
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa kini terdiam. Setelah kepergian Lena kini hanya ia yang berada dalam ruangannya. Suasana ruangan rumah sakit di mana ia dirawat menjadi sunyi, keheningan menjadi penenang pada dirinya.
Cukup lama ia terdiam hingga akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ia melepas selang infus yang terpasang pada pergelangan tangannya lalu tanpa pikir panjang ia segera menukar pakaian rawatnya itu dengan pakaian biasa.
Ia memakai sweater dan sengaja menutupi kepalanya yang sudah tidak memiliki rambut lagi dengan bagian penutup kepal, tak lupa juga dengan topi berwarna hitam yang berusaha membantu menyembunyikan kekurangannya yang ia alami itu.
Dengan langkah yang pelan, Syifa berjalan mengendap-endap menuju ke lorong rumah sakit sembari kedua matanya yang terus menatap ke segala arah berusaha memastikan jika tidak ada salah satu perawat yang mengenalinya di sini.
Lalu begitu juga dengan dokter Bryan?
Ia takut jika dokter Bryan sampai melihatnya seperti ini. Tentu saja dokter Bryan akan marah jika melihatnya akan keluar dari rumah sakit terlebih lagi dengan selang infus yang sengaja ia lepas dan meninggalkannya di dalam ruangan rawatnya beserta dengan bantal guling yang sengaja ia letakkan di atas kasur.
Dan batal guling itu ia selimuti agar saat perawat dan dokter Bryan masuk ke dalam ruangannya mereka mengira jika Syifa masih ada di sana.
Betul saja, rasa takut seakan menghantuinya. Nyaris saja jantungnya berhenti untuk berdetak bagai ia disambar petir yang diiringi dengan nafasnya yang langsung berhenti.
Ia begitu sangat terkejut saat melihat sosok dokter Bryan yang sedang berbincang-bincang bersama perawat sembari melangkah dari kejauhan.
Dari sini sini bisa melihat mereka, mereka terlihat sibuk membuat Syifa yang begitu sangat takut ketahuan itu dengan cepat menutup wajahnya berusaha untuk tidak memperlihatkan wajahnya kepada sosok dokter Bryan yang terlihat begitu sangat sibuk.
"Ya Allah, semoga saja dokter Bryan nggak ngelihat Syifa," batinnya berdoa.
Dia benar-benar takut jika dokter Bryan sampai melihatnya di sini. Mau jawab apa nanti dia.
Setibanya saat dokter Bryan telah jauh, Syifa langsung menoleh menatap sosok dokter Bryan yang sepertinya tidak curiga kepadanya dann di saat itu juga Syifa tidak membuang-buang waktu.
Ia segera berlari menuju keluar rumah sakit menggunakan pintu lift yang membawanya turun ke lantai satu. Disaat kakinya telah menginjakkan bagian luar rumah sakit itu kini Syifa merasa sangat lega.
Kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda. Angin yang dibawa oleh tempat yang bebas tidak terpenjara oleh ruangan rumah sakit yang selama ini selalu menemani hari-harinya dengan rasa bosan yang selalu menghantuinya saat ia berada di ruangan rumah sakit.
Saat ini ia seakan terlepas begitu saja saat ia telah berada di luar. Ada begitu banyak orang di sini dan saat itu perasaan Syifa hari ini benar-benar sangat bahagia.
Ia melangkahkan kakinya dengan begitu sangat ceria menuju jalan beraspal rumah sakit yang ada di luar, begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang di sana.
Syifa menghentikan langkahnya di siring jalan. Ia menoleh ke arah kiri dan kanan menatap kendaraan yang berlalu lalang. Tempat dan suasana yang selalu ia lihat dulu tapi begitu sangat dia rindukan selama ia berada di dalam rumah saki.
Hal sederhana yang begitu sangat ia rindukan bahkan rasanya ia sangat rindu untuk berangkat ke sekolah bersama dengan Lena menggunakan motor.
...🕯️🕯️🕯️...
Ting!
Suara lonceng terdengar saat pintu sebuah toko bunga dibuka oleh Syifa. Syifa melangkahkan kakinya menuju masuk ke dalam toko bunga, tempat di mana ia selalu mendatanginya setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah guna untuk membeli setangkai bunga mawar dengan kartu ucapan di sana untuk sang ayah.
Aroma bunga yang berjajar rapi serta bunga-bunga yang telah dirangkai siap untuk dibeli kepada para pemesan dari berbagai orang-orang yang berdatangan dari berbagai arah.
Ada banyak jenis bunga yang ada serta tercium aroma harusnya membuat indra pembaunya terasa begitu sangat menyegarkan. Aroma ini begitu sangat ia rindukan.
