
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa berdiri di hadapan cermin sambil menatap wajahnya yang terlihat pucat bahkan bibirnya kini terlihat pecah-pecah. Terasa kering di mulut. Nafasnya juga kadang terasa sesak seakan ada yang membebani dadanya dan menyulitkannya untuk bernafas.
Ia menatap wajahnya dengan seksama menelusuri setiap inci bagian tubuhnya yang masih terpampang di permukaan cermin. Entah bagaimana lagi suasana hati yang bisa ia gambarkan.
Kali ini di dalam kesenian ia seakan meratapi nasib buruk. Suasana sunyi seakan membawanya pergi dari sebuah kebahagiaan.
Air mata yang mengalir membasahi pipinya membuatnya dengan cepat ia mengusap pipi itu berusaha untuk tetap tersenyum hingga akhirnya ia kembali duduk di atas brangkar.
Drtttt
Suara nada panggilan ponsel berbunyi. Tanda panggilan masuk membuat Syifa dengan cepat menatapnya. Nama Mamanya tertera di sana dan dengan sigap Syifa cepat-cepat meraih beberapa pakaian yang ada di dalam lemari lalu mengganti pakaian pasien yang ia gunakan itu dengan pakaian biasa ala anak-anak yang sedang menikmati suasana camping.
Syifa memakai topi bundarnya dan berlarian kecil menuju jendela besar di mana ada taman di bawah sana. Setelahnya ia menatap wajahnya sekilas pada cermin berusaha memastikan jika ia tidak terlihat pucat.
Ia bahkan sengaja menggunakan lipstik agar wajahnya jauh lebih segar.
"Hai Ma!" sapanya yang tersenyum menatap sosok Mamanya yang berada di layar ponselnya.
"Syifa, gimana campingnya di sana? Nggak kerasa, ya udah satu minggu lebih kamu campingnya. Masih lama nggak di sana?"
"Masih lama, Ma. Mungkin 3 atau beberapa minggu lagi."
"Oh gitu, ya. Ya udah, deh selama di sana kamu jaga diri ya baik-baik di sana. Jangan lupa nggak lama lagi kamu ulang tahun."
"Iya Ma," jawab Syifa yang berusaha untuk tetap tersenyum.
"Di sana campingnya kamu belajar apa?"
"Ada banyak," jawabnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Oh, ya?"
"Di sini Syifa juga senang. Kita belajar banyak. Oh iya terus Lena di mana?"
Seketika nafas Syifa seakan tertahan di dadanya. Ia tak tau harus mengatakan apa.
"Syifa juga nggak tau, katanya dia mau cari air buat masak mie tapi enggak tau sekarang kayaknya belum balik, deh," ujarnya memberikan alasan.
"Oh gitu, ya udah, deh."
"Udah dulu ya Ma. Syifa kayaknya dipanggil sama guru, deh."
"Oh gitu, ya udah jaga diri baik-baik, ya Syifa."
"Iya, Ma," jawabnya hingga sambungan video call itu terputus memperlihatkan sosok wajah Syifa yang kini jadi mendatar, tak ada lagi senyum yang mengembang di pipinya.
Baik-baik saja, apakah itu sebuah kalimat doa atau sebuah harapan? Syifa ingin baik-baik saja, tetapi sepertinya ia sedang tidak baik-baik saja hingga tak berselang lama sambungan video call dari Rahmi terputus digantikan dengan suara deringan dengan nama Glen di sana.
Syifa tersenyum bahagia. Beberapa hari Glen tidak menghubunginya Karena sibuk dan kini akhirnya nama Glen tertera di sana.
Tak menunggu waktu lama dan membuang-buang banyak waktu Syifa segera mengangkatnya memperlihatkan sosok Glen yang terlihat memakai kaos latihan sedang duduk di sebuah bangku panjang tempat para penonton bola basket
"Hai Glen!" sapa Syifa yang melambaikan jemari tangannya.
"Hai, Syifa! Gimana hari ini? Nenek kamu baik aja, kan?"
"Nenek baik-baik aja, kok."
"Oh iya terus Nenek kamu di mana?"
"Emang bisa?"
"Bisa, sih cuman kayaknya nenek Syifa lagi istirahat, deh."
"Oh gitu. Iya kamu kayaknya agak beda, ya."
"Beda? Beda apanya?"
"Iya beda. Berat badan kamu agak turun, ya? Kamu kayaknya agak kurusan.
