada keranjang buah yang selalu Syifa dan Lena temui di sana. Tak ada bunga-bunga mawar yang Nayla letakkan di dalam vas bunga pemberiannya.


Suasana ruangan yang benar-benar sangat sunyi. Sekarang seakan bukan tempat yang selalu ia datangi.


Dengan wajah kebingungan dan perasaan yang sedikit kacau memutuskan untuk melangkahkan kakinya keluar dari ruangan menatap lekat-lekat pada nomor ruangan yang selalu ia masuki biasannya.


Nomor kamar sesuai dengan tempat di mana ia selalu masuk dulu tapi sekarang mengapa ruangannya menjadi sangat sunyi.


Sekarang di mana Nayla? Hal itu menjadi pertanyaan besar bagi Syifa.


Hingga akhirnya ia memutuskan langkahkan kakinya menuju dokter Bryan ke ruangannya. Yah, hanya dokter Bryan yang akan mengetahuinya karena dokter Bryan yang juga mengurus dan mengetahui bagaimana perkembangan kesehatan dari Nayla.


Ia harus menemuinya sekarang.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu terdengar dari luar membuat dokter Bryan yang sejak tadi menatap ke arah layar laptop yang ada di depannya langsung melirik menatap ke arah ruangan.


Dari sini ia bisa melihat sosok Syifa yang nampak berdiri di depan ruangannya.


Ya, dokter Bryan mampu melihat, tetapi Syifa tidak karena pintu yang ia gunakan menggunakan kaca yang tidak tembus pandang. Hanya orang yang berada dalam ruangan yang bisa melihatnya sementara orang yang berada di luar tidak bisa melihat seseorang yang berada dalam ruangan itu.


"Dokter ini Syifa. Apa Syifa bisa masuk?"


Suara pertanyaan itu terlontar dari luar membuat dokter Bryan tersenyum kecil lalu kemudian menyahut, "Ya masuk saja. Saya tidak menutup pintunya dan tidak menguncinya dengan rapat," sahutnya dari dalam.


Pintu terbuka memperlihatkan sosok Syifa yang melangkah masuk dengan cairan infus yang ia pegang di salah satu tangannya.


Melihat hal itu dengan cepat dokter Bryan bangkit dari kursi dan berlari kecil meraih penyangga botol cairan dan meletakkannya di pengait besi yang berada di ujung penyangga tiang infus.


"Kenapa kamu jalan seperti ini? Kamu itu harus istirahat bukan jalan ke ruangan saya."


"Syifa bosan dokter," jawab Syifa saat ia telah berhasil duduk di kursi khusus untuk pasien yang ada di dalam ruangan dokter Bryan.


"Dokter! Syifa mau bicara sesuatu sama dokter Bryan."


"Bicara sesuatu apa?" tanyanya yang sedikit penasaran.


Ia duduk kembali di kursinya. Menutup laptop yang sejak tadi aa tatap kemudian menatap serius ke arah Syifa. Dengan sikapnya yang terbuka seakan ia berusaha memberitahu kepada Syifa jika ia siap mendengar apa yang diucapkan oleh Syifa.


"Apa?"


"Syifa mau tanya tentang sahabat Syifa."


"Sahabat siapa? Lena?" tebaknya membuat Syifa menggelengkan kepalanya menolak tebakan dari dokter.


"Bukan."


"Lalu siapa?"


"Sahabat Syifa itu sekarang di mana?" lanjutnya.


Mendengar pertanyaan dari Syifa membuat dokter Bryan terdiam. Bibirnya seakan keluh tak mampu untuk mengatakan semuanya.


Syifa hanya terdiam menatap dokter dengan lekat-lekat.


"Dokter! Ada apa? Kenapa tidak dijawab? Syifa hanya mau tau keadaan sahabat Syifa sekarang. Dia juga sama seperti Syifa."


Lagi dan lagi dokter Bryan tak menjawab sedikitpun. Ia hanya diam dengan kedua matanya yang tiba-tiba menjadi sayup. Ada segelincir kesedihan pada raut wajahnya yang ia tunjukkan kepada Syifa.


