
Apa mungkin benar jika perubahan Syifa seperti ini karena kepalanya telah dihempas oleh sahabat dari Kinara kemarin?
Membingungkan.
...🕯️🕯️🕯️...
Lena menarik kursi dan duduk di samping Syifa. Ia merendahkan sedikit kepalanya agar bisa menatap leluasa pada wajah Syifa yang terus tersenyum itu. Syifa yang sejak tadi terdiam dengan pelan menggerakkan kedua matanya menatap sosok Lena yang masih setia menatapnya dengan pandangan begitu sangat serius bahkan sedikit menakutkan.
Ia persis seperti mengintai. Menatap penuh teliti seakan Lena adalah sosok singa yang ingin menerkam mangsanya.
"Lena kenapa, sih ngeliatin Syifa kayak gitu?"
"Seharusnya gue yang nanya. Lu, tuh kenapa, sih?" tanyanya yang malah bertanya balik.
"Gue bingung sama lo."
"Bingung?"
"Iya. Gue bingung. Kayaknya lu berubah,deh."
Mendengar hal itu membuat Syifa kembali tersenyum.
"Tuh, lu malah senyum lagi. Lo nyengir kayak orang gila tau enggak." Kesalnya sambil menunjuk ke arah Syifa.
"Udahlah namanya juga perubahan."
Suara langkah terdengar membuat Syifa dan Lena yang sejak tadi berpandangan mata kini menatap ke arah pintu dimana sosok Glen yang terlihat melangkah ke arahnya dengan pelan mendekati Syifa yang senyumnya perlahan lenyap dari bibirnya.
Apakah diaaat ini juga ia harus berusaha untuk tersenyum kepada sosok Glen. Rasanya ia ingin tersenyum tapi rasa sakit di hatinya itu seakan tidak bisa lagi tertahankan.
Tapi sampai kapan ia akan bersikap benci seperti ini kepada Glen. Ia tak selamanya membuat Glen sedih dengan sikapnya. Glen berjalan dan mempercepat langkahnya.
Ia duduk di kursi saat Lena memilih untuk beranjak dari tempat duduknya. Mempersilahkan Glen duduk di sana.
Glen menyentuh punggung tangan jemari Syifa dengan pandangannya yang sangat tulus.
"Gue minta maaf sama lo. Lo mau, kan maafin gue?"
Syifa terdiam. Ia tersenyum dan ikut menggenggam jemari tangan Glen.
"Iya Syifa maafin kok. Glen enggak usah minta maaf lagi sama Syifa. Syifa tau, kok kalau acara makan malam dan perayaan hari ulang tahun itu bukan hanya melibatkan Kinara tapi kedua orang tua Glen juga."
"Syafa tau kalau kedua orang tua sangat penting dalam sebuah perayaan ulang tahun dan Glen harusnya bersyukur karena bisa merayakan hari ulang tahun bersama dengan kedua orangtua Glen."
"Kalau Glen bahagia Syifa juga akan bahagia. Udah, ya kalau begitu Syifa mau pergi kantin dulu," pamitnya lalu bangkit dan melangkahkan kakinya dengan ceria keluar kelas meninggalkan Glen yang melongok.
Ia menatap kebingungan kepergian Syifa lalu dengan cepat ia menoleh menatap ke arah sosok Lena yang juga terdiam.
Glen bangkit dari kursinya.
"Apa yang baru aja Syifa omongin?"
Glen terdiam dalam pikirannya. Apakah Syifa benar-benar telah mengatakan kalimat itu atau ia yang hanya salah dengar.
"S-yifa! Sy-ifa kenapa?" tanya Glen yang tidak mengerti sementara Lena hanya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja merasa gatal.
"Kayaknya pacar lo itu udah gila," jawab Lena lalu berlari pergi menyusul kepergian Syifa meninggalkan Glen sendiri yang masih memasang wajah bingung tak mengerti.
Mengapa Syifa bisa berubah seperti ini padahal kemarin ia begitu marah besar ditambah lagi saat Glen lebih memilih untuk menjenguk Kinara di ruang UKS daripada menjenguk Syifa.
