
...🕯️🕯️🕯️...
"Lena!" teriak Syifa yang berlari menghampiri Lena yang nampak sedang mengatur tatanan lampu hias yang para karyawan restoran sedang membantu persiapan kejutan ulang tahun untuk Glen.
Dari sini Syifa bisa melihat jika ruangan balkon paling atas itu telah disulap begitu sangat cantik. Ada sebuah meja bundar, karpet panjang berwarna merah yang di setiap sisinya dihiasi dengan sebuah lampu panjang yang membentang seakan mengiringi setiap langkah ketika Syifa masuk dari pintu.
"Lu, kok baru datang, sih?"
"Sorry telat banget soalnya Syifa lambat bangun."
"Kok bisa lambat bangun? Lo begadang lagi, ya?"
"Enggak, sih. Syifa nggak begadang cuman gak sabar aja mau lihat ekspresi Glen jadinya ke bawah mimpi, deh."
Lena menggelengkan kepalanya, ada-ada saja si Syifa ini.
"Oh, tenang aja mimpi lo itu akan jadi kenyataan."
"Yang bener?"
"Iya Syifa."
"Di mimpi Glen itu seneng banget Syifa kasih kejutan."
"Oh ya? Terus gue gimana? Gue masuk enggak ke mimpi lo?"
"Ya enggak."
Wajah Lena yang tersenyum itu kini menjadi mengecut. Ia pikir dirinya ada di dalam mimpi Syifa rupanya tidak.
"Ya udah, sih enggak apa-apa yang penting lo itu jadi bahagia."
"Beneran, Syifa jadi bahagia banget. Oh iya ini udah jadi, ya?"
"Belum lah. Nih, di sini!" tunjuknya pada sebuah pagar yang masih dihiasi dengan lampu-lampu.
"Di sini itu bakalan gue tambahin lampu-lampu lagi biar makin cantik. Apalagi kalau malam itu gue bakalan sengaja matiin lampu biar penampilannya lebih cantik."
"Lampu-lampunya bakalan nyala ditambah lagi sama cahaya kendaraan-kendaraan dan bangunan-bangunan tinggi yang ada di luar sana jadi penampilannya itu bakal indah banget."
"Nggak kebayang, deh gimana rasanya makan romantis di acara ulang tahun Glen dengan pemandangan yang indah kayak gini. Aduh, gue nggak sabar banget," jelasnya membuat Syifa hanya bisa tersenyum-senyum kecil.
Sejujurnya ia juga tak sabar rasanya bisa memberikan kejutan itu kepada Glen, ini tentu saja tidak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya.
"Kalau makanannya gimana?"
"Tenang aja! Itu biar gue yang atur. Yuk kita ke salon kecantikan!"
"Salon?"
"Iya, ayo cepetan!" tariknya membuat Syifa mau tidak mau hanya bisa mengikut saja.
...🕯️🕯️🕯️...
Motor yang Syifa lajukan kini berhenti tepat di hadapan salon kecantikan. Seumur hidupnya Syifa tidak pernah datang ke tempat ini dan ini semua hanyalah kemauan dari Lena.
"Ya iyalah, rambut lo itu harus dirapiin! Kuku lo mau dirapiin juga biar makin cantik," jelasnya.
Kini Syifa hanya bisa terdiam dengan wajah yang begitu datar. Ia pikir datang ke salon tidak ada dalam rencana kejutan ulang tahun untuk Glen.
"Syifa!" panggilnya.
Syifa melepaskan helmnya lalu menoleh menatap Lena yang sudah beranjak pergi.
"Ayolah!"
"Tungguin!" teriaknya lalu ikut berlari menyusul kepergian Lena.
"Selamat siang dan selamat datang di salon kecantikan," sambut karyawan salon begitu ramah.
"Mbak, tolong ya teman saya ini mau dilulur dulu! Terus rambutnya tolong dirapiin juga! Kukunya juga biar makin cantik," jelas Lena yang menyentuh kedua pundak Syifa.
"Siap, dek. Ayo, dek!"
Kedua mata Syifa melotot, ini di luar dari rencananya.
"Buat apaan lulur segala?" bisik Syifa takut.
"Udah nggak apa-apa biar makin cantik. Cepetan!" basiknya seakan mengancam.
"Yang bayar siapa?"
"Gue yang bener."
"Yang bener?"
"Iya, cepetan!" suruhnya lagi dengan kedua matanya yang melotot tajam.
Mau tidak mau, terpaksa maupun tidak Syifa harus menurut lagi pula ia tidak ingin mengecewakan Lena yang sudah menyiapkan semua ini. Lagi pula ini semua demi kebaikannya Syifa. Terpaksa Syifa hanya bisa menurut membiarkan karyawan salon kecantikan itu membalurkan tubuhnya dengan lulur.
Rasanya sangat menenangkan. Baru kali ini ia melakukan itu.
"Gimana? Enak, kan?"
Syifa yang sejak tadi tersenyum itu kini melirik menatap Lena yang juga terbaring di sampingnya, sama dengannya yang sedang dilulur oleh wanita yang merupakan karyawan kecantikan itu.
...🕯️🕯️🕯️...
"Nah, sesudah ini rambut kita bakalan cantik," ujar Lena membuat Syifa yang duduk di hadapan cermin serta kepalanya yang sedang dibungkus dengan handuk setelah dicuci dengan obat-obatan.
"Emang harus, ya?" bisiknya takut, lebih tepatnya ia takut membuat Lena marah.
"Ya iya lah."
Kali ini Syifa harus bisa menurut saja. Katanya demi penampilannya malam ini. Rasanya Syifa menjadi lebih feminim sekarang.
Apakah ini terlalu berlebihan? Entahlah lagi pula ia tidak ingin membuat kejutan dengan sebuah tempat yang indah melainkan juga ia harus indah di hadapan Glen.
...🕯️🕯️🕯️...