
...🕯️🕯️🕯️...
Lena menghembuskan nafas panjang. Hari ini sepertinya cukup melelahkan karena ia harus mempersiapkan acara ulang tahun serta kejutan untuk Glen dan acara makan malam yang baru saja telah ia dan kedua orang tuanya lewati malam ini.
Lena meletakkan tas selempangnya itu di atas lemari lalu ia melangkah membaringkan tubuhnya di atas kasur. Baru saja kedua matanya terpejam berniat untuk tidur kedua mata Lena terbuka dengan tiba-tiba. Ia teringat sesuatu hal, Syifa!
Apa mungkin gadis itu masih tetap menunggu Glen di restoran? Ia mendongak menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul dua malam.
Apa mungkin Syifa masih menunggu di sana? Ah, tidak mungkin. Syifa itu punya otak untuk berpikir. Mana mungkin dia akan menunggu sampai laut malam seperti ini tapi baru saja kedua matanya terpejam kedua matanya itu kembali terbuka lagi.
Lena baru sadar jika Syifa itu anaknya bucin sekali. Sahabatnya itu terlalu sayang dan cinta kepada Glen hingga bahkan juga bisa saja menyusahkan dirinya sendiri.
Dengan cepat Lena bangkit dari kasurnya, meraih tas lalu beranjak keluar dari kamarnya.
"Loh, loh. Mau kemana kamu?"
"Ma Lena pinjam mobil, ya!"
"Mau kemana malam-malam gini?"
"Ke Syifa."
"Harus malam-malam kayak gini?"
"Iya, Syifa itu mau ngerayain ulang tahunnya Glen tapi kayaknya Glen gak datang, deh," jelasnya lalu ia melangkah pergi meninggalkan Mamanya yang berteriak di belakang sana.
Lena melajukan mobilnya dengan kencang. Malam yang kini telah begitu larut menjadi kesempatan baginya untuk sedikit ugal-ugalan di jalan raya yang hanya dilewati satu atau dua tiga mobil saja.
"Aduh, Syifa semoga aja lo nggak nunggu Glen sampai selarut ini."
...🕯️🕯️🕯️...
Glen menutup mulutnya yang telah menguap lebar karena rasa kantuknya. Rasanya ia begitu bahagia karena bisa merayakan hari ulang tahunnya bersama dengan kedua orang tuanya serta bersama dengan Kinara, sepupunya. Ia mengusap kepalanya dengan handuk putih setelah mandi sehabis ia pulang dari restoran untuk makan malam bersama.
Dahi Glen mengernyit saat ia menatap pesan yang dikirim oleh Syifa untuknya. Sontak kedua mata Glen membulat. Ia baru ingat jika ia telah berjanji untuk datang di restoran sesuai dengan alamat yang telah diberikan oleh Syifa.
Glen berniat bangkit dari kasurnya namun, saat ia menatap jam yang ada pada ponselnya membuat niatnya menjadi menghilang. Sekarang telah pukul dua malam, ya tentu saja Syifa pasti telah pulang di rumah.
Glen memejamkan kedua matanya. Semoga saja Syifa tidak menantinya sampai seperti ini. Ya mungkin ia juga harus tidur karena tubuhnya terasa lemah. Besok adalah hari senin, ia harus sekolah dan ia hanya perlu memberikan kata maaf kepada Syifa karena tidak menepati janjinya.
...🕯️🕯️🕯️...
Kini senyumnya tak lagi ada di bibirnya. Wajahnya mendatar menahan kesedihan yang tak dapat lagi diutarakan dan digambarkan dengan sebuah kata-kata. Sejak tadi kedua matanya itu hanya fokus menatap ke arah pintu utama mengharapkan Glen datang dari sana.
Syifa menunduk menatap jam tangannya yang telah menunjukkan pukul satu malam. Perjanjiannya tidak seperti ini. Syifa menyuruh Glen untuk datang jam
sepuluh tapi sampai sekarang dia juga tidak datang untuk menemuinya.
"Ada apa ini?"
"Apa Glen lupa atau melanggar janji tapi kenapa?"
"Kenapa harus melanggar janji?"
Kedua mata Syifa menatap sedih pada kuenya ulang tahun yang nampak sedikit berkeringat sepertinya kuenya ini seharusnya dimasukkan ke dalam lemari pendingin agar cremnya tidak sedikit meleleh seperti ini.
Lilin-lilin yang ada di atas mejanya juga telah habis meleleh menyisahkan sedikit batang putih itu. Lilin-lilin yang ada di dekat karpet panjang berwarna merah juga telah mati satu persatu bahkan dari deretan barisan lilin yang panjang juga telah pupus seperti penantian Syifa sekarang.
"Kenapa Glen nggak datang? Kenapa?"
Syifa menarik nafasnya dalam-dalam merasakan setiap hembusan nafas serta tarikan nafas yang mengisi rongga kedua paru-parunya. Kedua matanya terpejam dengan erat berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya.
Rasanya sangat susah. Rasanya ada sebuah kekecewaan tapi berusaha dengan kuat ia tahan dengan harapan Glen akan datang.
Glen akan akan datang.
Suara langkah terdengar menginjakkan kakinya di permukaan lantai terdengar seperti berlari membuat kedua mata Syifa terbuka. Kedua matanya serius menatap ke arah permukaan pintu utama.
Senyumnya dibuat merekah melihat sosok bayangan hitam yang melangkah mendekat berjalan dengan cepat di dalam kegelapan hingga akhirnya senyum Syifa lenyap begitu saja setelah melihat siapa yang datang dan siapa yang berlari menghampirinya itu.
Bukan Glen yang datang tapi Lena padahal bukan Lena yang Syifa harapkan datang.