Glen harusnya bisa bersyukur karena masih bisa dimaafkan oleh Syifa tapi apakah ini tidak terlalu cepat untuk Syifa melupakan masalah yang telah terjadi.
Karena jujur saja ini bukanlah sifat asli dari Syifa yang bisa melupakan dan memaafkan semua kesalahannya begitu sangat cepat bahkan dulu biasanya kesalahan-kesalahan kecilnya yang telah dulu Syifa maafkan malah diungkit kembali dan semakin memperumi pertengkaran tapi sekarang entah mengapa Syifa malah berubah. Berubah begitu sangat drastis.
...🕯️🕯️🕯️...
"Kita mau pesan apa, ya?" tanya Syifa yang kini telah duduk di bangku kantin.
Ia menatap ke arah menu yang ada di meja. Menggerakkan jari telunjuknya yang menunjuk menu-menu yang tertera di lembar buku menu makanan.
"Lena mau pesan apa?" tanya Syifa yang kini menatap ke arah Lena yang masih terdiam di sana.
"Terserah," jawab Lena yang kedua matanya yang masih menatap serius ke arah Syifa.
"Yang bener, dong, Lena. Masa mau makan makanan terserah. Emang ada di sini makanan yang namanya terserah."
"Terserah. Makanan yang lo pesan, gue juga pesan," putusnya sambil menopang dagu menatap wajah Syifa dengan seksama bahkan bibir gadis itu tak pernah berhenti untuk terangkat dan memberikan senyum di sana. Entah apa masalah gadis ini.
"Tunggu di sini, ya! Syifa mau pesan bakso. Sekalian juga Syifa mau traktir Lena."
Syifa melangkah meninggalkan Lena yang dengan spontan menoleh menatap kepergian Syifa untuk memesan bakso sesuai apa yang ia katakan tadi. Entah mengapa sahabatnya itu hari ini semakin baik saja.
Beberapa menit kemudian keduanya kini sibuk dengan semangkok bakso yang telah mereka pesan. Menyantapnya sambil sesekali memainkan ponselnya.
Bruak
Suara keras terdengar diiringi dengan mangkok-mangkok yang berada di atas meja yang sedikit terangkat bahkan kuah-kuah yang ada dalam mangkok itu terguncang mendapatkan getaran dari sang pelaku. Botol-botol perasa seperti kecap dan Lombok serta cuka berdentingan saat pukulan mendarat di permukaan meja.
Sontak Lena dan Syifa mendongak menatap ke arah Kinara yang telah menjadi ulah dari keributan kecil itu.
"Setelah kemarin lu mukul gue masih bisa-bisanya lo makan bakso di sini," ujarnya.
"Eh, lo jangan-"
"Gue nggak ngomong sama lo, ya! Lo jangan ikut campur!" tunjuk Kinara pada saat Lena yang hendak bicara namun, ia mengurungkan niatnya untuk membalas ujaran Kinara.
"Gue nggak mau ngomong sama lo tapi gue mau ngomong sama Syifa."
Syifa meneguk beberapa teguk air dingin lalu meletakkan gelas itu ke atas meja.
"Mau bicara apa?" tanya Syifa sambil tersenyum membuat sudut bibir Kinara terangkat. Apakah gadis ini sedang menantangnya?"
"Gue mau kita berantem lagi!"
kedua alis Lena saling bertaut . Ia menatap tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kinara barusan.
"Lu gila-"
"Heh, gue nggak ngomong sama lo, ya!" tunjuk Kinara pada Lena kembali.
Lena bangkit dari kursinya. Ia tak terima dengan apa yang telah dikatakan oleh Kinara. Apakah ia tidak merasa bersalah setelah perkelahian kemarin.
"Lu nggak usah banyak bacot, ya. Lagian lu kenapa, sih selalu cari masalah mulu? Kalau nggak punya kegiatan kerjaan yang lain aja!" oceh Lena tak terima.
"Eh, gue nggak ngomong sama lu, ya jadi lu nggak usah ikut campur!" tunjuk Kinara mengingatkan.
