
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa menarik kain gorden untuk menatap pemandangan yang ada di luar jendela kamarnya. Suasana pagi yang cerah seakan menyambut pagi Syifa yang begitu sangat ceria.
Senyumnya mengembang tak terkira menggambarkan bagaimana kondisi hatinya sekarang ini. Beberapa undangan telah ia masukkan ke dalam tas. Niatnya saat di sekolah ia akan membagi-bagikannya kepada teman-teman agar mereka semua datang disaat pernikahan Mamanya.
Rasanya tak lengkap jika pernikahan tidak melibatkan teman-temannya. Syifa juga ingin melihat semuanya bergembira dalam kebahagiaan Mamanya. Datang berbondong-bondong dan memberikan selamat untuk sang Mama. Hal kecil dalam sebuah kebahagiaan.
Seperti biasa pagi ini Syifa akan datang untuk menemui pengemis wanita tua buta itu. Memberikannya bekal berisi roti dengan selai nanas lalu meraih bekal kosong yang isinya telah dimakan oleh wanita pengemis itu.
Rasanya sangat bahagia sekali saat bekal kosong yang digantikan dengan bekal dengan isian penuh. Syifat berharap bisa melakukannya setiap hari menjadikan sosok orang yang begitu sangat berguna bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.
Sangat sederhana sekali tapi kebahagiaannya begitu sangat luar biasa. Rasanya Syifa menjadi dibutuhkan walaupun sejujurnya begitu sangat kurang orang yang menginginkan kehadirannya seperti juga sang Ayah.
Berhari-hari ini ia memberikan setangkai bunga mawar untuk Ayah tapi tak pernah sekalipun sang Ayah membalas pesan-pesan yang ia kirimkan setiap harinya hanya sekedar menanyakan kabar tanpa Syifa pernah memberitahu jika yang memberi bunga mawar itu adalah dirinya.
Sebenarnya Syifa tak perlu untuk bersusah payah memberitahu sang Ayah jika yang memberikan bunga mawar itu adalah dirinya. Karena jika Ayahnya peka mungkin Ayahnya akan tahu tanpa diberitahu.
Kini setangkai bunga mawar itu telah berada di atas moncong mobil sang Ayah. Syifa terdiam beberapa saat menatap ke arah pintu berharap sang Ayah muncul di sana dan melihat dirinya tapi timbul rasa gejolak hati yang melarang.
Dia tidak ingin jika Ayahnya mengetahui jika dia memberikan bunga itu adalah dirinya, tetapi Syifa rasanya tetap ingin memberikan inisial kepada sang Ayah lewat kalimat dalam kartu ucapan yang diberikan kalimatnya.
Kalimat yang tetap sama yaitu selamat pagi Ayah jangan lupa bahagia. Kalimat sederhana yang bahkan Farhan sampai menghafalnya.
Syifa yang hendak melajukan motornya itu untuk segera pergi dari kompleks perumahan Ayahnya tertahan langkahnya saat suara pintu terbuka membuat ia dengan cepat bersembunyi dan mengintip di balik pagar besi hingga dari sini ia bisa melihat sosok sang Ayah yang nampak mengangkat bunga mawar dari atas moncong mobilnya.
Farhan menatapnya dengan sebuah senyuman kecil. Ya, hanya sebuah senyuman kecil yang tergambar di wajahnya tapi kebahagiaan yang Syifa dapatkan begitu sangat sungguh luar biasa.
Kebahagiaan sang anak yang kini tak mendapatkan senyum dari Ayahnya lagi walaupun seperti ini tapi tetap saja kebahagiaan tak bisa disembunyikan oleh Syifa.
Kini sepanjang perjalanan Syifat terus tersenyum hingga tiba di depan rumah Lena di mana sosok Lena kini sedang duduk di siring jalan.
"Lama banget, sih?" tanya Lena yang kemudian bangkit.
"Sorry. Hari ini Syifa lagi sibuk."
"Sibuk lagi sibuk lagi."
"Iya, oh iya nanti setelah sampai di sekolah Lena bantu Syifa ya!"
"Bantu apa?"