"Ada apa dokter?" ujarnya dengan lembut seakan berusaha untuk merayu sang dokter agar memberitahukan hal tersebut.


"Sahabat kamu itu, pasien atas nama Nayla sudah meninggal tiga hari yang lalu."


"Tiga hari yang lalu?" tanya Syifa yang tidak menyangka.


Jantungnya seakan berhenti berdetak di detik itu juga saat dokter memberitahukannya.


"Meninggal? Tidak mungkin dokter. Kenapa sahabat Syifa bisa meninggal?"


Mendengar pertanyaan itu membuat dokter Bryan menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan namun, diakhiri dengan nafas yang terdengar gusar.


"Kamu tau, seorang dokter selalu menginginkan kesehatan untuk pasien yang ia tangani tapi sepertinya sekarang apapun usaha yang dokter lakukan untuk memberikan kesehatan tapi kalau Tuhan tidak berkehendak yah tidak mungkin juga akan bisa terlaksana kan."


"Semuanya telah diatur dan di rancang oleh Tuhan yang lebih maha mengetahui. Kamu tau, Tuhan telah mengambilnya-"


"Tapi kenapa secepat itu?" potongnya.


"Kamu harus mengerti! Penyakit yang dia derita itu bukanlah penyakit yang mudah untuk ditangani-"


"Dan Syifa juga?" potongnya membuat dokter Bryan terdiam.


"Apakah kepergian Nayla juga akan menjadi gambaran di masa depan Syifa, dokter?"


Dokter Bryan terdiam dan hal itu membuat kedua mata Syifa terasa bergetar. Rasanya ia ingin menangis tapi malu melakukannya di hadapan sang dokter yang masih menatapnya. Karena tak tahan ia kini menunduk berusaha menjauh dari pandangan sang dokter.


"Saya tidak bisa mengatakan apa-apa kepada kamu tapi saya sangat berharap kamu bisa sembuh. Banyak pasien yang juga bisa sembuh dari penyakitnya dan saya juga mau kamu menjadi salah satu dari pasien itu.


"Tapi kenapa Nayla harus pergi dokter?"


"Ya saya tau kamu sedih dan tentu saja semua pertanyaan itu akan terlontar dari mulut kamu. Penyakit yang diderita oleh Nayla itu sudah menjalar bahkan penyakitnya sudah parah."


"Dia terlambat dalam pengobatan," sambungnya.


"Lalu bagaimana dengan Syifa?"


"Saya harap kamu menjadi salah satu pasien yang penyakitnya bisa sembuh. Saya mau kamu sembuh. Kamu harus tenang dan sabar," ujar dokter Bryan sembari menepuk pundak Syifa yang hanya bisa terdiam.


Tanpa sepatah kata sifat bangkit dari kursinya dan saat dia berbalik badan kedua matanya meneteskan air mata mengingat bagaimana ia menghabiskan waktunya bersama dengan Nayla, si sahabat barunya yang memiliki penyakit sama sepertinya.


Dasar bodoh, rasanya Syifa ingin memukul kepalanya itu. Mengapa ia sampai tidak mengetahui jika sahabatnya telah pergi.


Ini juga karena Lena. Lena bahkan tidak memberitahukan informasi ini bahwa sahabatnya itu telah pergi.


Anda saja ia tau kalau Nayla akan pergi meninggalkannya dari dunia ini maka setiap hari ia akan selalu datang ke ruangan dan menemuinya.


Tapi sekarang bagaimana? Di saat ia ingin bertemu dengan Nayla, malah kabar buruk yang menjadi suguhan dalam telinganya.


Hal yang menyakitkan. Semoga saja satu berita buruk ini akan menjadi berita buruk terakhir yang pernah ia dengar.


"Tuhan, Tuhan memberikan penyakit yang sama dengan yang Nayla rasakan lalu apa itu berarti Syifa juga akan sama seperti Nayla."


"Tuhan, tolong Syifa yang ingin sembuh."


...🕯️🕯️🕯️...