Suara gesekan kursi terdengar membuat ocehan Lena dan Kinara terhenti menoleh menatap kearah Syifa yang bangkit dari kursinya. Lena menunggu salivanya. Apakah kali ini Syifa akan berkelahi lagi dengan Kinara?
Syifa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan dan kemudian ia menjulurkan jemari tangannya itu ke arah Kinara.
"Minta maaf. Syifa minta maaf sama Kinara," ujar Syifa membuat Kinara terbelalak kaget begitu pula dengan Lena yang melongok tidak menyangka.
Apakah ia tidak salah dengar? Syifa malah meminta maaf?
"Lu nggak sosok baik."
"Syifa nggak sok baik."
"Oh, ya lo pikir gue nggak tau. Lo minta maaf karena lo itu mau sok baik di hadapan gue. Iya, kan?"
"Nggak Syifa nggak sok baik, kok. Syifa beneran minta maaf atas kejadian perkelahian kemarin. Kita lupain semua masalahnya. Syifa minta maaf," ujarnya lalu menggerakkan jemari tangannya berharap Kinara ingin berjabat tangan dengan dirinya.
"Gue nggak sudi pegang tangan lo," kesalnya yang malah menopang pinggang membuat Syifa tersenyum kecil lalu kembali menurunkan jemari tangannya.
Tak berselang lama ia mengeluarkan beberapa bungkus coklat dari sakunya membuat kedua mata Lena mengerjap beberapa kali seakan tidak menyangka dengan apa yang telah dibawa oleh sahabatnya itu.
"Ini coklat, tanda maaf Syifa untuk Kinara dan kedua sahabat Kinara."
Oh, Tuhan. Sepertinya Syifa ini memang sedang sakit. Mengapa ia melakukan hal manis untuk Kinara yang jelas-jelas telah memberikan masalah untuk dirinya selama ini.
"Ayo ambil! Ini untuk kalian bertiga. Anggap saja sebagai ucapan maaf dari Syifa," jelasnya lagi.
Kinara menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan jalan pikiran Syifa. Bukan malah marah tetapi ia malah memberikan beberapa bungkusan coklat kepadanya.
"Gila lo," umpanya lalu melangkah pergi bersama dengan kedua sahabatnya itu membuat Syifa tersenyum.
Ia kembali duduk dan sibuk memakan bakso yang masih banyak itu dengan begitu santai seakan tidak terjadi apa-apa.
Lena mendudukkan tubuhnya dengan perlahan. Pandangannya sangat serius menatap sosok Syifa yang masih bergelut dengan semangka baksonya.
Kunyahan Syifa terhenti saat Lena menyentuh keningnya.
"Kenapa?"
"Lo sakit, ya?"
"Sakit?" tanyanya lalu ikut menyentuh kening dan lehernya.
"Enggak. Syifa nggak sakit."
"Terus lo kenapa bisa berubah kayak gini?"
"Berubah? Syifa nggak berubah. Syifa hanya ingin menjadi orang baik."
Mendengar hal itu membuat Lena tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya seakan tidak menyangka dengan jawaban itu hingga tak berselang lama suara tawanya terhenti.
Kedua iris matanya bergerak pelan menatap sosok Syifa setelah ia mendapatkan sebuah pemikiran terlintas di pikirannya.
"Apa jangan-jangan kanker otak itu bisa merubah sikap seseorang?"
Sontak kedua mata Syifa membulat.
"Hust!" tegurnya dengan cepat meletakkan jemari telunjuknya di depan bibir berusaha memberi kode agar Lena tidak banyak bicara.
"Jangan berisik! Jangan sampai semua orang tau! Syifa enggak mau kalau ada yang tau. Cukup Syifa, dokter Bryan dan Lena yang tau," bisiknya takut ada yang sampai mendengarnya.
"Tapi apa yang buat lo jadi berubah kayak gini karena penyakit?"
"Enggak," jawab Syifa singkat lalu kembali menyeruput kuah baksonya.
...🕯️🕯️🕯️...