Mendengar hal itu membuat Syifa hanya tertawa walau sebenernya ia menyimpan rasa kegugupan takut jika Glenn sampai mengetahui sebenarnya dan merasa curiga pada dirinya.
"Kamu baik-baik aja, kan? Kamu nggak sakit, kan Syif?"
Syifa tersenyum lalu ia mengganggukan kepalanya memperlihatkan bahwa ia sedang baik-baik saja.
"Terus kenapa? Kok kayaknya kamu kayak sakit gitu?"
"Sakit apaan, sih? Siapa yang sakit? Syifa nggak apa-apa. Mungkin itu perasaan Glen aja. Nih, Syifa baik-baik aja, kok tuh sekarang Syifa bahkan udah lari pagi," jelasnya sembari mengangkat dan memperlihatkan otot tubuhnya yang tidak ada pada lengan tangannya itu membuat Glen tertawa.
Kali ini ia melewati masa-masa indah bersama. Saling bertukar kisah menceritakan hal-hal yang begitu sangat membahagiakan.
Ada senyum dan tawa yang Syifa perlihatkan pada Glen agar sosok Glen tidak mengetahui bagaimana perasaannya sekarang.
Ya Syifa yang terbelenggu dalam sebuah rasa yang ambigu tak bisa diutarakan dengan sebuah kata-kata. Ia ingin memberitahukan semuanya tapi tak ingin membuat orang-orang merasa khawatir dengannya.
Tapi apakah ada yang merasa khawatir jika ia memberitahukan hal ini kepada semua orang? Apakah ada?
Ya, semuanya masih menjadi misteri. Tak tau harus bagaimana lagi caranya mengatakan hal tersebut. Hati tersimpan untuk seseorang, tetapi hati yang sedang sakit tak mungkin dapat terus bersama dengan orang-orang yang memiliki hati yang sehat.
Senyuman tak pernah luntur dari bibirnya saat Syifa terus menceritakan bagaimana ia merawat sang Nenek tanpa ada Rahmi dan juga pak Jaya.
Yah, lagi dan lagi ini merupakan sebuah kebohongan yang harus ia utarakan kepada Glen. Tak tau dan entah mengapa sekarang juga ia merasa jika sudah pandai dalam berbohong walau sebenarnya sangat sukar.
Jujur saja ada rasa bersalah yang berselimut di dalam hatinya. Tak tega membohongi semua orang yang begitu sangat peduli dengannya. Tapi harus apalagi, ia tak bisa mengatakan semuanya dan memilih untuk menutupinya menguncinya rapat-rapat agar tak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Syifa menutup ponselnya itu setelah percakapan mereka telah berakhir. Syifa meletakkan ponselnya di atas laci meja besi miliknya lalu ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Perasaan yang begitu sangat bahagia, tetapi lagi dan lagi air mata itu tak bisa menutupi kesedihannya sampai kapan kebahagiaan ini akan berakhir
Mbok Jati pernah mengatakan jika kesedihan pasti akan berakhir dan sebuah kebahagiaan pasti akan datang lalu apa itu berarti kebahagiaan juga akan berakhir dengan kesedihan.
Syifa memejamkan matanya dengan erat sambil memanjatkan beberapa doa-doa kepada Tuhan memohon agar diberikan kesehatan.
Syifa sangat ingin sembuh tak ingin jika ia terbelenggu dan menyusahkan beberapa orang. Sampai kapan ia akan berbohong?
Syifa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan berusaha tenang dan tersenyum.
Dengan pelan ianmembaringkan tubuhnya di bantal yang terasa empuk. Matanya memandangi pemandangan di luar sana, sebuah taman dengan langit yang biru terlihat sangat menyenangkan.
"Tuhan! Entah kesekian kalinya dan entah yang ke berapa kalinya aku memanjatkan doa dan meminta kesembuhan.
"Sembuhkan Syifa! Syifa ingin sembuh. Syifa ingin membahagiakan semua orang.Tapi jika ini adalah kematian Syifa melalui penyakit ini yang membuat Syifa akan pergi meninggalkan dunia, maka tolong berikan Syifa kesempatan untuk membahagiakan semua orang di detik-detik terakhir menjelang kematian."
Setelah pikiran itu melayani pikirannya, kedua mata Syifa akhirnya terpejam dengan sebuah senyum yang terukirnya walau air mata mengalir membasahi permukaan bantal dengan sebuah satu harapan ia bisa bangun dalam keadaan sembuh.
...🕯️🕯️🕯️...