Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-42



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa terbaring di atas kasurnya. Setelah kedatangan mbok Jati yang mengobati luka-lukanya dengan mengusap luka lebam itu dengan air hangat. Mbok Jati juga memberikan obat merah pada lukanya yang berdarah itu.


Syifa beruntung bisa memiliki pembantu seperti mbok Jati yang begitu sangat peduli dengannya. Mbok Jati bahkan tidak peduli kalau Syifa hanyalah sebatas anak dari majikannya saja. Mbok Jati seakan menjelma menjadi teman cerita dan bisa membuat Syifa menjadi nyaman dengan mbok Jati, sebagai seorang ibu yang begitu sayang kepadanya.


Kedua mata Syifa terbuka menatap langit-langit kamarnya diiringi dengan suasana yang begitu sangat sunyi. Lelah ia berbaring miring kanan dan miring kiri ia kemudian bangkit lalu menopang kepalanya itu.


Kenapa penyakit ini harus ada pada kepala Syifa? Kenapa? Syifa tak pernah mengharapkan sebuah penyakit akan ada pada tubuhnya ini. Syifa tak pernah sedikitpun mengalami sakit seperti apa yang selama ini telah dilalui oleh Lena yang kadang demam, flu atau lain-lain sebagainya bahkan Syifa selalu mengatakan ke Lena kalau ia harus memakan banyak vitamin agar tidak sakit dan sehat sepertinya.


Tapi rupanya Syifa malah mengalami penyakit yang lebih serius. Sekarang harus bagaimana lagi? Ia harus mengadu ke siapa? Bercerita kepada mbok Jati juga tidak ada gunanya. Jika membahas tentang penyakit kanker ini tentu saja mbok Jati tidak akan tinggal diam. Dia tentunya akan memberitahu Rahmi mengenai penyakitnya kanker otak yang dialaminya.


Lalu tanpa pikir panjang ia meraih ponsel yang berada di dekat siring ranjangnya. Ia menekan layar ponselnya berapa kali hingga pencarian penelusuran mengenai pengertian dan penjelasan dari kanker otak itu terpampang.


Penjelas penyakit itu terlihat jelas di kedua mata Syifa yang seakan bergetar diiringi dengan hatinya yang jelas telah teriris setelah membaca penjelasan mengenai penyakitnya itu. Tak kuat rasanya, tidak kuat harus membaca dan memahami penjelasan dari penyakit itu.


Syifa melempar ponselnya itu ke atas kasur hingga sedikit terpental dan nyaris jatuh ke lantai. Ini terlalu mengerikan. Syifa bahkan tidak pernah menyangka jika penyakit yang dia derita terlalu seburuk itu.


Salah satu hal yang ia baca dan membuatnya menjadi mengingat hal-hal yang terjadi beberapa hari yang lalu mengenai tanda-tanda orang yang menderita kanker otak. Salah satunya tandanya adalah sakit kepala yang sering datang. Syifa baru ingat jika memang sudah lama Syifa selalu mengeluh sakit kepala bahkan saat ia sedang beraktivitas tak kenal waktu dan tak kenal tempat.


Syifa pikir itu hanya sakit biasa tapi rupanya penyebab dari sakit kepalanya itu adalah kanker yang mendiami kepalanya.


Ponsel yang tadi dilempar oleh Syifa kini berdering menghasilkan suara panggilan di sana membuat Syifa yang sejak tadi menopang kepalanya itu melirik ke arah ponselnya yang menyala.


Ia segera merangkak lalu meraih ponselnya itu membuat keningnya mengeryit tidak tau dengan nomor baru yang sedang menghubunginya.


"Siapa ini?" bisiknya.


Dengan perasaan bingung serta penasaran ia menggeser layar ponselnya dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


"Ha-halo," ujarnya hati-hati seakan takut dengan suara yang akan dia dengar di seberang sana.


"Halo, selamat sore. Dengan saudara Syifa?"


"Iya saya sendiri."


"Kami dari rumah sakit Medika Sehat ingin memberitahukan kepada saudari Syifa untuk segera datang ke rumah sakit membahas tentang penyakit saudari Syifa dan tindakan pengobatan lanjut..."