Ia melangkah kakinya dengan pelan, menyentuh satu persatu bunga-bunga mawar yang berjajar di depannya dengan senyum yang terukir di sana. Sudah agak lama ia tak datang di sini.
"Selamat siang Mbak! Mau pesan bunga?"
Suara pertanyaan itu terdengar membuat Syifa yang begitu sangat ceria itu menatap jejeran bunga-bunga mawar hingga akhirnya ia menoleh ke arah wanita yang selalu ia ajak bicara saat ia membeli bunga mawar di tokonya.
Saat mendengar ujaran itu membuat wanita pemilik toko bunga terlihat menarik kedua alisnya yang saling bertaut seakan menatap bingung kepada apa yang telah diucapkan oleh Syifa.
"Apa?" tanyanya yang tidak mengerti.
"Iya, Mbak. Saya pesan bunga mawar seperti biasanya," ulangnya lagi.
"Seperti biasa?" tanyanya yang semakin membuat Syifa keheranan.
Wanita memiliki toko bunga itu menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala Syifa yang masih tertutup oleh topi.
"Seperti biasanya? Tapi sepertinya Mbak tidak pernah datang ke toko saya."
"Oh ya?" ujar Syifa yang sedikit gugup.
Kini ia baru ingat jika penampilannya sekarang telah berbeda dan tentu saja wanita pemilik toko bunga itu sudah tidak mengenali Syifa lagi yang selalu datang di setiap pagi.
Apakah perubahan drastis itu benar-benar terlihat di wajahnya sehingga pemilik toko bunga ini bahkan tidak mengalaminya lagi.
"Oh ,mungkin saya salah masuk tokoh Mbak," ujar Syifa yang berbohong.
"Em, saya mau pesan bunga mawar dengan kartu ucapan."
"Kartu ucapan? Boleh, ini silakan ditulis ucapannya di situ!" ujarnya yang menjulurkan sehelai kertas dengan pulpen di sana.
Syifa tersenyum kecil. Ia meraih pulpen itu dengan jemari tangannya yang terlihat kurus saat ia menuliskan beberapa kalimat di sana.
Wanita pemilik toko itu terlihat sibuk menyusun beberapa rangkaian bunga. Biasanya wanita pemilik toko itu selalu bercerita banyak seakan mereka sudah lama dekat tapi sekarang wanita pemilik toko bunga itu hanya terdiam.
Apakah benar jika Syifa sudah terlihat begitu berbeda dari biasanya sampai-sampai memiliki toko bunga itu tidak mengenalinya.
"Sudah selesai?" tanya wanita itu membuat Syifa menjulurkan kartu ucapan ke arah wanita pemilik toko itu membalikkan kertas menatap isi tulisan yang tertera di sana.
Hingga disaat ia membaca isi kartu ucapan itu kening wanita pemilik toko itu mengeryit menatap tulisan Syifa. Tulisan kalimat itu terlihat tidak asing lagi. Sepertinya ia pernah membaca tulisan seperti ini. Kalimat ini biasanya selalu ditulis oleh sosok gadis SMA yang selalu datang di setiap pagi memberikan bunga mawar untuk sosok Ayahnya.
"Satu tangkai bunga mawar dan satu kalimat ucapan," ujar wanita pemilik toko lalu disambut dengan jemari kurus milik Syifa yang meraih bunga itu.
Wajahnya terlihat begitu sangat serius seakan memastikan dan menatap lekat-lekat wajah Syifa memastikan jika wajah yang selalu ia lihat sama dengan wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya.
"Terima kasih Mbak," ujarnya dengan wajah datar lalu tak berselang lama ia berbalik badan membuat kepala wanita pemilik toko bunga itu bergerak menatap ke arah mana Syifa.
Suara itu, suara itu tak asing lagi di telinganya.
"Kamu Syifa?" suara itu terdengar dari belakang membuat Syifa menghentikan langkahnya.
Ia membalikkan badannya dengan benar hingga akhirnya ia tersenyum kecil membuat wanita pemilik toko bunga itu begitu sangat terkejut.
Ya, tentu saja pemilik toko bunga itu pasti tidak menyangka jika wanita bertubuh kurus itu adalah Syifa. Sosok gadis ceria yang selalu datang dan memesan bunga untuk sang Ayah.
Hanya sebuah senyuman yang diberikan oleh Syifa dan setelahnya ia melanjutkan langkah menutup pintu menghasilkan suara lonceng saat pintu tarik oleh Syifa.
Syifa melangkah pergi meninggalkan pemilik toko bunga yang hanya bisa terdiam dengan rasa tak percaya seakan sedang menghantuinya.
...🕯️🕯️🕯️...