"Bantu buat sebar undangan ini," ujarnya kegirangan sambil mengeluarkan sebuah undangan dari tasnya yang telah ia siapkan sebelum ia berangkat ke sekolah.
"Wah, undangan warna hitam. Keren banget," kagum Lena yang dengan cepat meraih undangan yang dijulurkan oleh Syifa.
"Iya, dong. Itu pilihan Syifa sama Ayah."
Senyum Lena yang tertuju pada undangan itu lenyap seketika.
"Ayah?" kagetnya yang dengan cepat menatap ke arah Syifa.
"Ayah maksudnya pak Jaya," ujarnya membenarkan membuat Lena tersenyum kecil.
Sejujurnya ia tak menyangka jika sahabatnya itu telah menerima pak Jaya dengan memberikan nama panggilan Ayah pada pak Jaya padahal Lena sangat tahu bagaimana bencinya Syifa pada pria yang mencintai Mamanya itu.
"Cie, ada nama gue juga," goda Lena sambil menujuk namanya.
"Tulisan nama di bagian undangan itu spesial buat Lena."
"Kalau undangan yang lain?"
"Enggak ada namanya."
"Emang harus kalau nama gue ada di undangan. Kalau nama gue nggak ada di undangan gue bakalan ngambek dan nggak bakalan mau datang."
"Ih apaan, sih? Masa ngambek-ngambek aja. Udah, ah cepetan nanti kita telat!" ajak Syifa membuat Lena yang tersenyum bahagia itu segera menaiki motor hingga tak berselang lama motor itu melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan beraspal menuju sekolah.
...🕯️🕯️🕯️...
Suara keributan terdengar ricuh saat pembagian undangan namun, tak membuat Syifat sedikit kesal dengan ujaran teman-temannya yang berkomentar jika undangan tidak disertai dengan nama sementara Lena dengan bangganya mengangkat undangan tinggi-tinggi memperlihatkan namanya yang tertera di sana.
"Udah! Udah! Udah! Nggak usah komentar! Nanti biar gue yang tulis nama lo semua di undangan kalau gue yang nikah," canda Lena yang kini berdiri di atas kursi membuat seisi kelas bersorak.
Sementara Syifa hanya tersenyum kecil hingga tak berselang lama Syifa yang tersenyum itu langsung menatap pada sosok pria yang berdiri di pintu masuk.
Sepertinya pria itu juga sedang mencarinya hingga tatapannya langsung berpusat kepada Syifa.
Kini Syifa dan Glen sudah berada di sebuah taman belakang sekolah. Tepatnya mereka sedang duduk di sebuah kursi panjang.
Rasanya setelah mereka berbaikan ada rasa sebuah kecanggungan hingga mereka nampak terlihat diam.
"Ini undangan dari Mama buat Glen," ujar Syifa yang menjulurkan sebuah undangan dengan nama Glen di sana.
"Glen datang, ya! Soalnya ini Mama yang suruh."
Tanpa bicara Glen meraih undangan itu lalu menganggukkan kepalanya sejenak.
"Iya pasti gue kalian datang."
"Oh iya, nanti Glen ajak Kinara juga, ya !"
Sontak kedua mata Glen yang sejak tadi menatap ke arah undangan dibuat terkejutnya. Kedua matanya membulat lalu melirik menatap Syifa yang tertunduk.
"Lo masih marah?"
"Nggak. Syifa nggak marah. Kenapa harus marah, bukannya semuanya sudah selesai? Masalahnya, kan sudah selesai."
"Tapi kenapa harus bahas Kinara lagi?"
"Enggak. Syifa enggak marah."
"Terus kenapa bahas Kinara?"
"Syifa tahu. Maksud Syifa ajak Kinara juga, ya biar Syifa bisa dekat juga sama Kinara. Apalagi Kinara itu, kan sepupunya Glen jadi Syifa mau kalau Glen aja Kinara juga," jelasnya.
"Oh," jawab Glen singkat lalu tertunduk ia pikir Syifa yang mengajak Kinara hanya untuk menyinggungnya namun, rupanya Syifat tidak bermaksud seperti itu.
...🕯️🕯️🕯️...