Ini dari pihak rumah sakit. Suara wanita di sana terdengar tapi bagaimana bisa dia mengetahui nomor ponselnya itu. Lelah ia berpikir hingga akhirnya kedua matanya itu membulat setelah menemukan sebuah jawaban.


Tentu saja setiap pasien yang masuk ke rumah sakit pasti dimintai nomor telepon. Syifa bernafas lega untung saja Lena memberikan nomor ponselnya bukan nomor dari Mamanya. Jika Lena memberikan nomor ponsel Mamanya itu kepada pihak rumah sakit maka tentu saja Mamanya akan mengetahui semuanya


"Mohon maaf saudari Syifa bisa dengar suara saya?"


Suara tanya wanita itu membuat Syifa tersentak kaget. Ia lupa jika teleponnya masih terhubung di sana.


"Iya, Syifa dengar, kok."


"Iya, mbak Syifa inti dari informasi ini adalah saudari Syifa disuruh untuk datang ke rumah sakit. Mengenai pembahasan tentang pengobatan sekalian juga dengan tanda tangan."


"Kalau saya nanti datang ke rumah sakit saya langsung ke mana, ya?"


"Mbak Syifa bisa langsung ke pelayanan. Nanti kami arahkan di sana."


"Oh gitu, ya."


"Iya baik, terima kasih."


Tut tut tut...


Panggilan terputus. Tangan Syifa bergerak turun dengan pelan hingga akhirnya mendarat di atas kasur. Baru saja ia ingin beristirahat walaupun ia begitu sangat sulit untuk melakukannya dan kini ia harus datang ke rumah sakit lagi.


Sejujurnya Syifa tidak suka rumah sakit yang dikelilingi dengan obat-obatan. Syifa sangat benci dengan aroma obat-obatan.


Tak berselang lama Syifa kembali mengangkat ponselnya setelah menekannya beberapa kali berusaha mencari nama Lena di sana. Ia tidak mungkin datang ke rumah sakit sendiri bukan.


"Halo!!!"


Suara dari seberang terdengar. Suara teriakan yang melengking membuat Syifa spontan menjauhkan telinganya dari ponselnya itu. Entah mengapa Lena suka sekali berteriak jika mereka saling menelpon.


"Lena lagi dimana?"


"Gue lagi di taman."


"Ngapain di taman?"


"Masak-masak."


"Kok, masak-masak di taman?"


"Yang nggak, lah. Gue lagi lari-lari sore, biar langsing dan sehat terus nggak sakit kayak lo. Lo juga nggak mau lari-lari sore sama gue? Yuk, ikut!"


"Mendingan kita olahraga sama-sama biar nggak sakit," lanjutnya.


"Nggak, bisa Len soalnya Syifa mau ke rumah sakit. Lena nggak bisa nemenin Syifa ke rumah sakit nggak?"


"Kapan?"


"Sekarang."


"Sekarang? Yah gue enggak bisa soalnya gue lagi olahraga, nih. Nanggung baru tiga putaran, sih."


"Gue udah cepek banget tapi enggak lama lagi gue bisa langsing, nih."


"Terus Syifa sama siapa, dong ke rumah sakit?"


"Ya sama Mama lu aja!"


"Loh, kok sama Mama, sih? Kan Syifa udah bilang kalau Syifa enggak mau Mama tau rahasia ini."


"Kalau kayak gitu, ya udah terpaksa lu Pergi sendiri aja! Lain kali aja gua temenin lo ke rumah sakit sekalian ketemu sama dokter ganteng itu."


"Tapi-"


"Udah dulu, ya gue mau lanjut lari, nih. Keringat gue masih dikit," potongnya hingga sambungan telpon dari sahabatnya itu terputus membuat Syifa dengan cepat menatap layar ponselnya yang telah menghitam.


Lena telah mematikan sambungan teleponnya. Syifa mendengus kesal. Sekarang harus bersama dengan siapa ia ke rumah sakit? Sendiri? Syifa bahkan tidak suka dengan rumah sakit.


Tuhan, kenapa Engkau memberikan penyakit ini kepada orang yang tidak suka dengan bau rumah sakit?


...🕯️🕯️🕯️...